Pemuda– Golput Versus Arah Baru Indonesia?


Pemuda– Golput Versus Arah Baru Indonesia?
Sarni S. Walanda, SS
(Ketua Umum KAMMI Kota Ternate Periode 2010-2012







“Ah, semua partai sama saja. Para caleg itu, tak bisa dipegang omongannya, sekarang aja banyak janji ini, janji itu, toh kalau sudah jadi, lupa semuanya. Saya nanti pilih, kalau dikasih uang. Siapa yang datang duluan, dia yang saya pilih. Kalau tidak, yah tidak pilih… lagian bingung, tidak kenal para calegnya”





Sebuah pernyataan singkat dilontarkan seorang rekan di sela-sela diskusi waktu istirahat kerja. Lugas, penuh keyakinan dan semangat dalam menanggapi untaian – untaian pendapat saya tentang Pemilu. Benarlah kata beberapa tokoh terkenal negeri ini. Bahwasannya Masyarakat Indonesia sudah semakin cakap dan cerdas sekarang. Tapi juga ada yang justru jadi pragmatis karena suasana bangsa yang semakin lentur dari budaya leluhurnya. Betapa tidak, dinamisasi kehidupan berbangsa bernegara selalu pasang surut. Pertumbuhan sekaligus dentuman tantangan kian rajin menghampiri. Entah dari hulu hingga ke hilir, dari hilir ke hulu. Hampir setiap hari kita disuguhi pemberitaan perihal seribu satu kasus hukum dan kriminal yang kerap dilakoni para pemilik “bijak”, pencipta kebijakan, para pelaksana dan pengesahnya. Seolah negeri ini milik mereka, dan rakyat adalah penonton yang harus mendengar dan melihat hasil karya “busuk” nya.

Di ruang lain, potret paradoksal pun kian menjamur, maraknya bayi penderita gizi buruk, pencurian, penjambretan, tawuran, penipuan hingga ke kisruh pemilihan kepala daerah yang pelaku sekaligus korbannya adalah rakyat biasa (grass root). Yang jika dirangkum sebab musabab kejahatan liar yang semakin merongrong rakyat biasa adalah karena kemiskinan, minim kesejahteraan, kering kerontangnya keimanan dan ringkihnya komitmen hidup bersaudara (Bhineka Tunggal Ika). Benarlah kata sang Nabi SAW, kefakiran sangat dekat kepada kekufuran. Astagfirullahhal adzim.

Terlepas dari segala fenomena yang eksis di Negeri ini, apa pun itu masalah kita bersama. Bukan para regulator, legislator dan yudikator semata yang berhak dan wajib mengenyahkan drama ini. Ini tugas bersama warga Indonesia demi menyelamatkan generasi yang akan datang, masa depan bangsa, agar terlahir kembali peradaban Indonesia yang bermartabat. Punya nilai diri dan harga diri yang takkan mampu dibeli oleh siapapun kecuali Tuhan. Generasi yang bermartabat.

Siapakah generasi yang akan datang itu?, Semua kita sudah pasti tahu. Mereka adalah para pemuda yang tumbuh berkembang di seantero penjuru raya, dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Nias sampai pulau Rote. Pemuda Menurut UU RI No. 40 Tahun 2009/UU Kepemudaan, Pasal 1, menjelaskan bahwa Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.

Pemuda adalah entitas mayoritas dari entitas lainnya. Sebagian pakar menyatakan, kurang lebih 60 persen penduduk negeri ini adalah pemuda. Mereka yang sekarang tengah bergumul dengan berbagai mata pelajaran di bangku SMA – Kampus– Dunia kerja – SDM Produktif. Pemuda selalu diidentikan dengan penggerak, pendobrak, pembaharu, pelaku sebuah perubahan, demi lahirnya sebuah peradaban.

Meski demikian pemuda Indonesia, pada kenyataannya pun tergolong ke beberapa ragam varian. Tergolong ke beberapa karakter berbeda, yang memiliki paradigma berpikir tak sama hingga terwujud ke medan kontribusi yang penuh warna tapi punya satu visi yang sama, membangun Indonesia dengan model dan selera yang sesuai dengan tuntutan era. Era yang berbeda dengan era sebelumnya. Era baru.

Menyongsong era baru Indonesia, Tahun ini merupakan momentum sejarah, di mana pemuda diberikan peluang dan diharapkan sokongan yang kental dengan jiwa patriotisme yang kuat mengambil peran sesuai posisi pijaknya. Tak kalah dengan para pelopornya di tahun perjuangan terdahulu. Yah, tahun ini yang kita ketahui sebagai tahun penentu Era Baru Indonesia. Tahun politik. Dan pemuda adalah aktor utama yang menentukan bahtera negeri ini ke depan, karena kuantitasnya melebihi seniornya. Olehnya itu sebagian pakar menyebut bahwa era tahun politik sekarang, disuguhi bonus demografi, dividen democracy. Mayoritas dari entitas ini pun, lahir di akhir era order baru, dan dibesarkan di era reformasi, pun banyak menghirup segarnya angin demokrasi meski kadang masih disusupi polusi.

Dari kenyataan ini, para petarung yang turut mengambil peran di kancah perpolitikan, entah dari panggung lokal hingga ke panggung nasional harus bijak “memanfaatkan” dan merebut simpati bonus demografi ini dengan tidak mengesampingkan arah dan tujuan perjuangannya selaku aktor lahirnya Indonesia baru karena “Pemilu menjadi strategis bukan semata disebabkan peralihan kekuasaan, tapi peralihan sejarah. Pergantian kepemimpinan itu biasa dalam demokrasi. Yang lebih penting, apa maknanya bagi perjalanan kita sebagai bangsa” (Anis Matta).

Di lain sisi, para petarung di tahun politik kini, masih didominasi aktor lama yang sebagiannya sudah mulai tak dipercaya oleh masyarakat maupun generasi muda. Celaka lagi, peraturan yang tertuang di konstitusi kita tentang “perayaan pesta demokrasi (kampanye) yang cukup kaku atau mengikat” cenderung membuat sebagian besar wakil rakyat kita mati kutu, beku sosialisasi sehingga notabene belum dikenal , belum bisa diraba , diterawang “motifnya’ untuk menjadi calon wakil rakyat maupun calon pemimpin Indonesia ke depan. Mungkin hanya segelintir yang bisa kita santap beberapa kali di media nasional yang sebenarnya kurang menyentuh hingga ke masyarakat desa, masyarakat pelosok. Semoga saja, tak akan menimbulkan tragedi yang dikuatirkan oleh berbagai kalangan dan pakar, yakni Golput besar-besaran.

Olehnya itu, Pemerintah, Partai politik, Para pelaksana pemilu dan para pemuda selaku agen perubah harusnya saling bergandengan tangan untuk menyelesaikan hal ini. Ini PR kita bersama, terutama Pemuda selaku penentu arah Baru Indonesia. Pemuda harus dilibatkan dan melibatkan dirinya di agenda demokrasi tahunan ini karena ditangan merekalah “Martabat dan harkat Negara ini mau dibawa kemana ke depan”. Semoga. Hiduplah Pemuda Indonesia. Berbaktilah untuk negeri. Jadilah para pelaku sejarah, yang turut menorehkan tinta emasnya. Jangan hanya menjadi pengamat atau penonton yang hanya mampu berwacana namun tak tampak di arena. Ingatlah kawan, kita adalah penentu Arah Baru Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar