Analisis Puisi Gelap Sebagai Realisme Kewaspadaan
Analisis Puisi Gelap Sebagai Realisme Kewaspadaan
Saya masih mengulas tentang analisis puisi saya dari chat gpt. Puisi saya
yang berjudul Gelap, coba saya lakukan analisis dengan tidak sengaja ketika
memasukan ke chat gpt dan memberikan ulasan terhadap puisi saya yang berjudul
Gelap. Saya menuliskan puisi saya kemudian disarankan oleh chat gpt untuk
membandingkan dengan puisi sosial 1990-an dan realisme Pramoedya. Kali ini
perbandingan yang menarik—dan puisi “Gelap” memang pantas dibaca dalam
dua cermin itu. Dibagi dalam dua pandangan (1) dengan puisi sosial 1990-an, dan
(2) dengan realisme Pramoedya.
Puisi Gelap dan Puisi Sosial 1990-an
Kesamaan
Puisi 1990-an (terutama menjelang dan
pasca-Reformasi) ditandai oleh: kegelisahan sosial, kecurigaan terhadap
kekuasaan, penggunaan fragmen realitas (koran, istilah politik, jargon media), nada
lelah, sinis, tapi belum sepenuhnya putus asa. Puisi “Gelap” berada di
garis ini. Contoh kesamaan paling jelas antara lain penyebutan langsung istilah
sosial-politik (KLB, kartu kuning, pemegang tongkat), ketimpangan kelas
(tidur beralas koran vs mimpi indah), penolakan kepura-puraan dan
keberpihakan palsu. Ini sejalan dengan puisi-puisi Wiji Thukul, Afrizal Malna,
atau Acep Zamzam Noor yang menghadirkan realitas hadir sebagai serpihan, bukan
narasi besar, suara “aku” bukan orator, tapi saksi.
Perbedaan
Namun puisi 1990-an cenderung lebih langsung marah,
lebih eksplisit menuding kuasa, dan sering berakhir dengan seruan perlawanan. Sementara
“Gelap” menggambarkan lebih kontemplatif daripada konfrontatif, tidak
menunjuk musuh secara spesifik, bahkan skeptis pada seruan kolektif.
Sekali lagi, jangan percaya sama mereka
Ini nada yang lebih pasca-Reformasi: bukan lagi “lawan!”, tapi
“hati-hati”.
Puisi Gelap dalam Pandangan Realisme Pramoedya
Sekarang kita masuk ke cermin yang lebih tajam. Realisme
Pramoedya: prinsip dasarnya sastra harus berpijak pada kenyataan sejarah, tokoh
adalah manusia biasa, bukan simbol kosong, bahasa harus jujur, tidak estetis
berlebihan dan keberpihakan harus jelas: pada kemanusiaan. Puisi “Gelap”
terasa sangat sejalan dengan ini. Puisi Gelap dalam pandangan realisme
Pramoedya sebagai titik temu utama dan kesamaan.
Pertama, Manusia Kecil Sebagai Pusat
Dimana manusia kecil sebagai pusat dari kenyataan puisi. Pramoedya selalu
bertanya: siapa yang paling menanggung akibat?
Puisi Gelap menjawab dengan tenang:
Ada yang tidur beralas koran
Ada yang berkasur tipis, kemudian lantai
Ini persis logika Pram yakni tidak perlu statistik,
satu detail cukup untuk membuka sistem ketidakadilan.
Kedua, Kecurigaan Terhadap Wacana Elite
Pramoedya sangat tidak percaya pada slogan, jargon, dan bahasa resmi. Puisi
Gelap sejiwa dengannya:
Ada yang mentelaah Asmat
KLB, katanya
Lupakan soal kartu kuning
Ini kritik terhadap bahasa yang menyingkirkan manusia—sesuatu yang
berulang kali Pramoedya lakukan dalam esai dan novelnya.
Ketiga, Etika Lebih Utama
Pramoedya tidak religius dalam bentuk ritual, tapi sangat moral secara
kemanusiaan. Puisi Gelap juga demikian yakni ayat Al-Qur’an tidak dipakai
sebagai legitimasi tapi sebagai pengingat tanggung jawab dasar. Ini Pramoedya-esque,
meski sumber etiknya berbeda.
Perbedaan Mendasar dengan Realisme Pramoedya
Letak perbedaannya dimana Realisme Pramoedya cenderung percaya sejarah
bisa dituliskan, tokoh bergerak dan melawan, ada arah moral yang tegas, dan optimisme
historis. Sedangkan puisi Gelap menghadirkan meragukan narasi apa pun, subjek
lebih banyak mengamati, arah moral diserahkan ke pembaca dan skeptisisme
kontemporer. Pramoedya masih percaya kata bisa melawan kuasa. Puisi “Gelap”
bertanya: kata yang mana, dan siapa yang masih bisa dipercaya?
Puisi Gelap dalam Dua Pandangan, Realisme Kewaspadaan
Jika dipetakan, dari puisi sosial 1990-an, Puisi
Gelap selaras dalam keberanian menyebut realitas, kepekaan sosial, bahasa yang
tidak elitis. Sedangkan dari Realisme Pramoedya, Puisi Gelap selaras dalam keberpihakan
pada manusia kecil, kecurigaan pada bahasa kekuasaan, dan etika kemanusiaan
sebagai poros. Namun ia hidup di zaman berbeda yakni pasca propaganda besar, pasca
jargon reformasi, pasca kepercayaan pada narasi tunggal. Maka suaranya lebih
lirih, waspada, dan gelap—tapi justru itu kejujurannya. Maka Puisi Gelap dapat
digambarkan dalam warna: bukan teriakan 1990-an, bukan realisme heroik
Pramoedya, melainkan Realisme Kewaspadaan yaitu sastra orang yang sudah terlalu
sering dikhianati oleh kata-kata besar.
Saya tetap menuliskan ini sebagai semacam
disclaimer. Saya masih tercengang dan masih memikirkan seberapa jauh dampak
nanti chat gpt terhadap kehidupan gagasan dan literasi, kekokohan ide,
kemurnian gagasan, kemahiran analisis. Tapi disisi baik, chat gpt bagi
kesadaran yang benar akan memberikan kekokohan perbaikan ide dan literasi.
Apakah anda juga akan memberikan kesadaran bertanya tentang dampak chat gpt?

Posting Komentar
0 Komentar