Pesta Literasi Indonesia 2025, Cerita Khatulistiwa

 Pesta Literasi Indonesia 2025, Cerita Khatulistiwa

 






Saya mencoba mengulas tentang Pesta Literasi Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama. Saya mencari beberapa informasi terkait itu. Festival literasi ini sebelumnya bernama Ruang Tengah. Namanya diubah menjadi Pesta Literasi Indonesia sebagai simbol perayaan akbar untuk menyatukan cinta, rasa, dan cerita dalam panggung sukacita. Pesta Literasi Indonesia 2023 mengusung tema “Merangkul Rasa” dengan menggandeng para pecinta buku, penikmat kuliner, dan penggemar seni dalam kesatuan visi, yaitu merayakan literasi.

Pesta Literasi Indonesia 2023 secara khusus diselenggarakan di Teater Wahyu Sihombing dan Galeri Emiria Soenassa, dan terdiri dari berbagai acara, seperti talkshow, fashion show, food challenge, cake decorating competition, lomba mewarnai, serta lomba cosplay bertemakan tokoh-tokoh dari buku terbitan Gramedia Pustaka Utama. Di setiap pengujung hari, akan tampil berturut-turut Soegi Bornean, Majelis Lidah Berduri, dan Sal Priadi dengan lagu-lagu andalan mereka yang diselingi pembacaan puisi dan karya.

Pesta Literasi Indonesia yang diinisiasi oleh Penerbit Gramedia ini tidak hanya menjadi ajang bertemunya para pembaca dan penulis, tetapi juga menjadi tempat yang tepat bagi para peserta untuk merangsang kreativitas, mendorong inovasi literasi, dan menembus batas budaya. Pesta Literasi juga bertujuan untuk menjembatani kesenjangan literasi di Indonesia. Pesta Literasi Indonesia 2024 dengan tema Samudra Imajinasi. Penerbit Gramedia menggelar Pesta Literasi Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM), kegiatan ini diisi dengan berbagai diskusi, bazar buku, temu penulis, pertunjukan teater, dan bazar kuliner.

Pesta Literasi Indonesia 2025 hadir dengan konsep acara yang lebih menyapa peserta dan merayakan keberagaman Indonesia. Pesta Literasi Indonesia tidak diselenggarakan di satu tempat seperti sebelumnya, tetapi menjelajahi berbagai kota di Indonesia sepanjang September 2025. Dengan tema Cerita Khatulistiwa, Pesta Literasi Indonesia 2025 mengajak kita semua menyelami kisah-kisah literasi dari berbagai penjuru negeri, dalam perjumpaan yang hangat dan terbuka antara penulis, pembaca, komunitas, serta pegiat literasi.

 

Pesta Literasi Indonesia 2025, Cerita Khatulistiwa

Pesta Literasi Indonesia yang sebelumnya diselenggarakan di Jakarta tahun ini akan berkeliling ke sejumlah kota di Indonesia. Di setiap kota tersebut akan diselenggarakan beragam acara, seperti diskusi panel, membaca bersama, workshop, penampilan musik, kumpul komunitas, dan donasi buku. 

Pesta Literasi Indonesia 2025 memahami bahwa setiap daerah memiliki kekayaan cerita yang dapat memperkuat kebersamaan kita, terus mengobarkan kecintaan pada literasi, dan menyulut harapan akan masa depan yang lebih baik. Di balik cerita-cerita itu, tampaklah komunitas-komunitas yang terus bergerak menjaga api literasi meski menghadapi berbagai tantangan. Melalui Pesta Literasi Indonesia 2025, diharapkan lahir semangat baru untuk terus membaca, menulis, dan menyebarkan cerita, karena Indonesia yang kaya tidak dibangun dari satu narasi tunggal. 

 

Berbagai Catatan Cerita Khatulistiwa

Berbagai kutipan cerita sebagai awal Cerita Khatulistiwa. Kota Manado, yang dikenal sebagai Kota Tinutuan, dengan pesona laut Bunaken yang mendunia, jejak sejarah pertemuan budaya di utara Sulawesi, serta keramahan masyarakatnya yang tersohor, selalu menjadi ruang yang hangat bagi ide dan perjumpaan. Di tengah semangat toleransi dan kekayaan kuliner yang khas.

Kota Ambon, yang dikenal sebagai Ambon Manise, dengan pesona laut dan pulaunya yang menawan, jejak sejarah rempah yang mendunia, serta kekayaan budayanya yang penuh warna, selalu menjadi ruang yang hangat bagi perjumpaan dan cerita. Di tengah keramahan masyarakat dan alunan musik yang menjadi jiwa kota, merayakan kisah-kisah dari kepulauan rempah.

Kota Jayapura, yang dikenal sebagai beranda timur Indonesia dengan bentang Teluk Youtefa yang indah, jejak sejarah penting di tanah Papua, serta kekayaan budaya yang berakar dari tradisi leluhur, selalu menjadi ruang yang hangat bagi perjumpaan dan cerita. Di tengah keramahan masyarakat dan pesona alam yang memukau.

Kota Makassar, yang dikenal sebagai Kota Daeng, dengan semangat bahari yang mengakar, jejak sejarah perdagangan dan pelayaran di selatan Sulawesi, serta keberagaman budaya yang berpadu dalam kehidupan sehari-hari, selalu menjadi ruang yang hidup bagi ide dan perjumpaan. Di tengah keramahan masyarakat dan denyut kosmopolit kota pelabuhan.

Kota Padang, yang dikenal sebagai Kota Bingkuang, dengan pesisir yang memesona, jejak sejarah panjang di tepian Samudra Hindia, serta kekayaan budaya Minangkabau yang terus hidup dalam keseharian, selalu menjadi ruang yang subur bagi ide dan perjumpaan.

Kota Medan, yang dikenal sebagai Kota Melayu Deli, dengan denyut kehidupan metropolis, sejarah panjang perdagangan di Selat Malaka, serta keberagaman etnis dan budaya yang berpadu dalam harmoni, selalu menjadi ruang yang subur bagi ide dan perjumpaan. Di tengah keramahan masyarakat dan pesona khas kota yang penuh energi.

Kota Pekanbaru, yang dikenal sebagai Kota Bertuah, dengan denyut ekonomi yang dinamis, jejak sejarah Melayu yang kuat, serta budaya yang tumbuh dalam keberagaman, selalu menjadi ruang yang subur bagi ide dan perjumpaan. Di tengah keramahan masyarakat dan semarak kehidupan kotanya, merayakan kisah-kisah dari bumi Melayu.

Kota Pontianak, yang dikenal sebagai Kota Khatulistiwa, dengan denyut kehidupan di tepian Sungai Kapuas, sejarah perdagangan yang panjang, serta keberagaman budaya yang hidup berdampingan, selalu menjadi ruang yang kaya bagi perjumpaan dan cerita. Di tengah hangatnya masyarakat dan pesona khas kota di garis nol derajat.

Kota Bogor, yang dikenal sebagai “Kota Hujan”, dengan pesona alam sejuk, sejarah panjang, serta kekayaan budaya yang kental, selalu menjadi ruang yang hidup bagi ide dan perjumpaan. Di tengah rindangnya pohon dan kehangatan warganya.

Garut, yang dijuluki Swiss van Java karena panorama pegunungannya yang memukau, kembali menjadi ruang pertemuan hangat bagi ide dan perayaan budaya. Di balik keramahan warganya, jejak sejarah, dan pesona Gunung Cikuray serta Papandayan, Garut menjadi tempat yang tepat untuk merayakan kisah-kisah dari berbagai penjuru negeri.

Kota Magelang, yang dikenal sebagai Kota Sejuta Bunga, tahun ini menjadi tuan rumah Pesta Literasi Indonesia 2025. Dengan udara pegunungan yang sejuk, candi-candi bersejarah, dan tradisi Jawa yang masih hidup, Magelang menghadirkan ruang yang teduh bagi ide dan perjumpaan, merayakan kisah-kisah dari lereng Merapi dan Merbabu serta mendengarkan pengalaman yang membentuk wajah Indonesia hari ini.

Kota Malang, yang dikenal sebagai Kota Bunga, dengan udara pegunungan yang sejuk, jejak sejarah kolonial yang masih tampak dalam arsitektur kotanya, serta dinamika budaya muda yang tumbuh bersama geliat pendidikan, selalu menjadi ruang subur bagi ide dan perjumpaan. Acara ini mengajak kita merayakan kisah-kisah dari kaki Gunung Semeru hingga lereng Arjuno.

 

Tulisanku dalam Pesta Literasi Indonesia 2025

Pesta Literasi Indonesia bukan sekadar ajang membaca dan menulis, tetapi juga ruang dialog, kreativitas, dan perlawanan melalui karya. Pesta Literasi Indonesia 2025 oleh Gramedia juga disajikan Seleksi Penerimaan Naskah Cerpen dan Kisah Inspiratif dengan tema Cerita Khatulistiwa.

Akhirnya banyak antusiasme dalam proses penerimaan naskah cerpen dan kisah inspiratif Pesta Literasi Indonesia 2025 ini. Mereka menerima total 388 naskah yang terdiri dari 297 naskah cerpen dan 91 naskah kisah inspiratif. Setelah melalui proses seleksi oleh para editor di Gramedia Pustaka Utama, mereka mengumumkan 24 cerpen dan 22 kisah inspiratif sebagai berikut lolos ke tahap I. Setelah itu, ada Seleksi Final Penerimaan Naskah Pesta Literasi Indonesia Cerita Khatulistiwa dan terdiri dari 22 pemenang. Setelah melalui kurasi dari seleksi tahap I, karya-karya berikut dinilai membawa keberagaman dan keunikan yang ada di Indonesia. Dan salah satunya adalah karya saya, Dilema Tanah Cokelat Gelap.

Setelah kami lalui proses koreksi dari pihak Gramedia untuk naskah yang lolos seleksi ini, saya merasa beberapa hal mendasar dalam proses koreksi ini mengubah pandangan saya tentang menulis atau menambah pemahaman saya dalam menulis. Semoga Pesta Literasi Indonesia terus hadir Kembali dalam waktu-waktu mendatang dan tetap ada Lomba Penerimaan Naskah Cerpen atau naskah lainnya.







 

 

Posting Komentar

0 Komentar