Analisis Realisme Puisi Melalui Chat Gpt, Puisi Gelap, Karya M. Sadli Umasangaji

 

Analisis Realisme Puisi Melalui Chat Gpt, Puisi Gelap, Karya M. Sadli Umasangaji




 

Saya mencoba memasukan bait-bait puisi dalam chat gpt. Biasanya saya lebih kepada membuat foto atau gambar atau bahkan membuat cover buku. Kali ini tanpa sengaja saya memasukan puisi ke chat gpt dan tertekan enter. Hasilnya ia melakukan analisis terhadap puisi saya. Saya terkesima. Kemudian saya menambahkan kata analisis realisme terhadap analisis puisi saya yang berjudul Gelap. Hasilnya Chat Gpt memberikan berbagai ulasan. Dan terkesan, membuat saya terkesima dengan ulasannya.

 

Puisi “Gelap” ini bekerja kuat dalam ranah realisme reflektif–sosial, bukan realisme deskriptif murni. Ia tidak sekadar memotret kenyataan apa adanya, tetapi menghadirkan realitas sebagaimana dirasakan batin subjek yang hidup di dalamnya.

 

Pertama, Realisme Situasional: Ruang, Waktu, dan Bunyi

Realisme puisi ini langsung terasa dari pembukaan:

Lampu tetangga yang tak kunjung menyala

Ditambah sepinya, tempat baru

Suara jangkrik terdengar, nyaring

Suara kodok tak mau kalah

 

Chat Gpt menggambarkan ini sebagai detail keseharian yang sangat konkret. Lampu tetangga mati sebagai indikator keterasingan sosial, Tempat baru sebagai posisi subjek sebagai pendatang atau orang yang belum mapan, Jangkrik dan kodok sebagai bunyi alam khas desa atau pinggiran, malam hari. Dalam realisme sastra, bunyi seperti “krik, krik, krik…” bukan hiasan. Ia berfungsi sebagai penanda waktu (malam), penanda kelas/ruang (bukan kota gemerlap), penanda kesunyian struktural (tidak ada dialog manusia). Ini realisme yang indrawi, bukan abstrak.

 

Kedua, Realisme Sosial: Fragmen Ketimpangan dan Wacana Publik

Puisi ini memecah narasi besar menjadi potongan-potongan realitas.

Ada yang mimpi indah

Ada yang tidur beralas koran

Ada yang berkasur tipis, kemudian lantai

Ini adalah realisme sosial klasik dengan gambaran, kontras kelas disajikan tanpa metafora rumit, tidak ada romantisasi kemiskinan, tidak ada heroisme palsu

 

Begitu juga baris:

Ada yang mentelaah Asmat

KLB, katanya

Lupakan soal kartu kuning

 

Ini sebagai realisme diskursif. Dimana realitas tidak hanya berupa benda dan orang, tapi bahasa kekuasaan. “Asmat”, “KLB”, “kartu kuning” adalah istilah kebijakan, media, dan politik. Puisi menangkap bagaimana penderitaan sering direduksi jadi jargon. Realisme di sini tajam karena menunjukkan jarak antara wacana dan kenyataan.

 

Ketiga, Realisme Psikologis: Kebingungan dan Kelelahan Moral

Pertanyaan berulang:

Darimanakah aku memulai?

Darimanakah aku menguraikan?

Ini ciri realisme psikologis karena subjek tidak tampil sebagai pahlawan yang tahu jawaban dan yang muncul justru kebingungan, kelelahan, dan keraguan

Kalimat:

Dan kau?

sangat realis karena tidak memberi solusi, melempar tanggung jawab moral kepada pembaca, dan menolak posisi “aku paling benar”.

 

Keempat, Realisme Etis–Religius (Bukan Dogmatis)

Ayat Al-Qur’an yang dikutip:

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh…”

 

Dalam realisme, ini penting karena ayat tidak dijadikan khotbah, ia hadir sebagai kontras moral terhadap realitas gelap, agama muncul sebagai pengingat nilai, bukan alat legitimasi kekuasaan.

 

Begitu pula:

Saling tolong menolonglah dalam kebaikan

Ini realisme etis karena bukan utopia, bukan solusi instan dan hanya kompas moral di tengah kabut.

 

Kelima, Anti-realisme palsu: penolakan kepura-puraan dan manipulasi

 

Baris:

Jangan kita terjebak

Dalam kepura-puraan

Dalam pengaturan dalam keberpihakan

Semua punya makar

Semua punya permainan

 

Ini adalah kritik langsung terhadap realisme semu dimana realisme versi propaganda, realisme versi “narasi resmi”, realisme yang dikurasi oleh kepentingan. Puisi ini menolak itu semua dan memilih realitas retak, tidak rapi, tidak selesai.

 

Keenam, Realisme Persepsi

Akhir puisi:

Kini, dalam sudut setengah gelap

Redup, mata memilih memandang

 

Ini sangat penting secara realisme karena kenyataan tidak sepenuhnya terang, subjek hanya bisa “memilih memandang”, bukan menguasai, dan realisme di sini adalah kejujuran batas manusia.

 

Puisi “Gelap” adalah realisme situasional (malam, bunyi, ruang), realisme sosial (ketimpangan, kebijakan, jargon), realisme psikologis (bingung, ragu, lelah), realisme etis (nilai tanpa klaim superioritas), Ia tidak menawarkan solusi, dan justru di situlah kekuatan realisnya. Puisi ini jujur: dunia gelap, wacana bising, niat baik rapuh—dan manusia hanya bisa bertahan dengan kesadaran dan pilihan memandang.

 

Saya tetap menuliskan ini sebagai semacam disclaimer. Saya masih tercengang dan masih memikirkan seberapa jauh dampak nanti chat gpt terhadap kehidupan gagasan dan literasi, kekokohan ide, kemurnian gagasan, kemahiran analisis. Tapi disisi baik, chat gpt bagi kesadaran yang benar akan memberikan kekokohan perbaikan ide dan literasi. Apakah anda juga akan memberikan kesadaran bertanya tentang dampak chat gpt?

 

Posting Komentar

0 Komentar