Pengenalan Nasi Kuning Ikan Ancor-Ancor Sebagai Tren Budaya Kuliner Maluku Utara
Nasi Kuning Ikan Ancor-Ancor Sebagai Tren Budaya
Kuliner Maluku Utara
M. Sadli Umasangaji
(Founder Celoteh Ide)
Manusia
dipengaruhi oleh rasa dari setiap bahan makanan dimana bahan makanan yang
tersedia secara banyak akan memungkinkan manusia dalam memilih makanan lebih
utama berkaitan dengan rasa kemudian baru kepeluan gizi (Buckle, KA, Edwards,
RA, Flett, GH, Wooton, M, 2009). Kuliner dapat berkaitan dengan berbagai budaya
dan tradisi sebuah daerah. Kuliner bisa jadi menggambarkan sejarah dengan
berbagai perubahan yang bergantung pada kondisi dan selera masyarakat (Rokhman,
BI, Haswanto, N, 2024). Indonesia adalah salah satu negara dengan budaya
kuliner tradisional yang beragam. Di lain sisi, kuliner tradisional ini mulai
disaingi keberadaannya dengan makanan cepat saja ataupun kuliner yang berasal
dari belahan negara lain.
Kita
juga temui berbagai kuliner yang ditawarkan di Kota Ternate seperti nasi kuning,
soto ayam, ayam lalapan, coto makassar, sop saudara, kondro, ketoprak,
gado-gado, nasi goreng, lomtong sayur, ikan bakar, bubur ayam bandung, bakso,
mie ayam, bahkan ayam goreng khas Amerika seperti CFC atau KFC dan lainnya.
Dari makanan dengan berbagai tekstur, tekstur lembut atau makanan panas yang
menggoda selera dan saling berjuang memperebutkan makna di negeri rempah-rempah
ini (Oesman, H, 2020).
Nasi
Kuning tentu sudah dikenal sebagai makanan khas Nusantara. Nasi Kuning sendiri
dalam makanan khas Maluku Utara menggunakan berbagai rempah seperti kunyit,
cengkeh, pala, kayu manis hingga merica. Nasi kuning juga sebagai makanan
tradisional yang mudah ditemui di masyarakat umum. Di Maluku Utara sendiri
banyak ditemui nasi kuning ikan ancor-ancor dengan menawarkan rasa kenikmatan
tersendiri. Nasi kuning ikan ancor-ancor juga tersedia di berbagai tempat di
Maluku Utara. Nasi Kuning Ikan Ancor-Ancor sendiri merupakan nasi
kuning dengan tren makanan tersendiri di Maluku Utara.
Nasi Kuning dalam Identitas Budaya
Kuliner
Makanan
memang sudah dari zaman dulu disadari pentingnya untuk kelangsungan hidup
manusia. Dulu memang manusia memiliki pandangan yang masih kabur berkaitan
dengan makanan sehingga berwujud magis, tabu dan untuk nilai penyembuhan. Tapi
utamanya makanan adalah sumber energi yang dibutuhkan manusia. Selain tujuan
itu, makanan juga cenderung digunakan untuk nilai-nilai sosial (Almatsier, S,
2009; Buckle, dkk, 2009).
Nasi
kuning sebagai makanan tradisional yang dikenal dalam masyarakat umum, dimana
nasi kuning sebagai sajian makanan yang selalu hadir dalam berbagai perayaan
atau upacara adat. Nasi kuning sebagai bagian dari hidangan untuk ungkapan rasa
syukur (Medcom,
2024; Kumparan, 2024).
Beberapa
pandangan menuliskan Nasi Kuning memiliki asal usul kultur di Pulau Jawa.
Banyak yang memandang nasi kuning telah ada pada zaman Kerajaan Majapahit.
Awalnya nasi kuning disajikan untuk acara-acara tertentu dan untuk orang dengan
status sosial tinggi. Nasi kuning sebagai hidangan untuk acara khusus, acara
keagamaan, acara adat, atau untuk acara-acara pernikahan (Kompas, 2024).
Nasi
kuning banyak ditemui di berbagai daerah di Indonesia, termasuk dalam Maluku
Utara. Dalam ingatan masa kecil kami di Maluku Utara, khususnya Ternate, Nasi
Kuning memiliki makna yang sama dengan kondisi di atas, Nasi Kuning identik
sebagai sajian berbagai perayaan, orang kaweng, orang maninggal hingga
hajatan tertentu seperti sunatan dan perayaan lainnya. Dalam ingatan itu, kami
ingat bahwa nasi kuning disajikan bersama boboto. Dan nasi kuning yang
disajikan dengan boboto merupakan khas Ternate yang rasanya memiliki kenikmatan
tersendiri. Nasi kuning juga sering dijadikan makanan sajian saat “orang
babaca”, acara syukuran, bisa orang babaca saat selamatan ulang
tahun atau juga orang maninggal. Di saat itu, nasi kuning juga bisa dijadikan
dengan terong goreng saus santan. Dan tentu nasi kuning dengan telur rebus umum
disajikan dalam berbagai perayaan.
Makanan Khas dan Tren Budaya
Makanan dalam perkembangan zaman
tidak hanya sebagai kebutuhan dasar namun juga telah menjadi tradisi budaya
dalam masyarakat. Maka dalam hal itu makanan akan berkaitan dengan moral,
estetika dan penanda status sosial. Makanan juga dipelajari atau dikaji dalam
keterkaitan antara kuliner dengan kultur. Sebagai objek kajian antara makanan
dan berbagai elemen budaya (Mafa’idah, 2022).
Makanan
tradisional sebagai warisan makanan yang telah turun temurun, yang telah
dikonsumsi nenek moyang hingga masyarakat sekarang, identik dengan tradisi
daerah setempat, telah membudaya dalam daerah. Makanan tradisional juga
merupakan kesesuaian antara hidangan dengan selera manusia yang dikonsumsi
sebagai makanan secara umum dalam beberapa generasi dimana juga bahan-bahan
makanan dan rempah-rempahnya tersedia secara lokal. Maka makanan tradisional
dapat menjadi karakteristik suatu daerah dan nilai dalam daerah tersebut (Adiasih,
P, Brahmana, R, 2015). Dalam konteks itu, makanan tradisional akan dapat
dijadikan juga sebagai wisata kuliner yang berkaitan dengan citra dari suatu
daerah (Sumolang, MO, Tanudjaja, BB, Suryo, B, 2018).
Nasi kuning sebagai identitas budaya
kuliner tentu menjadi makanan khas, makanan adat. Penjelasan Lamunu, A,
Abdulrahman, S, Aco, DA (2020) berkaitan dengan Makanan Adat, makanan adat atau
ngogu adat pada orang Ternate terdiri dari beberapa jenis antara lain, pertama,
nasi kuning sebagai bira guraci dan dada (nasi yang dibuat berbentuk gunung
berwarna kuning muda. Kedua, Pal-pal atau nasi jaha (nasi yang dimasak dalam
bambu), ketiga, hode (ikan, terong, dan boboto), keempat, sirikaya,
kelima, bubur kacang, kacang hijau yang direbus bersama santan kelapa, gula,
dan daun pandan. Nasi kuning bira kuraci dalam bentuk gunung dapat dimakan dan
ditemukan pada prosesi ritual adat dan keagamaan. Nasi kuning ini disajikan
dengan ikan dan terong atau hode saus. Ini juga menggambarkan sebagai hasil
laut dan darat. Ini juga memberikan gambaran sebagai simbol kekayaan alam yang
dimiliki oleh Orang Ternate.
Warna kuning pada nasi kuning dihasilkan
dari bumbu kunyit. Kunyit juga melambangkan tentang eratnya Indonesia dengan rempah-rempah.
Rempah-rempah dalam nasi kuning seperti daun pandang, kunyit, serai, daun jeruk
dan lainnya yang memberikan cita rasa khas. Herman Oesman (2020) memberikan
asumsi kaitan antara nasi kuning dan identitas rempah-rempah. Bahwa bagaimana
hilangnya identitas kuliner lokal atas kuliner daerah lain. Wilayah yang
dikenal sebagai penghasil rempah-rempah ini semestinya hadir memberikan cita
rasa kuliner dengan menghadirkan daya tarik tren kuliner. Sebagai konstruksi
bahwa kuliner dapat menjadi penanda identitas.
Kita tentu tahu di berbagai daerah lain
memiliki kuliner khas yang menjadi tren kuliner seperti Jawa Tengah dan Jawa
Timur dengan ayam lalap, sate, nasi rawon dan lainnya. Masyarakat Padang atau
Sumatera dengan kuliner rendang. Masyarakat Manado atau Minahasa dengan bubur
manado atau tinutuan. Masyarakat Sulawesi Selatan, Bugis-Makassar dengan buras,
coto makassar, sop kondo, pallu bassa, dan sop saudara dan lainnya.
Maluku Utara dengan histori sebagai daerah
penghasil rempah-rempah seakan-akan belum terwakili dalam jenis kuliner. Herman
Oesman (2020) kemudian menuliskan kuliner Ternate atau Maluku Utara umumnya
belum membentuk citra khas sebagai representasi penanda identitas daerah.
Nasi
Kuning Ikan Ancor-Ancor dalam Perspektif Gizi Seimbang
Nasi kuning tentu tidak hanya menjadi
hidangan dalam acara khusus saja akan tetapi dapat ditemui dalam makanan yang
dijual atau disajikan sehari-hari. Nasi kuning dalam bentuk tumpeng biasanya
disajikan dengan perkedel, ayam gorengm kentang balado, telur balado, empang
daging orek tempe kacang manis, sambal ati kentang, urap, hingga bihun. Beberapa
daerah memilih beberapa sajian nasi kuning dengan tambahan lauk pauk pendamping
yang berbeda-beda sesuai khas daerah setempat. Nasi kuning Banjar disajikan
bersama ayam, telur, dan sambal yang dimasak habang (bumbu merah), biasanya
juga dengan serundeng. Nasi kuning Makassar biasanya dengan dengan ayam, paru,
ada juga tahu santan bahkan kadang ada sayur lodeh atau cah kentang wortel. Di
satu sisi menunjukkan bahwa keragaman nasi kuning di setiap daerah memberikan
sensasi rasa yang berbeda.
Nasi kuning di Maluku Utara umumnya
disajikan dengan ikan cakalang (anteru, utuh), telur, ikan abon, atau
banyak sekali menyajikan dengan ikan cakalang ancor-ancor. Di satu sisi,
ini juga karena ikan mudah ditemui di Maluku Utara atau sebagai daerah potensi
perikanan. Dapat dikatakan juga bahwa nasi kuning yang ada di Maluku Utara atau
Ternate khususnya memiliki rasa yang berbeda juga dengan daerah lain.
Memang unsur kebanyakan dari porsi Nasi
Kuning adalah unsur karbohidrat karena selain nasi kuning yang merupakan bahan
karbohidrat, kadang nasi kuning disertai dengan bihun, sambal goreng singkong,
dan atau mie. Bahan-bahan seperti itu semua adalah sumber karbohidrat. Dan nasi
kuning umumnya di Maluku Utara tersajikan dalam porsi seperti itu, nasi kuning,
ikan, telur, mie, tambahan lain seperti bihun atau sambal goreng singkong
(kasbi). Sumber karbohidrat terlihat dominan. Sumber protein hewani hanya ada
pada ikan dan telur.
Ketika nasi kuning ikan ancor-ancor divariasikan
dalam gizi seimbang atau memenuhi isi piringku memang harus disajikan dengan
bahan lain seperti protein nabati yakni tahu, tempe atau kacang-kacangan, dan
disertai dengan sayur. Memang akan membuat variasi rasa yang berbeda.
Gizi seimbang sebagai susunan menu makanan
dengan unsur keragaman makanan, kesesuaian jumlah dan proporsi atau sesuai
dengan kebutuhan gizi serta memenuhi berbagai nilai gizi. Gizi seimbang sendiri
secara sederhana memenuhi menu makanan lengkap yang terdiri dari makanan pokok,
protein hewani, protein nabati, sayuran dan atau buah
Tapi bila variasi itu mengubah rasa, maka cukupkan saja Nasi Kuning Ikan Ancor-Ancor karena rasanya yang nikmat dan tentu nasi kuning ini adalah sesuatu yang khas dan mudah ditemui di Maluku Utara.
Nasi
Kuning Ikan Ancor-Ancor Sebagai Tren Kuliner
Sebagaimana beberapa uraian di atas, bahwa
beberapa daerah lain memiliki makanan khas sebagai tren kuliner, misalkan Jawa
Timur yang dikenal dengan nasi pecel, cinggur, nasi rawon, Nasi Padang atau
Sumatera dengan rendang, Coto Makassar, Bubur Manado dan lainnya. Makanan khas
ini juga menjamur terjual di dalam daerah tersebut atau mudah ditemui sebagai
makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Tentu
Maluku Utara memiliki beberapa makanan khas yang nikmat dikonsumsi seperti gohu
ikan, makanan kobong (kasbi, batata, dabu-dabu kacang, sayur daun kasbi),
ikan bakar dabu-dabu mantah, lalampa, kue palita, pisang forno, dan
lainnya. Tapi penulis mengasumsikan bahwa Nasi Kuning Ikan Ancor-Ancor
sebenarnya bisa menjadi tren kuliner sebagai makanan Maluku Utara, di satu sisi
karena Nasi Kuning Ikan Ancor-Ancor mudah ditemui di Maluku Utara dan hampir
dipastikan kebanyakan pengolahan nasi kuning seperti ini lebih identik dengan
di Maluku Utara ketimbang daerah lain.
Tren
kuliner sendiri dapat menjadi gambaran karakteristik dan nilai yang ada dalam
suatu daerah. Seperti Madiun yang membuat Tugu Pecel. Coto Makassar yang mudah
ditemui di Makassar, terjual menjamur di sana. Hal yang sama juga kita temui
untuk nasi pecel di beberapa wilayah Jawa Timur seperti Madiun. Maluku Utara
dengan potensi perikanan mungkin dapat mengenalkan ikan ancor-ancor dengan nasi
kuning sebagai tren kuliner.
Di
sisi lain, karena menjamurnya penjualan nasi kuning ikan ancor-ancor ini, mudah
ditemui, enak dikonsumsi sebagai sarapan, atau pada waktu makan lain, ini
sebagai pemicu tren kuliner. Dalam beberapa tempat, Nasi Kuning Ikan
Ancor-Ancor dikenal sebagai Nasi Kuning Bagadang terutama untuk wilayah Sabia,
Ternate Utara.
Dalam konteks lain dapat berkaitan dengan wisata kuliner dalam arti sebagai perjalanan dengan tujuan wisata serta objek wisata yang memandang masakan serta suasana lingkungan yang di suatu daerah. Tentu rasa nasi kuning ikan ancor-ancor Maluku Utara apalagi kalau dibungkus dengan daun pisang, tak perlu diragukan, sebagai penikmat nasi kuning, penulis sangat menyukai Nasi Kuning Ikan Ancor-Ancor. Karena unsur rasa itu, dan sangat khas Maluku Utara, Nasi Kuning Ikan Ancor-Ancor Maluku Utara dapat menjadi penanda tren kuliner sekaligus representasi identitas ideal sebagai daerah potensi perikanan dan kultur budaya kuliner. Dan Maluku Utara umumnya memang perlu menggalakkan momen atau kegiatan (event) dalam tren kuliner.





Posting Komentar
0 Komentar