Serpihan Sang Deklarator
Serial Novel Serpihan Identitas
“Untuk apa aku masih terus membuat
catatan?”
“Aku hanya memilih untuk memulai.
Melanjutkan segala yang ku pikirkan, segala yang akan ku catat.”
“Aku memulai,
memulai menulis,” tegas Usamah. Kali ini catatannya dipenuhi oleh ocehan Mirgah.
Ketika Usamah bertemu dengannya di tempat biasa, di sekretariat organisasi
mereka.
Mirgah berbagi pandangan
tentang perspektif
Sang Deklarator
pada kelahiran jamaah, dia, Sang Deklarator dan jamaah. Mirgah adalah pengagum
Sang Deklarator,
seperti kader organisasi kepemudaan ini pada umumnya.
Organisasi (jamaah) ini marak tahun 1990-an. sebagai
alternatif dari kehidupan kampus yang terkekang negara melalui NKK/BKK. “Sang Deklarator terbina
sejak demokrasi belum ada, beliau di-tarbiyah
sejak negara intel ada di mana-mana. Semua
bermula pada Tahun 90, Sang Deklarator memulai kuliah di
Universitas Mataram, dan ketika
ekspansi tarbiyah ke Lombok datang dan para utusan itu member pesona padanya,” tukas Mirgah tentang Sang Deklarator.
“Tahun
1992, Sang Deklarator masuk UI dan diterima di Fakultas Ekonomi lewat jalur UMPTN. Di sini ia juga bertemu dengan kalangan tarbiyah. Tarbiyah adalah kesimpulan Sang Deklarator dalam pencarian sebagai aktivis setelah menyelam
dalam banyak gerakan mahasiswa”
“Tarbiyah
lebih natural, lebih rasional dan tidak punya tendensi sempit. Islam
digambarkan lebih luas dan sempurna. Dalam perjalalannya, Sang
Deklarator mulai mengenal dan membaca kisah perjuangan Hasan Al
Banna dan para ikhwan sebagai inspirasi. Perjuangan
Ikhwan, bagi Sang Deklarator cahayanya
memancar dan membasuh sukma yang membara”
Satu hal yang mulai dipahami
Sang Deklarator, “Disini aku menjadi tahu bahwa perbaikan juga mesti
dimulai dari diri sendiri. Memulai dari
diri. Lalu keluarga. Lalu masyarakat dan kemudian negara. Maka dunia yang baik akan tercipta. Maka kami
berhimpun dan memulai suatu proses mendidik diri membina kehidupan. Kami mulai dengan membina pribadi, komitmenlah kita dengan perbaikan diri, mengintrospeksi dan
mengevaluasi diri. Setiap kader
melibatkan diri didalam proses berlatih secara terus menerus. Lalu setelah itu
kami memulai membangun keluarga kecil, menata hidup kami suami istri dan
anak-anak. Kami berharap
agar dari keluarga kami muncul generasi masa depan yang lebih baik. Agar
generasi itu kelak lebih baik dari kami, dan mereka bisa menjadi batu bata yang
kokoh bagi bangsanya.Setelah itu kami percaya bahwa masyarakat yang baik akan
terbentuk jika kita juga terjun untuk mengembangkannya.”
“Kami adalah
orang pergerakan, kami bergabung bersama barisan orang-orang yang mengikat diri dalam kebaikan. Inilah tarbiyah, awal
kebangkitan. Perlahan-lahan
kami menyusuri lorong waktu melampaui batas-batas masa, bersama menghadapi
tantangan dan gejolak. Melatih dan
membina diri sehingga menjadi matang dan dewasa, siap memberikan kontribusi
pada peradaban yang mulia. Kami percaya
bahwa suatu bangsa hanya mungkin bangkit jika dia dididik dengan baik. Suatu bangsa hanya mungkin memperoleh kejayaan jika kader-kadernya dilatih
dan dididik dengan kematangan jiwa.”
Pertengahan 1990-an gerakan Tarbiyah di kampus kami mulai melakukan gerakan politik kampus. Tarbiyah waktu itu berbentuk anasir semata. Tapi tetap terorganisir.
Walaupun belum berbentuk organisasi. Karena pada masanya, yang muda akan
jadi tua juga. Mereka harus berpengalaman menjadi pemimpin. Orde Baru memang belum kondusif tapi politik kampus adalah eksperimen yang cukup aman. Mahasiswa
harus belajar mengelola sumberdaya publik. Setingkat kampus. Dalam masa itu Sang Deklarator memulai
deklarasinya, namanya
menjadi tenar. Memimpin
organisasi kepemudaan, sebuah kesatuan aksi. Kesatuan aksi yang kemudian melebur, atau menjadi
keharusan untuk larut menjadi organisasi kepemudaan mutlak, menjadi organisasi
masyarakat.
Berurai-urailah Sang
Deklarator, dengan gembira pada aktivisme masa kini, tren aktivisme pada media
sosial, “Kami percaya bahwa suatu bangsa yang dipimpin secara
otoriter, tidak akan memberikan masa depan. Dan kebebasan adalah hal yang
mutlak bagi menyebarnya kebaikan, maka berdirilah partai politik. Aku menjadi deklarator. Keberanian anak-anak muda ini adalah keikhlasan. Inilah pilihan yang akan memeta perubahan. Sebuah keberanian orang-orang yang tidak punya apa-apa. Sebuah partai lahir tanpa sponsor dan donatur, kecuali oleh ide dan cita-citanya, membangun
harapan. Kami
mendirikan partai dari nol, tanpa uang, tanpa nama besar, kami
diyakinkan oleh cita-cita dan pikiran. Lalu kami
mengikuti pemilu secara demokratis sejak 1999, 2004, 2009 dan 2014. Kami berlomba-lomba dan yang lain menyongsong politik, membangun
masyarakat, membangun politik yang lebih beradab. Kami ikut membangun politik yang lebih menghargai perbedaan pendapat, lebih
mendengar suara rakyat.”
Sang Deklarator kemudian
berkelakar, “Percakapannya dengan Sang Majelis, aku bertanya, apa salah saya ya Ustadz?”
Sang Majelis berkata pada Sang
Deklarator, seperti urai Sang Deklarator, “Antum tidak ada salah dan Antum
salah seorang kader terbaik”
Sang Deklarator kembali pada
untaiannya, “Kalau diakui kader terbaik lalu kenapa dipecat dari
seluruh tingkat keanggotaan? Perbedaan
pendapat dengan Sang Majelis didelik
sebagai pelanggaran paling berat sedunia. Kader, struktur dan elemen pembinaan
tidak ditanya lagi. Aku tidak percaya bahwa partai ini akan membiarkan
perlombaan saling meniadakan merajalela. Gerilya (penyingkiran) kepadaku, aku akan
jadikan pelajaran yang besar. Karenanya
aku tidak percaya partai ini toleran menerima patron klien menjadi tradisi. Hampir seperempat abad bersama jamaah kita mengajak semua orang menjadi
pendukung dakwah. Tiba-tiba
sekarang ada gerakan agar aku hendak disingkirkan tanpa alasan. Banyak yang merasa terganggu. Siyasah bagi kami
adalah untuk memperkuat silaturahim dan menjaga ukhuwah”
Bersendunya, Sang Deklarator,
“Ada yang sulit dijawab dan sulit diceritakan. Yaitu jika isteri dan anak kita bertanya, ‘apakah karena abah dipecat, kami tidak bisa ikut tarbiyah
lagi?’ Ini
pertanyaan paling mengguncangku kemarin. Karena
kaderisasi dan tarbiyah kita telah menjadi milik keluarga dan anak-anak kita. Mereka telah membiasakan diri dalam tradisi halaqoh dan tarbiyah.. Tiba-tiba aku tidak lagi di rumah itu. Maka wajar mereka bertanya
apakah masih boleh berada disitu. Aku mencoba
menahan ekspresi. Aku yakinkan mereka untuk bertahan. Aku dan istriku bertemu di jalan ini. Suatu hari di bulan Ramadhan di
Masjid Arif Rahman Hakim UI, 20 tahun lalu.
Atas segala kejadian, Sang
Deklarator pernah berujar, ”Dan apa yang kita capai sekarang
adalah hasil dari perjuangan dan pengorbanan. Kami tidak boleh lupa adalah bahwa semua yang kita miliki dan
dapatkan adalah hasil dari proses sejarah yang panjang. Dan kita tetap harus bercermin pada sejarah dan kepada apa yang selama
ini kita diajarkan. Bahwa
perjuangan kita adalah sarana utk mendapatkan pahala yang lebih besar. Karena toh tujuan kita pada akhirnya adalah negeri akhirat, adalah surga yang dijanjikan, adalah ridho Ilahi. Partai adalah sarana pelipatgandaan pahala, seperti kita pergi sholat
berjamaah ke masjid. Waktu yang diperlukan dalam sholat berjamaah sama
saja dengan sholat biasa. Tapi pahala berlipat ganda. Berpartai adalah
berjamaah, berpartai adalah cara pelipatgandaan pahala kita. Maka berpartai
adalah untuk menjadi yang paling banyak manfaatnya bagi umat dan bangsa. Sehingga kelak kita mendapatkan harapan untuk bersama nabi di hari
kemudian. Di dalam jamaah dan partai ini aku menyaksikan banyak perbedaan dan
pandangan. Tapi
yang dominan aku saksikan adalah cinta dari orang-orang yang tulus
dan berbuat tanpa balasan. Aku menyaksikan orang-orang yang tersenyum, dan
orang-orang yang bekerja tanpa pamrih siang dan malam. Aku terharu dengan para kader yang terus bertahan membangun kehidupan, ada
yang sukses, ada yang belum. Tapi semua
kami anggap ringan selama ada persaudaraan. Di sini kami membangun kesadaran bahwa kami hanya mulai untuk generasi masa
depan. Di sini kami bangun cinta dan pengorbanan, persahabatan dan kekeluargaan”
Ditengah pragmatisme politik
kembali menjamur. Menguatnya pragmatisme dan melunturnya ideologi
partai-partai politik saat ini di Indonesia menyebabkan identitas sebuah
partai politik semakin sulit dibedakan dengan partai politik lainnya. Fenomena hiruk-pikuk di internal partai-partai politik saat
ini umumnya dipicu oleh perbedaan sikap dan pandangan tentang posisi
partai terhadap pemerintahan. Maka
pertanyaannya adalah di mana
posisi berdiri masing-masing partai politik saat ini? Di tengah deraian politik praktis yang kian hari, partai politik mulai
mengalami dekadensi kepercayaan karena permasalahan yang cenderung pragmatis,
sekitar interal saling singkir-menyingkir, yang kemudian menguap dari persoalan
keumatan.
“Tapi apakah kini Sang Deklarator punya
orientasi yang berbeda?” tanya Usamah.
Mirgah hanya diam saat itu.
Usamah masih mengingat-ingat lagi apa yang perlu ia catat. Pada konteks waktu
yang berbeda.
“Maka terus menata hati dan menjaga
kompas niat adalah pekerjaan seumur hidup sampai mati,” urai Sang Deklarator.
“Sang Deklarator seperti
Sirohige. Tapi apakah ada yang memanggilnya seperti mereka memanggil Sirohige?”
Usamah tersenyum kecut, tanpa sadar sudah hampir dua jam, ia mengisi
catatannya.
“Kita ini
jamaah manusia. Penuh alpa dan kesalahan. Tapi kita ini juga bisa jadi adalah jamaah keikhlasan. Yang asli akan bertahan dan
yang palsu akan terbakar jadi debu,” kata
indah Sang Deklarator.
.webp)
Posting Komentar
0 Komentar