Serpihan Kemanusiaan

Serial Novel Serpihan Identitas

M. Sadli Umasangaji
(Founder Celoteh Ide)


Serpihan Kemanusiaan

3








             “Assalamualaikum, melihat tragedi kemanusiaan yang terjadi pada Muslim Rohingya, akan diadakan rapat untuk rencana melakukan galang dana. Diharapkan kehadirannya pada pukul 16.15 WIT di sekretariat. Jazakumullah”, begitulah sms yang masuk di handphone Said. Sms itu dikirim dari Ketua salah satu organisasi kepemudaan Muslim, Imran, namanya.

Said, pria pendiam dengan penampilan sederhana, senang menggunakan kaos berkarak dan berwarna gelap serta lebih senang menggunakan celana kain, dan kadang lebih sering dilipat di atas mata kakinya. Said juga turut aktif di salah satu organisasi kepemudaan Muslim itu, sebagai Pengurus Daerah. Dan Imran adalah Ketua Daerahnya.

Di terik siang dengan dijalaninya puasa Ramadhan, di sepuluh terakhir Ramadhan. Sekitar pukul 16.15 WIT teman-teman organisasi kepemudaan Muslim ini melakukan rapat untuk rencana Aksi Rohingya. Yang hadir diantaranya, Imran selaku Ketua, Said selaku sekretaris, Yusuf, Dawam, Mirgah, dan Usamah, serta akhwatnya Hasnah, Fatimah dan Zulaeha.

Rapat dimulai dengan sama-sama melafadzkan basmallah. Dilanjutkan dengan tilawah salah satu ikhwan, akh Yusuf. Selanjutnya pengantar dari Imran terkait rencana aksi. Ia menjelaskan tentang rencana aksi dilakukan pada malam takbiran, dan kita akan bagi pada beberapa tempat yang menurut kita ramai pada malam itu. Kita akan galang dana semampu kita untuk saudara-saudara kita di Rohingya. Silahkan nanti teman-teman tawarkan saran-saran yang diperlukan saat aksi dan tempat-tempat saat aksi galang dana nanti. Dan pendapat antum-antumna mengenai aksi ini.

“Assalamualaikum, ikhwahfillah sekalian, ana bangga bisa berkumpul dalam rasa persaudaraan yang begini kokoh rasanya, ana bangga karena persaudaraan kita pula, kita tergerak untuk menolong gerakan kemanusiaan lain nun jauh di sana, yang beda bangsa dengan kita, tapi satu akidah dengan kita. Saran ana kita harus setuju dengan aksi ini, bahkan kita harus tetap semangat menjalani aksi ini di waktu-waktu malam takbiran nanti”, kata Hasnah memberi saran pada rapat ini.

“Afwan bukan ana tidak bersedia, tapi pada kondisi malam takbiran, bisa dipastikan akan sangat ramai, banyak kendaraan, dan banyak orang pula. Dan pada malam-malam itu adalah malam untuk berkumpul dengan keluarga. Sekiranya waktu dan rencana aksi pada malam takbiran itu bisa ditunda di waktu lain”, kata Dawam memberi saran lain tanda mencari waktu lain untuk aksi.

“Ikhwahfillah, ini momentum yang baik, memang yang kita cari adalah banyak orang. Agar galang dana ini bisa kita maksimalkan. Dan momentum malam takbiran adalah momentum yang tepat. Menarik empati orang, dimana kita sedang bahagia merayakan hari kemenangan sementara saudara-saudara kita yang lain sedang menjalani hari kemenangan dengan nestapa. Yang penting isu aksi kita adalah aksi damai, aksi untuk galang dana. Masalah pertemuan dengan keluarga, bisa kita beri pengecualian kali ini saja. Persaudaraan kita bisa menggantikannya”, saran Yusuf memberi tanda setuju rencana aksi dijalankan.

“Oke, kita setuju untuk lanjutkan aksi. Di satu sisi komunikasi dengan semua kader harus dimaksimalkan, mengingat banyak kader yang pulang kampung halaman, semua kader yang masih di sini harus mendapatkan informasi aksi. Talimat harus berjalan. Koordinasi ke setiap ketua-ketua komisariat”, kata Imran menetapkan rencana aksi tetap berjalan.

“Selanjutnya kita perlu setujui rencana-rencana dalam aksi kita”, lanjut Imran. “Ada saran lain? Sekaligus mempersiapkan perangkat-perangkat aksi kita”.

“Ana sarankan selain aksi galang dana kita bisa juga melakukan pemutaran film”, saran Yusuf. Ini juga dapat menarik orang-orang untuk lebih melihat informasi tentang Rohingya.

“Ana setuju, dan ana bersedia mengunduh video-video yang akan diputar nanti”, sambung Usamah yang setuju dengan Yusuf.

“Mengenai tempat aksi bagaimana?” tanya Imran

“Ana saran tempat aksi kita bagi tiga tempat Masjid al-Munawwar sebagai pusat, depan Mall Jati Land, dan Depan Kantor Pos”, kata Said.

“Oke, ada saran lain?” tanya Imran lagi pada peserta rapat

“Bagaimana kalau kita fokus di Masjid Al-Munawwar saja, mengingat malam itu akan cukup ramai dan kondisi kader yang sebagian pulang kampung. Kita maksimalkan semua di sekitar al-Munawwar saja”, kata Hasnah.

“Oke dengan segala kemungkinan kita fokus ketiga tempat itu, Al-Munawwar, Jati Land, dan Depan Kantor Pos. Tapi bila tidak memungkinkan kita fokus di Al-Munawwar saja”, tandas Imran mengambil keputusan dengan jalan tengah.

“Dawam dan Usamah antum berdua nanti beserta beberapa teman komisariat nanti sedikan kardus sebagai tempat kumpul dana ya”, lanjut Imran.

“Akh Yusuf, antum nanti cari sound untuk aksi kita”

“Said antum maksimalkan talimat ke kader-kader, terutama para ikhwan. Antum juga dengan akh Mirgah koordinasikan tempat-tempat untuk aksi nanti. Sekalian buat surat untuk pemberitahuan aksi kepada Polda”

“Fatimah, anti bantu koordinir teman-teman akhwat”

“Kita cukupkan rapat kita hari ini. Semoga rencana aksi kita dimudahkan Allah dan diridhoi Allah. Kita tutup dengan hamdallah, dan doa kifratul majelis”

 

#

Rohingnya adalah komunitas yang mayoritasnya Muslim, dan tinggal di negara bagian Rakhine. Jumlah mereka sekitar sejuta, tapi mereka bukan kelompok masyarakat terbesar di Rakhine. Sebagian besar warga Rakhine beragama Buddha. Komunitas warga Rakhine merasa didiskriminasi secara budaya, juga tereksploitasi secara ekonomi dan disingkirkan secara politis oleh pemerintah pusat, yang didominasi etnis Burma. Dalam konteks spesial ini, Rohingya dianggap warga Rakhine sebagai saingan tambahan dan ancaman bagi identitas mereka sendiri. Inilah peyebab utama ketegangan di negara bagian itu, dan telah mengakibatkan sejumlah konflik senjata antar kedua kelompok.

Selain itu, kelompok Rakhine merasa dikhianati secara politis, karena warga Rohingnya tidak memberikan suara bagi partai politik mereka. Ini menyebabkan tambah runcingya ketegangan. Sementara itu, pemerintah tidak mendorong rekonsiliasi, melainkan mendukung fundamentalis Buddha dengan tujuan menjaga kepentingannya di kawasan yang kaya sumber alam tersebut. Faktor-faktor ini adalah penyebab utama di balik konflik antar kelompok etnis dan antar agama. Ini juga jadi penyebab memburuknya kondisi hidup warga Rohingya, serta pelanggaran hak-hak sosial-politis mereka.

Pendeknya, solusi domestik bagi masalah Rohingnya hanya bisa tercapai jika kelompok elit Myanmar yang memerintah, serta para pengambil keputusan, mengubah pola pikir mereka. Tapi perebutan sumber daya alam, keuntungan dari proyek-proyek pembangunan dan bangkitnya kelompok fundamentalis Buddha kemungkinan akan mencegah itu terjadi.

Hubungan antar agama di Myanmar adalah masalah yang sangat kompleks. Warga Muslim, terutama Rohingya, dikonfrontasikan dengan rasa takut mendalam terhadap Islam di masyarakat dan negara yang mayoritas warganya beragama Buddha. Warga yang fundamental mengklaim bahwa kebudayaan Buddha serta masyarakat terdesak oleh warga Muslim. Apalagi Myanmar dikelilingi negara-negara yang mayoritas warganya beragama Islam, seperti Bangladesh, Malaysia dan Indonesia. Warga Rohingnya dianggap sebagai ancaman terhadap gaya hidup dan kepercayaan Buddha, dan jadi jalan menuju islamisasi Myanmar.

Tapi masalah ini juga punya aspek ekonomi. Rakhine adalah salah satu negara bagian yang warganya paling miskin, walaupun kaya sumber daya alam. Jadi warga Rohingya dianggap beban ekonomi tambahan, jika mereka bersaing untuk mendapat pekerjaan dan kesempatan untuk berbisnis. Pekerjaan dan bisnis di negara bagian itu sebagian besar dikuasai kelompok elit Burma. Jadi bisa dibilang, rasa tidak suka warga Buddha terhadap Rohinya bukan saja masalah agama, melainkan didorong masalah politis dan ekonomis.

Akibat tidak memiliki kewarganegaraan yang sah, etnis Rohingya sering mengalami diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga menghadapi berbagai pembatasan termasuk dikontrol pergerakannya, pembatasan jumlah anak dalam keluarga serta hambatan akses ke pasar kerja.

Tahun 2015 ini aksi pengungsian lebih 25.000 warga Muslim Myanmar dengan menggunakan perahu mencuat jadi topik berita di tataran internasional. Masalah muncul terkait sikap pemerintah di tiga negara, yakni Thailand, Malaysia dan Indonesia dalam menangani manusia perahu itu. Sebetulnya exodus etnis Rohingya dari Myanmar atau warga Bangladesh lainnya dengan menggunakan perahu bukan fenomena baru.

Gelombang pengungsian besar-besaran pertama etnis Rohingya dengan menumpang perahu terjadi tahun 2012 saat konflik sektarian antara warga minoritas Muslim Rohingya dengan mayoritas Budhis di negara bagian Rakhine di Myanmar makin memburuk. Ketika itu lebih 200 warga etnis Rohingya tewas dan 140.000 lainnya digiring ke kamp-kamp penampungan.

Etnis Rohingya merupakan kaum minoritas di Myanmar dan Bangladesh, kebanyakan tidak memiliki kewarganegaraan yang sah. Jumlah populasinya menurut taksiran PBB mencapai sekitar 1,3 juta orang dan kebanyakan bermukim di negara bagian Rakhine yang tergolong paling miskin di Myanmar. Minoritas Rohingya beragama Islam, sementara mayoritas warga Myanmar beragama Budha.

Walau sudah bermukim di Myanmar selama beberapa generasi, anak cucu keturunan Rohingya tetap dipandang sebagai pengungsi ilegal dari negara tetangga Bangladesh. Di pihak lain, Bangladesh juga tidak mengakui mereka sebagai warga negaranya. Saat ini terdapat sekitar 300.000 warga Rohingya di Bangladesh, terutama di kawasan perbatasan ke Myanmar. Beberapa topik Rohingya yang dimuat di berbagai media cetak. Menjadi acuan bagi kader-kader Organisasi Kepemudaan Muslim ini.

“Motif kita adalah motif kemanusiaan, maka aksi kita adalah aksi kemanusiaan, kita lepas dari masalah etnis, masalah politik, masalah agama. Kita hanya menunjukkan rasa kepedulian kita sebagai seorang Muslim, yang memiliki fitrah kemanusiaan. Kemanusiaan manusia karena kita Muslim. Muslim lepas dari sekat-sekat geografis karena kepeduliannya kepada sesama manusia”, kata Said memberi penjelas mengenai kejadian Rohingya kepada kader-kader. Bahwa isu aksi adalah isu kemanusiaan bukan sekedar masalah agama.

 

#

 

“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, La Ilaaha Illallahu, Waallahu akbar, Allahu akbar,walillahilhamd”

            Gema takbir berkumandang dimana-mana malam itu. Kami yang tergabung dalam Pengurus Daerah Organisasi Kepemudaan Muslim menggalang dana Untuk Rohingya. “Assalamualaikum, Kepada seluruh kader diharapkan kehadirannya pada agenda “Nonton Bersama dan Galang Dana Untuk Rohingya, pukul 20.00- Selesai. Di Al-Munawwar. Jazakumullah. Tertanda Ketua Umum”, begitulah talimat yang disebarkan Ukhti Hasnah pada semua kader.

            Pukul 20.10 sudah banyak kader yang berkumpul menyiapkan perangkat-perangkat aksi mulai dari kardus, sound system, hingga LCD dan layarnya. Bahkan ada sebagian yang datang lebih awal, sholat berjamaah di Masjid Al-Munawwar. Aksi kami tepat di depan al-Munawwar kami galang dana. Al-Munawwar juga mendukung dengan aksi kami.

            Aksi kita memang fokuskan di al-Munawwar saja karena kondisi yang banyak orang. Tapi semua kader dimaksimalkan untuk orasi, galang dana, dan banyak juga orang-orang yang berminat untuk menonton video tentang Rohingya.

            Aksi berlangsung hingga pukul 00.00 malam. Semua kembali di rumah masing-masing. Rencana besok dilakukan kembali aksi di Masjid-Masjid karena kebetulan besok pada hari Jumat. Masjid yang menjadi tempat galang dana, Al-Munawwar, al-Mutaqin, dan al-Muhajirin.

            “Kita yang tergabung dalam organisasi kepemudaan Muslim ini, pada malam ini melakukan aksi solidaritas galang dana untuk Rohingya. Kami mengajak saudara-saudara sekalian, bapak, ibu untuk memberikan sedikit uluran tangan kepada saudara-saudara kita disana. Bahwa sungguh setiap mukmin itu bersaudara. Sungguh tidak sempurna iman seseorang kalau ia tidak mencintai saudaranya melebihi dirinya sendiri. Dan bentuk cinta bapak ibu sekalian adalah memberikan sedikit uluran tangan. Mungkin dengan itu bisa sangat berarti bagi mereka. Pada malam ini kita rayakan hari Kemenangan, malam takbiran dengan bahagia sementara saudara-saudara kita disana penuh dengan duka. Kami mengajak bapak ibu untuk sedikit berempati dengan saudara-saudara kita di Rohingya. Kita mengajak bapak ibu untuk memberikan sedikit uluran tangannya”, kata-kata sebagian kader dalam orasi. “Kami juga menggalakan nonton film untuk kejadian di Rohingya”.

 

#

“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, La Ilaaha Illallahu, Waallahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd”

            Pada hari kemenangan ini, pada hari yang fitri ini, pada Idul Fitri ini. Gema takbir berkumandang dimana-mana. Sedang lain sibuk dengan saling berkunjung. Kali ini para kader janji bertemu sebelum sholat Jumat di masjid masing-masing yang menjadi target untuk galang dana. Yusuf, Dawam, Said, Usamah untuk ke Masjid al-Muhajirin. Semua sudah disiapkan LCD, kabel, cok rol.

Bergegas ke masjid, ternyata sudah pukul 12 lebih, sudah banyak orang berada di masjid untuk sholat. Terpaksa kita agak terlambat. Info untuk pemberitahuan setelah sholat ada galang dana kepada jamaah sholat jumat juga belum disampaikan.

Setelah sholat selesai, baru kita sampaikan. Ternyata, para jamaah sholat Jumat sebagian sudah bergegas pulang, sebagian ada diundang makan di salah satu rumah Habib di sekitar masjid, katanya nanti balik setelah makan.

Kami menyiapkan untuk pemutaran video. Dan ternyata memang yang datang balik untuk menonton hanya beberapa jamaah saja. Raut-raut wajah kader agak kecewa, sebagian bingung mau bagaimana. “Semua ada hikmahnya akhi, kita yang terlambat. Tetap lanjutkan saja pemutaran videonya biar sedikit orang tidak apa-apa. Yang penting kita putar saja videonya. Galang dana nanti saja”, kata Said menyemangati kader yang lain.

Kami tetap lanjut untuk pemutaran video dan hanya beberapa bapak-bapak yang nonton. Setelah menonton selesai. Kami diajakn salah satu bapak-bapak untuk bercerita. “Saya tadi setelah makan, saya cepat kesini”, kata bapak-bapak ini. “Saya sangat segani dengan hal-hal seperti ini”.

“Mana ada anak muda yang mau mengurusi hal-hal seperti ini, peduli dengan permasalahan umat, permasalahan saudara Muslim lain, hanya orang-orang yang punya semangat dan peduli yang mau melakukan ini”, kata bapak-bapak ini lagi dengan raut muka yang agak serius dan suara yang agak paruh.

“Saya paling tidak bisa melihat saudara Muslim kami ditindas”, suaranya semakin paruh terdengar.

“Tadi saya setelah makan, saya langsung bergegas ke sini, ingin sekali menonton ini. Saya nonton pun saya gemetar”, kata bapak-bapak ini lagi

“Saya paling tidak setuju kalau ada saudara Muslim yang ditindas. Saya akan lawan. Saya lawan dengan diri saya, kelompok saya akan melawan itu, saya pernah terlibat dalam gerakan jihad. Bahkan hingga ke Afghanistan”, lanjut bapak-bapak ini dengan air mata yang meleleh dan suara yang paruh, dan kami juga kaget.

“Kelompok kami bukan yang bawa-bawa kompor dari masjid ke masjid. Kami hanya tidak setuju kalau ada saudara Muslim kami ditindas, untuk itu kami lawan. Tapi kami menghargai yang lain”.

Bapak-bapak ini bercerita tentang perjalanan jihadnya mulai dari perlawanan di Tobelo, hingga pelatihan-pelatihan fisik yang ia jalani. Hingga ikut jihad ke Afghanistan. “Kita dulu pernah latihan fisik, uji nyali dan keyakinan, berdiri dan truk dari arah sana menuju ke arah kita, dari arah lebih tinggi, dan kita di arah rendah, hingga berhenti dan batas antara truk dan kita hanya sebatas jarak sebesar mushaf, kita tidak ada yang takut, dan alhamdulillah saya lolos ujian ini”

“Kita juga pernah, ujian menyelamatkan orang dalam sebuah gedung, menggunakan kuda, sambil di tembak, dan kita harus mampu menyelamatkan diri kita, orang yang harus diselamatkan, dan juga kuda sebagai kendaraan”

Beliau juga bercerita tentang bagaimana kelompoknya dan para politisi yang sering memanfaatkan kondisi-kondisi seperti ini. “Dan kadang kita berencana melakukan aksi teror, tiba-tiba ada senjata yang diberikan tanpa kita ketahui asalnya dari mana”. “Kadang kita juga diberikan dana oleh mereka untuk ciptakan konfilk”

“Saya tidak peduli dengan itu semua, yang ingin saya tolong hanyalah saudara Muslim saya”

“Saya hanya ingin mati di jalan Allah, saya rindu syahid”

“Saya pernah ditangkap dan saya hanya ucapkan ya Allah, cabutlah rasa sakti ini, saya malu pada-Mu kalau rasa sakit ini saya rasakan”, kata beliau yang menceritakan ketika ditangkap dan kadang disiksa, kukunya dicabut, pahanya di ditindis bahkan dengan bangku. Beliau begitu terlihat yakin dengan tauhidnya

Beliau juga bercerita tentang ada tokoh yang dituduh teroris digerebek dan di tempat di lokasi. “Saya mengenal sosok itu, saya mengenal dekat, saya yakin itu bukan beliau yang mereka tangkap, dan yang mereka tembak itu”.

“Saya mengenal pimpinan-pimpinan itu, semoga mereka dirahmati Allah, mereka bukan orang sembarangan, mereka juga berilmu, ilmu agamanya kuat. Saya mengenal mereka dalam gerakan kita ini”

“Adik-adik saya mohon maaf kalau saya salah bicara, mari kita saling mendoakan agar istiqomah di jalan Allah. Kalian dengan aktivitas kalian dengan kelompok kalian, saya tidak tahu, saya dengan cara saya, saya hanya minta didoakan untuk mati di jalan Allah, mati syahid, hanya itu yang saya inginkan, saya rindu untuk itu bukan mati di jalan raya, bukan mati di dalam kamar mandi, bukan. Bukan”, kata beliau sambil meneteskan air mata, kamipun demikian. Kami terseduh dan tanpa sadar air mata kami juga jatuh, karena tersentuh melihat keteguhan beliau. Kami sama-sama rindu pada Tuhan kami.

“Saya tidak tahu kalian, tapi untuk peduli dengan saudara Muslim, saya rasa itu tidak mudah, hanya orang-orang yang punya semangat berIslam dan kepedulian yang mau melakukannya”, kata bapak-bapak ini lagi pada kami

“Apalagi kalian masih muda, sangat susah menemukan pemuda-pemuda yang mau mengurusi hal-hal begini”, kata beliau lagi dengan memberi semangat kali ini. “Tetap semangat dalam membela Islam, tetap istiqomah di jalan Allah”

Setelah perbincangan yang agak panjang ini, kami mohon izin untuk balik. Entah apa yang terjadi. Kami hanya mengambil hikmahnya saja, tentang seorang Muslim yang bersemangat dengan keyakinan tauhidnya.

                                                   

#

Setelah kejadian itu sesama kami berdiskusi. Setiba di sekret dan mau silahturahim di rumah para senior, pimpinan, qiyadah dan guru, murabbidi saat momentum Idul Fitri. Kita lanjut diskusi sebentar.

            “Satu janji itu adalah surga. Inilah yang dijanjikan untuk mereka yang telah berjihad, yang didera duka dan kegetiran, yang berjuang mati-matian di jalan dakwah”, kata Usamah itu seperti kata Sayyid Qutbh.

            “Masyarakat Islam berdiri di atas akidah bukan atas dasar kesukuan, tanah air, warna kulit, bahasa, dan kepentingan yang bersifat keduniaan yang terbatas pada sekat-sekat teritorial yang sempit”, lanjut Usamah

            “Ia, kepedulian kita, karena kita memang memahami bahwa Muslim adalah masyarakat yang terbuka untuk semua suku, bangsa, dan warna kulit, tanpa terkendala oleh sekat-sekat fisik yang sempit”, kata Yusuf

            “Menjadikan akidah sebagai tali pengikat. Islam bertujuan menampilkan kemanusiaan manusia”, lanjut Yusuf

            “Biarlah kita dengan cara seperti ini. Kita hanya ingin menampilkan Islam sebagai kemanusiaan manusia”, tambah Yusuf. “Kita memahami seperti kata Hasan al-Banna, bahwa peringkat pertama kekuatan adalah kekuatan akidah dan iman, kemudian kekuatan kesatuan dan ikatan persaudaraan, lalu kekuatan fisik dan senjata. Sebuah jamaah tidak bisa dikatakan kuat sebelum memiliki cakupan dari seluruh kekuatan tersebut. Manakala sebuah jamaah mempergunakan kekuatan fisik dan senjata, padahal ikatannya masih berserakan, sistemnya masih kacau, akidahnya masih lemah, dan cahaya imannya padam, maka kesudahan akhirnya adalah kehancuran dan kebinasaan”

            “Sudahlah kitakan hanya menolong saudara-saudara Muslim Rohingya dengan cara galang dana, menampilkan kemanusiaan manusia di atas segalanya”, kata Said

            “Karena kita berukhuwah, persaudaraan karena kesamaan iman yang menyala dalam dada”, kata Said lagi

            Semua terdiam dan saling menatap, tanda menyetujui tentang kemanusiaan manusia, persaudaraan, kesamaan akidah, itulah Muslim, itulah gerakan kita.

Mereka hanya melakukan seperti (Slogan Humanisme, Seneca, Filsuf Stoik Athena), “Manusia mendapatkan sesuatu dari manusia lain. Manusia melepaskan sesuatu dari manusia lain. Manusia menjadi manusia karena manusia lain atau mungkin ada juga manusia yang menjadi manusia kembali karena manusia lain. Bagi umat manusia, manusia itu suci”. Karena“Sebaik-baiknyamanusiaadalahmanusia yang bermanfaatbagimanusia lain”.

            Mereka yang saling mengikat dalam rasa persaudaraannya “Sebab semua yang ada di dalamnya mengungkapkan kecintaan yang dalam, keterikatan yang kuat, ukhuwah yang tulus, dan kerjasama yang kokoh. Kesatuan yang tulus, ikatan rabbani yang kokoh ini, dan sangat optimis menatap masa depan selama tetap bersaudara karena Allah, saling mencintai, dan saling tolong-menolong. Karena itu jagalah persatuan ini, sebab ia merupakan senjata dan bekal utama”.




Posting Komentar

0 Komentar