Lelucon Kerajaan Golojo
Konon
dari masa kejayaan di masa kerajaan dulu beratus-ratus tahun lalu, kemudian
menjadi Negara formal dan belum berjaya kemudian tiba-tiba dalam seratus tahun
kemudian berubah kembali menjadi kerajaan yang berharap kejayaan.
Ini kisah yang ditulis oleh seorang
rakyat jelata dalam kerajaan itu. Aku, aku adalah Nursi. Rakyat jelata yang
menikmati menulis sebagai jalur perubahan. Menulis saat ini mungkin tak punya
arti bagi kerajaan sekarang, tapi dengan menulis memberikan catatan pada masa
depan kerajaan, pendam Nursi dalam batinnya. “Catatan kelam atau kenikmatan
dalam kenangan,” Nursi dalam lamunannya.
Dalam kisah ini, Nursi sebagai
rakyat jelata menyaksikan suksesi kepemimpinan dalam memperebutkan tahta
kerajaan, Tuan Kido dan Tuan Bargi masih bersaing kembali untuk mempertegas
diri siapa yang layak memimpin kerajaan. Ini memang kerajaan tapi dalam
memimpin kerajaan bukan dengan keturunan.
Selain itu, dalam kerajaan ini
terdapat sebuah pulau kecil, dalam setiap pulau-pulau yang dihuni itu dipimpin
oleh kepala pulau sebagai perpanjangan tangan dalam kerajaan. Nun jauh dari
pusat kerajaan, dalam sebuah pulau kecil, muncullah sebuah kata golojo sebagai
awal muasal nama kerajaan. Ini sebagai serpihan dalam cerita kerajaan.
Dalam setiap pulau kecil dalam
kerajaan itu terjadi pula pertempuran untuk menduduki tahta yang layak memimpin
pulau dan akan berada dalam naungan langsung di bawah raja. Di sebuah pulau kecil
bertarung Tuan Abdul dan Tuan Muso untuk menjadi kepala pulau kecil ini.
“Yang lain sudah pernah memimpin dua
periode, maka biarkan saya lanjutkan saja periode berikut. Yang lain jangan
dulu sudah, jangan terlalu golojo
lagi,” kata Tuan Abdul. Dari sinilah kata golojo
menjadi terngiang dimana-mana. Sampai-sampai nama kerajaan di pusat menjadi
Kerajaan Golojo.
Pernah dalam sebuah forum perdebatan
kerajaan di Pulau Kecil, terjadi perdebatan Tuan Abdul dan Tuan Muso.
“Tuan Abdul yang saya muliakan, maaf
Tuan Abdul, saya mau bertanya ini yang pertama tentang tata kelola pekerja
kerajaan di Pulau Kecil yang sangat buruk menurut saya, dimana utang Kerajaan
Pulau Kecil saat ini sangat banyak belum terbayarkan, kemudian pekerja-pekerja
yang tidak maksimal kerja dan masuk kerja,” begitulah pertanyaan Tuan Muso pada
Tuan Abdul.
Tuan Abdul mengangkat suara, “Kami
pernah menjadi kepala, sebagai kepala Pulau Kecil, kami juga melihat ketika
dimana Tuan Muso pernah memimpin dusun dalam Pulau Kecil sebagai Kepala lain
dalam Pulau Kecil ini, segala transportasi terhenti, penerbangan terhenti. Dan
kami telah membangun dusun pulau kecil itu jalan-jalan, air minum dan tower,
segala infrastruktur sudah kami bangun, bahkan di depan rumah Tuan Muso, kami
sudah bikin bagus jalannya”.
Terjadi sebuah lelucon karena jawaban Tuan Abdul atas
pertanyaan Tuan Muso tidak saling nyambung. Karena memang persaingan Tuan Abdul
dan Tuan Muso sudah berlangsung lama, yang ada hanya saling sindir kinerja
sebagai kepala Pulau Kecil dalam Kerajaan Golojo.
Rakyat-rakyat jelata yang menyaksikan tertawa. Rakyat-rakyat jelata yang
menonton di rumah, tertawa. Dua orang yang berdebat malah jawaban dan
pertanyaan pada jalur yang berbeda. Semua tertawa mungkin karena sebagai Kepala
Pulau Kecil sudah terlampau tua.
Tuan Muso turut tertawa terhadap jawaban Tuan Abdul,
kemudian Tuan Muso berkata, “Yang saya maksudkan tata kelola kerajaan Tuan
Abdul. Sebenarnya bapak harus tegas dan menerapkan disiplin pekerja kerajaan.
Bapak Ustad kan? Harusnya bapak beri mereka ceramah dong. Itu kira-kira yang
bisa saya sampaikan,” tutur Tuan Muso dengan muka ambisinya.
Rakyat jelata kembali tertawa, apa hubungannya dengan
Ustad? Memang Tuan Abdul menempuh pendidikan jauh di negeri Arab sana. Beberapa
puluh tahun yang lalu.
Dalam segmen yang lain, Tuan Abdul dan Tuan Muso
kembali bikin riuh tawa bagi rakyat jelata di Pulau Kecil. Tuan Abdul berkata,
”Kami telah melakukan berbagai program kerajaan diantaranya program pertanian,
menyiapkan truk-truk untuk mengangkut di central-central ekonomi, kami juga
membangun gudang-gudang untuk memudahkan rakyat jelata dalam meningkat penyimpanan
hasil pertanian untuk kerajaan.”
Tuan Muso kemudian membantah, “Tuan Abdul yang saya
hormati, apa yang disampaikan Tuan Abdul tadi bagaikan hal yang mengkhayal bagi
saya, karena saya telah mengelilingi Pulau Kecil, semua dusun saya terjun,
hasil pertanian busuk, hasil perikanan rusak, dan semua tidak terjual, dan apa
yang Tuan sampaikan tadi hal yang mungkin Tuan masih lupa”. Kemudian Tuan Muso
melanjutkan, “Untuk itu ketika saya memimpin Pulau Kecil sebagai bagian kerajaan
semuanya pasti terjamin.”
Tawa riuh menyertai setelah penyampaian Tuan Muso.
Rakyat jelata diberikan rayuan indah, angan-angan kerajaan oleh Tuan Muso.
“Ah, tanggapan saya adalah apa yang disampaikan
merupakan khayal dari Tuan Muso karena beliau tidak menyeluruh melihat Pulau
Kecil. Saya empat puluh tahun mengelilingi Pulau Kecil dan tentang pertanian
dan perikanan, kami telah memberikan bantuan kepada rakyat jelata, kami telah
menghadirkan central produksi terutama gudang dan mengadakan truk untuk
mengangkut semua yang ada. Dan saya kira kalau itu dikatakan khayal maka yang
lebih mengkhayal adalah Tuan Muso. Karena Tuan Muso belum pernah melaksanakan
itu. Kalau bisa saya katakan kalau saya mimpi dan mengkhayal maka bisa
dipastikan Tuan Muso lebih mengkhayal dan mimpi,” Tuan Abdul dengan muka serius
menanggapi Tuan Muso, dalam suasana yang bagi rakyat jelata bagai sebuah
lelucon.
Dan rakyat jelata kembali tertawa menyaksikan serpihan
lelucon. Kerajaan Golojo dalam Pulau
Kecil hanyalah serpihan dari golojo
menjadi khayal dan mimpi kemudian semua menjadi lelucon.
Tapi ini hanyalah serpihan kecil. Karena kisah utama adalah Pusat Kerajaan Golojo, pertarungan Tuan Kido dan Tuan Bargi. Dalam Pulau Kecil itu Tuan Abdul dan Tuan Muso walau bertentangan dalam perebutan tahta kepala Pulau Kecil tapi mereka berdua mendukung Tuan Bargi untuk menduduki kembali tahta kerajaan pusat dalam Kerajaan Golojo.

Posting Komentar
0 Komentar