Serpihan Friksi
Serpihan Friksi
13
Sekretariat menjadi tempat bernaung
bagi aktivis gerakan kepemudaan Muslim ini. Di siang hari yang cuacanya cukup
panas itu. Dawam mengambil segelas air untuk minum sambil duduk bersama dengan
Usamah dan Said.
“Saya kira perbedaan pendapatan
diantara internal gerakan itu lumrah terjadi,” Dawam memulai
pembicaraan.
“Itu juga terjadi di Masyumi,” kata Dawam
“Sejak didirikan, terjadi dua arus pemikiran dalam
kumpulan, Masyumi yang satu begitu sosialis regilius dan yang satu lagi
kecenderungan konservatif”
“Umumnya silang pendapat dalam tubuh
Masyumi adalah perihal penafsiran apa dan bagaimana nilai-nilai sosial Islam
hendaknya diterapkan di Indonesia”, lanjut Dawam kembali.
“Kelompok sosialis-religius, yang
dipimpin Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Mohammad Roem menemukan
pijakan yang sama dengan kaum sosialis moderat pengikut Sjahrir maupun para
pemimpin progresif dari Partai Kristen. Sementara kelompok konservatif,
golongan tua, dipimpin Dr Sukiman dan Jusuf Wibisono”
“Atau perbedaan pandangan, bisa
terlihat dari kisah Umar dan Khalid? Atau Ali dan Muawiyah?” tanya Usamah.
“Atau faksi-faksi dalam gerakan
ikhwan lumrah terjadi di berbagai Negara?” sambung Usamah.
“Seperti faksi moderat versus
konservatif?” tambah
Usamah
“Bukan hanya itu, bisa jadi lebih
meluas, menjadi faksi konservatif, faksi konservatif – pragmatis, dan faksi
reformis,” sanggah Dawam.
“Maksudnya, antum berlebihan akh,” kata Said
“Konservatif itu bisa jadi seperti
antum,” Dawam diiringi dengan
tawa sebagai tanda sebuah candaan.
“Gerbong Konservatif, katakanlah
sebagai faksi dakwah. Faksi yang secara ideologis mengutamakan kontrol penuh
terhadap tingkat akar rumput dan juga kendali mereka terhadap alokasi berbagai
sumber daya yang mereka punya. Mereka bertanggung jawab terhadap rekrutmen,
kaderisasi, dan upaya memupuk loyalitas kalangan muda terhadap ikhwan”
“Gerbong Konservatif Pragmatis,
sebagai arus utama di kalangan ikhwan. Kelompok ini berupaya mengelaborasikan
antara konservatisme ideologi dengan pentingnya partisipasi dan keterlibatan
dalam isu-isu sosial politik. Kalangan ikhwani yang berpengalaman dalam
soal-soal legislasi berada di kelompok ini”
“Gerbong reformis. Sayap reformis
berupaya mempromosikan dan mendukung penafsiran-penafsiran Islam yang progresif
untuk diketengahkan baik kepada kader internal maupun masyarakat umum,” lanjut Dawam.
“Seperti Abdul Munim Abu Futuh? Atau
seperti catatanku dulu, Rashid Ghannouchi?” sanggah Usamah lagi.
“Hahaha, bisa begitu akh.
Sang Deklarator termasuk juga? Mungkin,” tandas Dawam dengan setengah tertawa.
“Sosok-sosok reformis merupakan
sumber inspirasi bagi kalangan anak muda. Seperti yang terlihat melakukan
kritik terbuka, dan mendukung berjalannya demokrasi secara murni”, kata Dawan dengan lukisan senyum di wajah.
“Ana kira bila kita mau mengambil
ibrah bisa kita lihat lebih jauh dalam sirah para sahabat nabi akh. Walaupun
berbagai hal yang antum sampaikan tadi juga punya ibrah buat pemahaman kita,” Said memulai
penjelasannya. Memandang tentang dinamika ini.
“Seperti ibrah pada Ustman dan Abu
Dzar al-Gifari. Abu Dzar senantiasa memberi masukan terbuka tetapi tetap
menaati Ustman atas segala perintahnya”
“Abu Dzar dengan keberanian dan atas
dasar ijtihadnya menantang para pejabat Ustman yang dianggap tak sejalan dengan
Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Suatu waktu Abu Dzar melepaskan pandangan
menyelidik kea rah orang-orang yang berkerumunan. Dilihatnya kebanyakan mereka
adalah orang-orang miskin yang dalam kebutuhan. Kemudian, pandangannya beralih
ke arah tempat-tempat ketinggian yang tidak jauh letaknya dari sana. Tampak
olehnya gedung-gedung dan kemewahan yang berlebihan. Ia pun menyeru kepada
orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya, “Saya heran melihat orang yang
tidak punya makanan di rumahnya, mengapa ia tidak mendatangi orang-orang itu
dengan menghunus pedangnya?”
“Tapi ketika Abu Dzar dipindahkan ke
Madinah karena Ustman memanggilny agar membersamainya tinggal di Madinah.
Hingga suatu hari dalam sebuah pembahasan di depan Ustman, Ka’b al-Ahbar,
seorang bekas rahib Yahudi yang masuk Islam mendebat Abu Dzar. Orang yag telah
berzakat, telah terbebas dari kewajiban lain atas hartanya, ujar Ka’b. Abu Dzar
marah dan agak tersinggung. Dan akhirnya tangan Abu Dzar melayang ke kepala
Ka’b. Karena kerasnya hantaman Ka’b tersungkur dan kepalanya luka”
“Melihat itu, Ustman menangis.
Agaknya engkau tak merasa nyaman bersama kami, wahai Abu Dzar. Apa yang harus
kami lakukan untukmu?”
“Tempatkanlah aku dimanapun engkau
suka. Bahkan Abu Dzar berkata, seandainya Ustman memerintahkan aku agar berlaku
sebagaimana budak hitam Habasyah. Aku pasti akan mendengar dan taat. Bahkan
jikapun Ustman menyalibku di atas batang kayu, aku juga pasti menaatinya dan ku
anggap hal itu sebagai kebaikan bagi diriku”
“Atau seperti sikap Sa’d ibn Abi
Waqqash kepada Ustman, ia tetap taat dan sejenak menghindarkan diri dari hiruk
pikuk kehidupan di seputar pemerintahan. Sa’d tersentak ketika membaca sura
pemecatan Ustman untuk dirinya dari jabatan sebagai Gubernur Kufah”
“Dia tak sedih karena digantikan dari
jabatannya. Dia sedih mengapa harus seseorang yang menurutnya ‘fasiq’
ditetapkan mengganti dirinya dalam amanah itu? Bukankah masih banyak shahabat
Rasulullah yang bertaqwa, shalihah, dan berkemampuan?”
“Sejak
kejadian itu, Sa’d lebih banyak menghindarkan diri tampil di depan umum. Dia
memilih berkelana ke berbagai wilayah untuk mengajarkan Kitabullah dan Sunnah,
berjihad serta melatih para prajurit sembari mengisahkan untuk mereka
peperangan-peperangan Rasulullah untuk membina jiwa para muda”
“Sa’d
terus istiqomah dengan sikapnya, bahkan ketika ‘Ali bin Abi Thalib dan putranya
al-Hasan wafat, lalu Mu’awiyah ibn Abi Sufyan mengambil bai’at untuk dirinya
sebagai raja, Sad didatangi oleh Muawiyah, “Wahai Paman, sesungguhnya di
belakangku terhunus seratus ribu pedang. Mereka semua bersumpah atas nama Allah
bahwa engkaulah, satu-satunya shahabat Rasulullah terjamin surge dan anggota
syura ‘Umar yang masih hidup adalah orang yang paling berhak atas khilafah ini,” penjelasan Said dengan menempatkan ibrah pada kisah
para sahabat nabi.
“Sa’d
dengan tersenyum, duhai
putra saudaraku, yang kuinginkan hanyalah sebilah pedang saja, tak lebih. Yang
ku kehendaki adalah sebilah pedang yang mampu menebas keras tanpa ampun
membelah tubuh orang kafir, namun luluh lembut tak berdaya di hadapan orang
mukmin”
“Atau seperti sikap Ali kepada
Ustman. Ya, sebagai seorang kawan yang tulus, sebagai penasehat yang paling
jujur, dan sahabat yang setia. Semua bisa memiliki pandangan yang berbeda tapi
tidak membuat satu dengan yang lain saling menjatuhkan”
“Suatu waktu Ali menemui Ustman.
Duhai abal Hasan, seandainya engkau berada ditempatku, demi Allah aku takkan
menyalahkan ataupun mencelamu, dan aku takkan menjelek-jelekkanmu, kata Usman
memulai”
“Aku tahu, demikianlah akhlakmu
dihiaskan, jawab Ali”
“Menurutmu, apakah termasuk
kemungkaran jika aku menghubungkan silaturrahim, menutupi celah, mengisi
kekosongan, melindungi orang yang sesat jalan, dan mengangkat orang seperti
yang telah diangkat oleh ‘Umar?”
“Umar tidak disalahkan atas hal itu,
tetapi mengapa orang-orang menyalahkan aku ketika mengangkat Abdullah ibn
‘Amir? Sungguh tak banyak kelebihan al-Mughirah ibn Syu’bah atasnya. Lanjut
Ustman”
“Ali kemudian menjawab, izinkan aku
menjelaskan perbedaanya ya Ustman. Adalah ‘Umar, jika mengangkat seorang
pejabat maka dia memegang batang hidungnya dengan kencang. Jika terdengar oleh
‘Umar, dia berlaku menyimpang, maka ditariknya hidung itu keras-keras dan
dibentaknya sejadi-jadinya sampai pucat. Adapun engkau, engkau tidak melakukan
itu. Engkau terlalu lembut hati dan berlapang dada atas penyelewengan yang
mereka lakukan!”
“Kita dengan sadar menyadari friksi
dalam setiap zaman, kemungkinan akan selalu ada. Tapi bagaimana sikap kita
dalam menyikapi itu adalah nilai terpenting. Menjadi frontal, pembangkang, atau
berbeda jalan. Memilih sikap sendiri. Atau tetap menjadi sebagai seorang yang
berbeda tapi selalu bersama. Tetap mendengar kepada yang memimpin, tetap
bersama dalam kumpulan walau berbeda,” kata Said dengan muka yang serius kepada
Dawam dan Usamah.
“Tapi menjadi progresif tetap menjadi
suatu kebutuhan dalam suatu gerakan. Begitulah saya kira akh,” kata Dawam
“Saya setuju menjadikan pemikiran
progresif seperti Sosialisme Religius adalah sikap progresif kita,” kata Usamah dengan
sedikit tertawa bersama Dawam
“Sudahlah yang paling penting
tetaplah bersama walau dengan pemikiran berbeda sebagai anasir dalam gerakan,” tegas Said.
Ketika mereka berhenti menyelesaikan
penjelasannya mengenai dinamika. Dekat di sekitar sekretariat suara adzan
menggaung di udara. Tanda mereka harus bergegas ke masjid.
“Sholatlah untuk mengingat Allah.
Sholat adalah kunci hati. Karena hati sudah sepantasnya terbakar oleh janji dan
ancaman Allah karena ia adalah seorang hamba yang penuh dosa dan hina di
hadapan Tuhan yang Mahaperkasa.”
Dan terbayanglah Usamah pada sebuah
pesan, “Jika sholatmu terburu-buru. Maka kau akan kehilangan ketentraman hati.
Jika sholatmu terburu-buru. Maka kau akan kehilangan cahaya Illahi. Jika
sholatmu terburu-buru. Maka malaikat akan meninggalkanmu pergi. Jika sholatmu
terburu-buru. Maka setan akan datang
menemani.”
Sembari ia mengucapkan astagfirullah.
#
Sehabis melakukan sholat Ashar. Said
sejenak membuka handphone-nya, melihat pemberitahuan di facebooknya. Dilihat di
salah satu grup untuk Maluku Utara, tertera;
“Organisasi Kepemudaan Muslim telah
melakukan tindakan pengafiran kepada sesama muslim. Dalam edaran berjudul Daftar
Perilaku Masyarakat Maluku Utara yang Bertentangan dengan Al-Qur'an.” Organisasi Kepemudaan
Muslim ini disebut telah membagi selembaran berisi; semacam membaca Barzanji,
adzan dua kali shalat Jumat, berdzikir di awal shalat duhur dituduh bid'ah.
Mereka juga mengafirkan upacara bendera sekolah, ziarah kuburan tua, pesta pernikahan
dan lainnya. Organisasi Kepemudaan Muslim ini telah mengategorisasi 21 bentuk
amalan masyarakat Maluku Utara sebagai bid'ah dan syirik
Dari kajian dan penelitian Organisasi
Kepemudaan Muslim di Maluku Utara ini bahwa perilaku masyarakat Maluku Utara
dalam menjalankan ritual keagamaan sudah melenceng jauh dari perintah Al-Qur'an
karena ritual yang dilakukan masih berdasarkan adat istiadat yang di dalam
Islam itu sendiri tidak pernah diperkenalkan oleh para nabi terdahulu. Dalam
kategorisasi Islam maka perilaku ini kita kategorikan sebagai bid'ah dan kafir
karena tidak sesuai dengan perintah di dalam Al-Qur'an, contoh perilaku
tersebut antara lain:
Bid'ah: Tahlilan 7 atau 9 malam untuk
orang meninggal dunia, baca barzanji, doa qunut di waktu subuh, cukur rambut
balita, membaca sholawat di akhir sholat, adzan 2 kali shalat Jumat, berdzikir
di awal sholat duhur, peringatan isra miraj, peringatan maulid nabi, peringatan
lailatul qadar atau malam
ela-ela, membaca doa di kuburan, ziarah
kuburan tua/jere, meminta kesembuhan ke dukun, Legu Gam, memanggil jin atau selai jin, subah jou
untuk sultan, pesta pernikahan
atau pesta kampung, menggunakan dupa atau tahlilan, menggunakan
adzan sebelum adzan, upacara bendera sekolah, memilih pemimpin agama lain”. Hal
ini juga kemudian terjadi berita di koran lokal pada hari itu.
Said kaget melihat hal ini, “Siapa
pula yang telah memfitnah gerakan kami ini?”
Said
menyampaikan ini kepada Dawam dan Usamah. “Lihat ini,” Said sambil memberi
handphone kepada Dawam dan juga Usamah.
“Mungkin kita yang terkesan eksklusif
walaupun hal-hal demikian tidak pernah kita katakan sebagai bid’ah atau
sejenisnya.”
“Kita perlu mengklarifikasi hal ini
ke media yang mengutip media online tersebut”, Dawam memberi tanggapan.
“Ini permainan. Ada yang sengaja
menyebutkan kita kerja sama dengan ormas Islam lain yang sudah terlanjut
terlarang dan menyebutkan kami mengatakan beberapa hal sebagai bid’ah”
“Ini permainan. Yang bisa jadi
membuat organisasi kita termasuk dalam kategori terlarang atau dibenci
masyarakat,”
jawab Said.
Dan beberapa waktu ke depan mereka
merencanakan untuk ke media terkait sebagai bentuk klarifikasi.
#
Imran sebagai ketua, bersama Said,
Dawam, Usamah, Yusuf dan Mirgah keesokan harinya setelahh rapat terkait ini
dengan beberapa pengurus, bersepakat untuk ke media. Dan mengklarifikasi
langsung ke media yang memuat berita itu.
Mereka bertemu langsung dengan
redaksi media itu, “Kami
kesini karena merasa penting mengklarifikasi persoalan ini karena hal yang
terjadi di luar daerah disangkut pautkan dengan Organisasi kami yang di Maluku
Utara. Tentang screenshoot yang dianggap sebagai bukti bahwa kami dan sebuah
ormas (yang sudah terlarang) telah melakukan tindakan pengafiran kepada sesama
muslim adalah tidak benar”
“Antara
ormas Islam itu dengan kami sebagai organisasi kepemudaan tidak ada hubungan,
karena masing-masing organisasi memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah
tangga sendiri-sendiri. Lagi pula, kami adalah organisasi kepemudaan bukan
lembaga fatwa, sehingga tidak berhak mengeluarkan fatwa haram atau halal. Kami
adalah organisasi kepemudaan, jadi tidak punya ranah itu, apalagi mengkafirkan.
Ini tidak benar”
“Kami
membantah edaran berjudul "Daftar Perilaku Masyarakat Maluku Utara yang
Bertentangan dengan Al-Qur'an". Kami disebut telah melakukan serangkaian
penelitian yang menghasilkan kesimpulan bahwa amaliyah itu, semacam membaca
barzanji, adzan dua kali shalat Jumat, berdzikir di awal shalat duhur dituduh
bid'ah. Kami juga dituduh mengafirkan upacara bendera sekolah, ziarah kuburan
tua, pesta pernikahan dan lainnya”, kata Imran sebagai ketua. “Kami tidak
pernah melakukan penelitian apa pun terkait hal itu. Faktanya melakukan upacara
bendera, ziarah ke taman makam pahlawan pada 17 Agustus, membaca yasin,
tahlilan, perayaan Isra Mi’raj maupun acara perkawinan.”
“Website yang memuat berita itu,
menurut teman-teman di pusat, adalah media ilegal, sehingga dengan pemberitaan
itu kami merasa dirugikan, karena pemberitaannya tidak sesuai fakta”
Imran
kemudian juga membantah, edaran lengkap yang mengafirkan sesama muslim yang
berbunyi, dari kajian dan penelitian Ormas Islam dan kami yang merupakan
Pengurus di Maluku Utara.
“Sebenarnya
itu tidak benar, karena kami tidak pernah membuat edaran itu.
Disamping itu, dalam kategorisasi Islam perilaku yang dikategorikan sebagai
bid'ah dan kafir karena tidak sesuai dengan perintah dalam Al-Qur'an. Kami
sebagai organisasi kepemudaan bukan sebagai lembaga fatwa”
Imran
kemudian melanjutkan, “Bahwa kami mencurigai, ada upaya oknum-oknum tertentu
yang sengaja menghancurkan organisasi kami, karena itu mereka meminta aparat
penegak hukum, dalam hal ini kepolisian untuk mengusutnya”.
Said
juga mengatakan sebagai himbauan kepada masyarakat Maluku Utara untuk tidak
terpancing dengan isu-isu yang tidak benar melalui media sosial. “Intinya,
semua yang dituduhkan dalam pemberitaan itu tidak benar dan hoax alias berita
palsu.”
Keesokan
harinya media itu memuat berita kunjungan mereka sebagai bentuk klarifikasi.
Mungkin ke depan kita perlu lebih banyak bersilaturahim dengan berbagai gerakan
keislaman yang lain.
.webp)
Posting Komentar
0 Komentar