Kejulidan Perempuan Feminisme Kepada Ayah Muda


Kejulidan Perempuan Feminisme Kepada Ayah Muda
M. Sadli Umasangaji









Isu-isu soal feminis di satu sisi mungkin bisa membuat saling jewer antara perempuan-perempuan yang merasa punya kewenangan tentang perempuan (menjadi jagoan perempuan, baca: feminisme) dengan perempuan-perempuan jagoan lain yang kadang bentuknya adalah muslimah-muslimah. Bisa jadi kedua-duanya adalah perempuan cerdas. Hanya pendulum pandangan awal keduanya berbeda membuat penyikapannya menjadi berbeda. Yang satu merasa terlalu banyak perempuan-perempuan yang tertindas dan yang satu merasa keindahan perempuan adalah berbagi dengan suaminya.


Perempuan-perempuan feminisme (kalau disebut demikian) berasal dari pendulum negatif, kekerasan perempuan, ruang perempuan yang terbatasi, perempuan yang tak bahagia, perempuan diintimidasi laki-laki, dan perempuan selalu jadi korban. Perempuan-perempuan dengan (gerakan ini) dapat dikatakan ia berkaca pada advokasi kasus, di lingkungan sekitar yang tertindas, atau kadang (tapi terlalu sedikit) yang berkaca pada diri sendiri. Mereka yang mendaku itu lebih banyak bertugas untuk advokasi. Kadang-kadang terbesit, “Bagaimana keluarga pengadvokasi ini, apakah bermasalah juga? Apakah ia bercermin dalam dirinya sendiri?”.


Sementara pandangan perempuan-perempuan berkerudung dimulai dari pandangan yang mungkin positif, pandangan tentang keluarga yang bahagia, suami yang membahagiakan, fitrah perempuan. Bisa dibilang sedikit saja yang berakar kepada advokasi kasus. Mereka lebih soal berbagi tips, menjadi istri solehah, membentuk keluarga sakinah. Pertanyaan sama, “Bagaimana keluarga pembagi tips ini, apakah bahagia juga? Apakah ia bercermin dalam dirinya sendiri?”.


Bila kita lihat isu-isu feminisme yang berkembang di Indonesia sebenarnya lebih banyak soal kekerasan perempuan, perempuan yang ditindas bahkan ruang publik perempuan. Ketika berkembang pada titik ini, harusnya kedua kelompok yang saling menjewer bisa berdamai. Tapi sayangnya keduanya saling julid terutama ketika RUU P-KS hadir. Semua mungkin tidak setuju dengan tindakan pemerkosaan, tindakan pelecehan, tindakan penghinaan verbal kepada perempuan dan lainnya. Yang menjadi pro kontra yang bisa jadi mis persepsi atau sebaliknya samar-samar terselubung adalah misalkan soal orang tua yang mengatur pakaian anaknya, soal urusan seksual yang menyimpang menjadi urusan pribadi, dan lainnya. Tapi sayangnya orang-orang tidak melihat atau butanya menjadi sebelah saja, padahal dalam Islam bukan hanya perempuan yang disuruh menjaga pandangan tapi juga laki-laki, bahkan dalam penghasilan suami itu milik ibunya dan milik istrinya. Sementara penghasilan istri bukan milik suami. Dalam urusan pembagian harta pun hikmahnya laki-laki mendapat lebih banyak karena ia memiliki tanggung jawab pada perempuan. Realitas-realitas yang membuat orang menjadi buta sebelah.


Bahkan ketika hadir isu-isu semisal childfree. Isu-isu itu sebenarnya akan menjadi pilihan pribadi ketika ia tetap menjadi pilihan pribadi tidak masuk ke dalam ruang publik yang mempengaruhi pilihan-pilihan kekolektifan. Ketika masuk ke ruang publik punya ruang untuk saling menjewer. Tapi dalam hal ini penulis sebagai Ayah Muda, kalau disebut demikian sambil senyum ya. Isu-isu feminis bisa jadi membahagiakan juga para pria atau menindas para pria atau sebaliknya para-para Ayah Muda itu memberikan kejulidan pada perempuan-perempuan feminis.

Percayalah Ayah-Ayah Muda itu bahagia kalau istrinya punya pekerjaan, punya penghasilan, berpendidikan, bahkan kalau istrinya bekerja dan mendapatkan cuti yang panjang bahkan suami juga diberikan cuti itu jauh lebih membahagiakan. Bahkan kebahagian negatif juga menyertai contohnya childfree siapa laki-laki yang tak bahagia dengan itu (negatif ya) hanya hidup dengan sekedar-sekedar urusan begitu. Tapi mungkin ada hal-hal yang dapat membuat kejulidan pada perempuan-perempuan feminis terhadap Ayah-Ayah Muda.


Pertama, Konsep Ayah ASI. Ayah ASI merupakan konsep untuk membagi peran antara ayah dan ibu dalam mendukung dan mencapai pemberian ASI Eksklusif pada bayi mereka. Bahkan slogan Ayah ASI adalah bikinnya berdua, urusnya juga berdua. Peran Ayah dalam proses pemberian ASI tentu bukan soal mengganti ibu secara biologis untuk proses menyusu dan menyusui. Peran Ayah dalam proses ini adalah menambah pemahaman dan pengetahuan tentang ASI dan Menyusui kemudian memberi dukungan, mendorong proses ASI Eksklusif dan juga mendukung proses Menyusui bahkan hingga 2 tahun.


Kedua, Konsep Ayah MP ASI. Ayah MP ASI adalah hampir mirip dengan Ayah ASI. Tugas Ayah disini adalah menambah pemahaman dan pengetahuan tentang MP ASI kemudian turut serta dalam pemberian MP ASI. Belanja bahan-bahan makanan ke pasar, bahkan bila mungkin turut serta mengatur dan membuat MP ASI.


Ketiga, Ayah (Bapak) Muda Semi Rumah Tangga. Penyebutan bapak-bapak mungkin memiliki kecenderungan pada suami yang sudah tua sementara penyebutan ayah memiliki kecenderungan lebih trendi. Penulis pikir menjadi Bapak Semi Rumah Tangga adalah hal-hal yang dapat dialami oleh bapak-bapak (ayah) muda yang memiliki istri dengan kesibukan di luar rumah. Sebagai Ayah Muda yang istrinya melanjutkan studi, penulis pernah merasakan hal ini dalam beberapa waktu lalu. Mulai dari membuat susu untuk anak, membuat makanan untuk anak, menidurkan anak ketika mengantuk. Bahkan belanja-belanja ke pasar tradisional, ke toko-toko swalayan adalah Ayah Muda Semi Rumah Tangga yang melakukan. Ya, tentu Bapak Semi Rumah Tangga ini akan dirasakan oleh keluarga-keluarga kelas menengah dengan ekonomi-ekonomi sederhana. Ketimbang keluarga kalangan atas.


Baginda Nabi pun mentitahkan “Sebaiknya-baiknya iman seseorang adalah dia yang memiliki akhlak paling baik. Dan yang paling baik akhlaknya adalah mereka yang paling baik terhadap istrinya”. Dan Jumhur Ulama (Syafiiyyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah) berpendapat bahwa tidak wajib bagi istri membantu suaminya. Tetapi lebih baik jika melakukan seperti apa yang berlaku (membantu). Sekali lagi realitas-realitas yang berbedalah yang membuat kejulidan itu terjadi.

Posting Komentar

0 Komentar