Pembangunan Manusia Adaptif Menghadapi Pola Kehidupan Baru


Pembangunan Manusia Adaptif Menghadapi Pola Kehidupan Baru
(Living with Pandemic)

Ati’ah Dyah Lestari, SST
Coach Malut EduSmart)


















Dinamika pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) yang cukup tinggi berdampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tak terkecuali terhadap pembangunan manusia. Pasalnya, Program Pembangunan PBB pada 20 Mei 2020 telah mengingatkan akibat dampak covid-19 pembangunan manusia secara global berpotensi mengalami kemunduran. Manusia adalah muara dari seluruh proses pembangunan karena pembangunan dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri. Menurut United Nations Development Programme (UNDP), tujuan utama dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyatnya untuk menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan produktif. Dalam laporan Global Human Development Report pada 1990, UNDP memperkenalkan konsep pembangunan manusia sebagai paradigma baru model pembangunan. Pembangunan manusia dirumuskan sebagai perluasan pilihan bagi penduduk yang dapat dilihat sebagai proses upaya ke arah perluasan pilihan dan sekaligus sebagai taraf yang dicapai dari upaya tersebut yang diukur menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).


IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam membangun kualitas hidup manusia. Indeks ini menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. IPM dihitung dari tiga dimensi pembangunan manusia yang paling mendasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Dimensi umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh Usia Harapan Hidup pada saat lahir (UHH). Dimensi pengetahuan diukur menggunakan indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). Standar hidup yang layak digambarkan oleh pengeluaran per kapita riil disesuaikan, yang ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli.



Pembangunan Manusia di Maluku Utara

Dalam Visi “Maluku Utara Sejahtera”, dijabarkan salah satu misi yang pertama yaitu membangun sumberdaya manusia yang sehat, cerdas dan berbudaya. Misi ini merupakan komitmen Pemerintah Provinsi Maluku Utara yang sejalan dengan pembangunan manusia berdasarkan dimensi umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak untuk masyarakat sejahtera.

Pada 2020 IPM Maluku Utara mengalami penurunan sebesar 0,31 persen dibanding tahun sebelumnya sebagai dampak pukulan dari pandemic Covid-19 yang muncul di awal tahun 2020. Namun di tahun 2021 capaian IPM Maluku Utara meningkat, tercatat sebesar 68,76 yaitu naik 0,39 persen. Dengan demikian status pembangunan manusia Maluku Utara masih bertaraf sedang (60≤IPM<70) dan masih di bawah nasional dimana secara nasional IPM Indonesia tercatat sebesar 72,29 yang sudah berstatus tinggi. Namun jika kita lihat berdasarkan kabupaten/ kota di Maluku Utara, ada dua daerah yang memiliki nilai IPM di atas provinsi yaitu Kota Tidore Kepulauan dan Kota Ternate. Bahkan Kota Ternate memiliki IPM tertinggi yaitu 80,14 dimana status pembangunan manusia itu sudah berada pada level sangat tinggi (IPM>80).

Meningkatnya nilai IPM di Maluku Utara di tahun 2021 ini tidak terlepas dari komponen pendukungnya yaitu Umur Harapan Hidup saat Lahir (UHH) sebesar 68,45 tahun atau meningkat 0,18 persen, Harapan Lama Sekolah (HLS) 13,68 tahun atau meningkat 0,07 persen, Rata-rata Lama Sekolah (MYS) 9,09 tahun atau meningkat 0,55 persen dan Pengeluaran per Kapita /tahun yaitu 8.140 (ribu rupiah) meningkat 1,34 persen.



Strategi Pembangunan Manusia menghadapi Pola Kehidupan Baru

Beberapa hari yang lalu telah dilakukan penyerahan DIPA APBN 2022 dengan total anggaran belanja APBN 2022 mencapai Rp2.714,2T. APBN 2022 tetap berfokus penanganan Pandemi Covid-19 yang belum berakhir dengan munculnya varian Omicron. Pemerintah fokus untuk terus melindungi keselamatan masyarakat dalam menghadapi resiko Covid-19 yang masih penuh ketidakpastian. Strategi penanganan Covid-19 yang adaptif diperlukan dalam menghadapi pola kehidupan baru. Termasuk disini adalah bagian untuk kesejahteraan manusia itu sendiri, pembangunan manusia yang adaptif dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Dari sisi Kesehatan anggaran kesehatan untuk lanjutan penanganan Covid-19, penguatan kualitas kesehatan, dan reformasi sistem Kesehatan. Anggaran Kesehatan mengikuti dinamika perkembangan pandemi Covid-19 dan respon kebijakan yang diambil. Dari sisi Perlindungan Sosial anggaran digunakan untuk mempercepat penurunan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan pembangunan SDM jangka panjang. Sepanjang hayat dan adaptif yaitu melaksanakan program yang menjangkau setiap kelompok usia. Dari sisi Pendidikan dimana kita tau kualitas pendidikan adalah penentu kemajuan suatu bangsa. Indonesia bahkan menyatakan dalam konstitusi bahwa anggaran pendidikan harus minimal 20% dari total APBN (Belanja Negara). Anggaran pendidikan adalah Investasi penting bagi kualitas SDM Indonesia.

Karenanya mari jaga dan kelola dengan seksama strategi pembangunan manusia yang adaptif dalam menghadapi pola baru (living with pandemi) agar berhasil guna. Kualitas SDM tetap terjaga melalui penyediaan layanan di bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial yang memadai meskipun di masa pandemic. Sehingga pada akhirnya dampak pandemi kepada kesejahteraan masyarakat dapat diredam dan mulai berangsur pulih. Maka dengan melandainya kasus Covid-19 dan mulai bangkitnya ekonomi perlu dijaga agar bisa jadi pendongkrak lompatan kesejahteraan manusia di Indonesia dan di Maluku Utara khususnya.

Posting Komentar

0 Komentar