Parade Puisi, Buku yang Disukai, Sebuah Kegembiraan yang Absurd
Parade Puisi, Buku yang Disukai, Sebuah Kegembiraan yang Absurd
Saat ini saya juga sedang mempersiapkan kegiatan Parade Puisi Untuk
Palestina. Salah satu buku acuan yang kami jadikan untuk membaca puisi adalah
buku Helvy Tiana Rosa dengan judul Kumpulan Puisi Jantung yang Berdetak dalam
Batu. Beberapa puisi tentang Palestina yang kami jadikan acuan, Jantung yang
Berdetak Dalam Batu, Deklarasi Hak Asasi Manusia, Dari Jakarta, Ke Langit Gaza
dan Beirut, Pengantin Gaza, Cinta yang Menghancurkan Propaganda, Tubuh yang
Melawan Baja, Pertemuan dengan Buya Hamka, Intifada, Palestina Menang. Salah
satu puisi itu, Jantung yang Berdetak dalam Batu.
JANTUNG YANG BERDETAK DALAM BATU
: Yahya
Di antara batu-batu
yang dilemparkan pada penjajah
terdengar detak jantung Yahya
hidupkan perlawanan
Setiap tangan kecil
yang menggenggam batu,
menggenggam semangat Yahya.
Setiap lemparan memecah udara
menjelma suara kebebasan paling gema
di atas nestapa al Aqsa
Ketika ia jatuh, bumi Gaza terasa sunyi
tapi dalam hening, ada gemuruh
Yahya adalah detak yang terus tumbuh
Ia pahlawan yang hidup dan menghidupkan
dalam setiap doa dan langkah
Dan Palestina akan terus menyulam
kemerdekaan dengan darah syuhada
hingga penjajah biadab gundah, terbirit dan kalah
(Depok, 18 Oktober 2024)
Jantung yang Berdetak dalam Batu
Helvy Tiana Rosa
Selain itu, saya juga menyukai puisi dengan judul Pertemuan dengan Buya
Hamka dan Palestina Menang. Dalam Parade Puisi atau konten puisi nanti saya
ingin mencoba membaca puisi Pertemuan dengan Buya Hamka.
PERTEMUAN DENGAN BUYA HAMKA
Aku
bertemu Buya di malam Ramadan yang koyak,
ketika
Gaza tak lagi punya tempat untuk sahur dan berbuka
Langit
memerah, meledak di dada kanak-kanak,
dan
tanah menganga, menelan tubuh-tubuh tanpa kafan.
“Lihatlah
umat ini,” kata Buya, suaranya berat,
“Bersujud
di masjid-masjid megah,
tapi
membiarkan saudara mereka dibantai,
dalam
siaran-siaran langsung.”
Di
layar-layar kaca, mereka berbicara,
tentang
diplomasi dan negosiasi
Tapi
kebenaran kian dihabisi
sementara
di antara reruntuhan sekolah dan rumah sakit,
para
ibu dengan tangan berdarah,
terus
menggali, mencari anak mereka
“Israel
menulis dustanya dengan peluru,” kata Buya,
“Amerika
membungkusnya dengan propaganda.
Dan
kita masih sibuk berselisih, abai,
mengukur-ukur
nurani ini dengan jarak.”
Aku
menggigit bibir, dadaku sesak,
karena
aku tahu Buya benar.
Kita
lebih takut kehilangan perdagangan dan jabatan
daripada
kehilangan Palestina dari peta dunia.
Buya
mengangkat wajahnya ke langit yang muram,
“Jika
kau tak bisa mengangkat senjata,” katanya,
“angkat
suaramu setinggi-tingginya!
Jangan
biarkan kebisuan menjadi kuburan bagi kemanusiaan.”
Buya
menatapku, matanya seperti sumur yang dalam.
“Jika
kau bingung mengambil peran,
setidaknya
jadilah batu di tangan anak-anak itu,
daripada
menjadi bisu di hadapan sejarah
yang
mencatat pengkhianatan kita.”
Aku
tergugu,
Buya
melangkah pergi, hilang dalam bayang
tapi
kata-katanya tetap tinggal,
menjelma
bara di dadaku,
menjadi
perlawanan di puisiku.
(Jakarta,
20 Maret 2025)
Helvy
Tiana Rosa
Jantung
yang Berdetak dalam Batu
Dan
puisi, Palestina Menang.
PALESTINA MENANG
:
untuk Sutardji Calzoum Bachri
tanah
pecah
langit
belah
darahmu
mengalir
jadi
sungai
jadi
laut
jadi
batu kecil
di
tangan anak-anakmu yang lapar!
Palestina
kau
napas yang dipenjara
kau
doa yang ditembak
kau
masjid
kau
gereja
kau
sekolah
Kau
rumah sakit yang terbakar
kau
suara yang dibungkam tank-tank
tapi
masih mendengung
di
dada bumi!
Palestina
mereka
bom jantungmu
mereka
ukir dusta di tubuhmu
mereka
tawa di atas mayatmu
tapi
kau tidak mati!
tidak
mati!
tidak
mati!
Palestina
kau
batu
kau
zikir
kau
jerit
kau
iman yang ditikam
tapi
tumbuh
tumbuh
tumbuh
jadi nyala!
Palestina
dunia
menyebut namamu,
di
bawah langit retak
kau
bendera
yang
berkibar di hati
yang
tak pernah tunduk!
Palestina
kau
menang!
di
setiap reruntuhan
kau
menang!
di
setiap batu yang dilempar
kau
menang!
di
setiap doa
kau
menang!
Palestina!
(Jakarta,
November 2024)
Helvy
Tiana Rosa
Jantung
yang Berdetak dalam Batu
Karya yang Disukai
Selain buku Kumpulan Puisi Jantung yang Berdetak dalam Batu. Saya
sangat menyukai sastra, terutama prosa novel dan juga cerpen. Salah satu
kumpulan cerpen yang saya sukai adalah Si Tukang Onar, karya Maxim Gorky. Saya
juga menyukai beberapa novel seperti Semua Ikan di Langit karya Ziggy
Zezsyazeoviennazabrizkie, Karnak Café karya Naguib Mahfouz. Saat ini saya
sedang membaca atau mungkin membawa novel Orang Gagal karya Osamu Dazai. Selama
Ramadhan, salah satu buku yaitu Tarbiyah Ruhiyah karya Dr. Abdullah Nashih
Ulwan. Saya juga menyukai salah satu karya tentang biografi Sayyid Qutbh karya
Dr. Shalah al-Khalidiy.
Karya Sendiri
Selain itu, bagi saya sendiri membaca karya sendiri adalah kesenangan
atau kegembiraan yang absurd. Semacam mengevaluasi kapan saya menulis ini,
mengapa bisa saya menulis ini, atau oh, ternyata tulisan saya seperti ini bagus
juga. Dan berbagai perasaan lainnya. Novel saya berjudul Serpihan Identitas,
Serpihan Identitas adalah rangkaian cerita para pemuda yang bergelut dalam
gerakan pemuda memiliki karakternya masing-masing. Usamah, Said, Dawam, Mirgah,
dan juga Yusuf bergelut dalam sebuah organisasi kepemudaan Islam. Kemudian
menceritakan tentang karakter masing-masing dan dalam sebuah konfilk dalam
sebuah gerakan yang lebih besar. Serpihan Identitas berkisah tentang gerakan
Islam di Indonesia, perdebatan-perdebatan identitas sebagai aktivis Muslim,
diskusi-diskusi gerakan Islam, perenungan-perenungan tentang tauhid, pemuda
yang menyukai gagasan Sayyid Qutbh, pemuda yang menyukai novel Pramoedya Ananta
Toer, kejadian Reformasi 1998, problem terorisme hingga diskursus Sosialisme
Religius. Suasana begitu riuh, kadang
mencekam, di samping begitu banyak orang-orang yang menegaskan diri sebagai
keamanan negara, memegang senjata, para aparatur keamanan negara. Tahun 1998,
para pemuda itu menuntut reformasi. Mereka yang berjuang dengan jiwa mereka,
untuk membela kebenaran, keadilan dan demokrasi. Mereka yang bersenjatakan
spanduk, poster dan megafon.
Novel saya berikut berjudul Orang-Orang Sederhana, Orang-Orang
Sederhana bercerita tentang kehidupan Gifar dan kawan-kawannya dalam perjuangan
dan kehidupan mereka masing-masing. Gifar, Ismu, Arkan dan Bang Sira adalah
pemuda-pemuda desa sederhana yang memilih melanjutkan studi di Kota T.
Menjalani diskusi-diskusi gerakan mereka, keterlibatan mereka dalam Gerakan
Muda Langit Senja serta dilema terhadap tanah coklat merah. Orang-Orang
Sederhana juga bercerita tentang polemik daerah tambang yakni pada kabupaten HT
tempat tinggal Gifar dan Ismu. Kemudian cerita berjalan mundur kembali ke Desa
W, tempat tinggal Gifar dan masa remajanya serta keinginan Gifar untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi. Kemudian bercerita tentang perjalanan Gifar di
Kota T, tentang Kota T dan sejarahnya, beberapa desa yang dikunjunginya, desa
G, pala serta diskursus mengenai kaum miskin, kelas yang sadar, gerakan kelas
menengah dengan berbagai teman sesama aktivis pergerakan, keterlibatan dalam
Gerakan Muda Langit Senja. Terakhir bercerita tentang perjalanan kembali ke
desa dan kehidupan absurd paska kampus, jalan sunyi, manusia politik dan
keinginan jalan melenting.
Dalam semua ini, bagi saya seperti kata Sapardi Djoko Damono, “Sastra
membuat manusia lebih peka terhadap manusia lain.” Atau kata Goenawan Mohamad,
“Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemeran membaca, sebuah kebahagiaan.”
Dan melengkapi itu semua seperti kata Najwa Shihab, “Membaca adalah investasi
termurah dengan keuntungan terbesar.”
Bagi saya membaca sastra adalah ruang dalam relung diri kita untuk
mengenal berbagai cakupan diri kita atau ruang dari makna lain.



Posting Komentar
0 Komentar