Orang-Orang Sederhana - Tuan Melenting

 Serial Orang-Orang Sederhana




Tuan Melenting

 

“Aku berpikir bahwa aku adalah orang-orang yang ku kagumi,” kata Gifar. Memang ada beberapa tokoh gerakan yang membuat kami mengagumi mereka. Ya, semacam gagasan yang memberi inspirasi. Kami mengagumi Tuan Melenting. Kami menyebutnya begitu. Tuan Melenting adalah tokoh politik dari Merah Perjuangan. Ia termasuk tokoh politik yang realitis dan kadang membuat kelucuan yang ambigu, kadang kelucuan dengan sindiran terhadap realitas. Misalkan ia menyebutkan bahwa “Mana ada para Anggota Perwakilan Rakyat ini yang mau diganti. Yang ada ketika Pemilihan Rakyat, mereka akan berusaha untuk terpilih lagi kembali.” Ia sekedar menyindir bahwa tempat duduk Anggota Perwakilan Rakyat sudah memberikan kenyamanan. Ia juga sekedar menyindir soal transaksi uang dari Anggota Perwakilan Rakyat yang kalau digunakan dalam pembayaran melalui online akan cenderung kecil sehingga tidak terlalu cukup untuk biaya kampanye mereka.

            Dalam beberapa waktu kemudian, Tuan Melenting lebih banyak seperti menjadi filsuf melenting. Ia membicarakan tentang bagaimana orang-orang sederhana seharusnya bertahan. Ia juga membicarakan tentang bagaimana seharusnya perasaan orang-orang sederhana. Ia juga membicarakan tentang bagaimana cara orang-orang sederhana melenting. Aku begitu sukai gagasannya soal orang-orang sederhana yang melenting. Arkan, Ismu dan juga Bang Sira juga menyukai gagasan itu.

            Tuan Melenting itu berkata, “Seseorang yang mengaku ‘orang-orang sederhana’ haruslah memiliki mentalitet. Mentalitet korea.” Begitu ia biasa menyebutkan. “Mentalitet korea seorang korea sejati akan tahan banting dan tahan sakit demi bisa melenting ke lapisan paling atas,” gagasan Tuan Melenting.

            “Sebab mentalitet orang sederhana terbentuk atas kesadaran ‘keorang-sederhanaan’ dalam diri sendiri,” ku pikir begitu.

            Tuan Melenting sendiri menguraikan tentang istilah korea itu. Konon, istilah korea berkaitan dengan orang-orang Korea yang menjadi pasukan Jepang. Pasukan Korea masa merupakan simbol dari mentalitas yang Tangguh. Pasukan Korea memang tidak segagah dan setangguh tentara elite Jepang. Perawakannya biasa saja. Namun, mereka memiliki militansi. Militansi inilah yang diadopsi untuk menjadi mentalitas korea-korea. Mentalitas itu yang sangat diperlukan untuk berjalan pada tujuan yang lebih tinggi.

            “Tapi dalam Kultur Pulau J, istilah korea mengacu pada orang-orang dari kelas sosial menengah dan kelas sosial bawah. Singkatnya, korea adalah sebutan bagi orang-orang dengan daya juang luar biasa yang berusaha keluar dari belenggu kemiskinan.” Pikiran-pikiran Tuan Melenting. Aku juga pikir begitulah orang-orang sederhana, orang-orang yang butuh daya juang untuk berusaha berjalan lepas dari belenggu kemiskinan.

            Istilah korea pertama kali muncul di sekitar daerah S, Pulau J pada era 1970an akhir. Istilah ini merupakan prokem yang muncul begitu saja untuk merujuk pada orang-orang dari kelas bawah. “Arti korea kira-kira begini, orang dari kalangan bawah dengan keberanian dan kenekatan yang tinggi, serta punya banyak cara untuk bertahan hidup dan dapat rezeki. Karena punya banyak cara, biasanya mereka sangat supel dan mudah diterima berbagai kalangan.”

            “Kadar dari korea pada diriku tidaklah 100%. Tapi kadar korea dari Tuan Pinoki adalah 100%,” kata Tuan Melenting suatu waktu. Kata korea memang pada konteks ini dianggap berkaitan dengan ekonomi, yakni semacam orang-orang yang tidak tahu apakah hari ini bisa makan atau tidak. “Kalau dalam konteks berpuasa, orang tahu nanti akan berbuka dan tentu dalam hal tertentu orang dapat memilih menunya. Sedangkan bagi kaum korea, sejak bangun tidur mereka tidak tahu apakah hari itu bisa makan atau tidak.”

            Aku mengagumi gagasan Tuan Melenting, mendengar beberapa gagasannya, membaca gagasannya. Aku berpikir apa yang ia sampaikan sama dengan pikiranku tentang orang-orang sederhana. Tentang realitas kehidupanku, kehidupan kawan-kawanku, Arkan, Ismu dan juga Bang Sira. Kami menemukan gagasan untuk mencari jalan melenting,

            “Orang-orang sederhana mengembangkan ilmu kehidupan untuk melenting ke lapisan atas. Sebagai serangkaian pengalaman dan kepahitan hidup yang dialami oleh orang-orang sederhana,” seperti kata-kata Tuan Melenting tentang Mentalitet Para Korea. “Para korea sudah terbiasa hidup dalam tekanan dan keterbatasan. Dihina dan direndahkan sudah jadi makanan sehari-hari. Para korea juga sudah sangat akrab dengan rasa sakit.”

            Rangkaian-rangkaian kepahitan dari pengalaman-pengalaman hidup itu harus diolah oleh para korea menjadi sebuah mentalitas. Para korea harus memiliki pribadi yang tangguh sehingga perjuangannya melenting ke atas, para korea tidak akan patah apabila menghadapi tantangan, masalah dan jalan terjal.

            “Agar para korea memiliki karakter tidak pernah menyerah. Korea perlu memelihara niat dan tidak berhenti mencari galah sampai ketemu. Korea itu harus malu kalau sampai berhenti atau kalah oleh keadaan. Tak kalah penting, jika para korea belum sampai ke atas atau masih dalam proses mencari galah, jangan bersikap temperamental dan emosional,” pesan-pesan dalam gagasan Tuan Melenting.

            Mentalitet para orang-orang sederhana sebagaimana para korea-korea. Mentalitet itu adalah memiliki rasa terhadap kaum miskin, memiliki empati pada kaum miskin. Kehendak untuk bergerak atau membantu bahkan menyantuni orang-orang yang berada di bawahnya (orang sederhana, orang susah) harus kuat tertanam, harus mandarah daging dalam diri para korea. Sebab, bagaimanapun, para korea tidak boleh lupa diri.

            Orang-orang sederhana harus selalu ingat bahwa sebelum melenting ke atas, ia pernah berada di bawah, dalam kehidupan yang sangat susah. Bisa hidup saja sudah syukur, apalagi bisa makan. Maka jangan sampai ketika roda waktu berubah, dan ia berada dalam posisi baik, sudah melenting ke atas. Ia malah tak memiliki empati, tak peduli dengan orang-orang sederhana yang masih berada dalam situasi menderita. Jika kondisi para orang-orang sederhana tak punya rasa iba ketika sudah melenting ke atas, atau hanya diam-diam saja, biasa-biasa saja melihat kemiskinan, maka mentalitasnya sebagai korea harus dibenahi.

            Tuan Melenting mengatakan ia tak ingin para korea terus menerus apalagi sampai mati berada dalam kesengsaraan. Maka taka da kata soft landing dalam kamus para korea. Sebab para korea pasti akan bertahan dengan “kehidupan di atas” yang dicapai dengan susah payah dan penuh luka.

            Untuk mencapai lapisan atas, memang melalui jalan melenting. Kemiskinan sebagai jurang hidup yang sangat dalam, penuh penderitaan, sehingga melompat saja tidak akan cukup. Para korea memang harus melenting, meloncat secara eksponensial alias melompat setinggi-tingginya agar bisa keluar dari jurang kemiskinan.

            Seperti para korea, orang-orang sederhana tidak boleh menyalahkan keadaan. Kita hari ini tidak bisa memilih dilahirkan di mana, dari bapak – ibu siapa, dalam kondisi seperti apa. Jika kita lahir sebagai korea, lahir dalam kondisi biasa, dalam kemiskinan, yang perlu kita lakukan adalah menerima kondisi itu apa adanya. Kalau memang terasa kurang, korea harus terus belajar hingga menemukan galah untuk melenting setinggi-tingginya agar sampai di kehidupan yang lebih baik.

            Dan aku memang suka dengan kata-kata Tuan Melenting, “Korea-korea melentinglah.” Karena aku yakin, “Melentinglah orang-orang sederhana.”

Posting Komentar

0 Komentar