Kisah Leluhur Pria Kayu
Serial Penjelajah Cerita
Kisah Leluhur Pria
Kayu
Perseteruan
itu bisa terjadi dimana saja, kapan saja. Bisa jadi seperti kisah dalam perseteruan
klan-klan. Seperti dalam kisah-kisah anime. Anime memang seperti sastra.
Seperti novel. Berpanjang-panjang dengan alur cerita maju mundur. Anime dan
sastra memang bagian dari serpihan-serpihan yang dinikmati Penjelajah Cerita.
Kejadian itu bermula dari era peperangan dan pertumpahan darah yang tanpa
henti. Saat itu belum terciptanya desa-desa yang diorganisir. Perseteruan itu
merupakan perseteruan klan. Klan bermata jernih dan klan kayu. Bertahun-tahun
perseteruan itu terus terjadi.
Pada
masa kecil, mereka berdua bertemu mula-mula di pinggir sungai. “Kali ini, pasti
bisa sampai di seberang,” Pria bermata jernih berkepribadian penuh ambisi itu
sedang melatih diri melempar batu hingga bisa melewati seberang sungai.
Datanglah
Pria kayu berkepribadian riuh, “Kau harus melemparnya sedikit lebih tinggi agar
sampai di seberang”. Dan lemparan melewati seberang sungai.
Mereka
berbincang kemudian sama-sama menyadari bahwa mereka adalah shinobi. “Sampai
jumpa. Jangan pernah menyebutkan nama belakangmu,” kata pria kayu ketika masih
kecil pada pria bermata jernih.
“Itu hukum dasar
shinobi,” kata pria bermata jernih.
“Sudah ku duga kau
juga shinobi,” kata pria kayu.
Pria kayu lirih
berkata, “Kepribadian kami berlawanan. Tapi aku merasakan hubungan misterius
yang aneh dengannya.”
Pria kayu adalah pria yang
bersemangat, kadang suka gugup sendiri ketika masa kecil, tapi tingkahnya
selalu riuh. Ia senang bertemu dengan orang-orang baru, menyukai kompetisi
persahabatan. Kadang bisa depresi karena orang lain, keras kepala dan sering impulsif.
Seperti tokoh-tokoh anime dalam peran utama, kadang kelihatan penuh kebodohan
tapi selalu memiliki semangat yang tinggi.
Pria bermata jernih adalah pria yang
penuh dengan tekad, masa kecil terlihat juga ceroboh tapi sikap tegas dan
ambisinya sangat kuat. Ia seperti tokoh anime pendamping peran utama, selalu
berambisi, kelihatan cerdas, dan sangat kuat. Memiliki kekuatan yang sulit
dikalahkan.
Mereka
berdua hidup dalam masa peperangan tapi menjalin pertemanan yang kuat dengan
kepribadian yang berlawanan. Semasa kecil walaupun berbeda klan mereka berdua
terus berlatih bersama di pinggir sungai. Bertahun-tahun pula kedua klan terus
bertarung hingga keduanya dewasa. Mereka memiliki perasaan yang sama soal
peperangan dan kematian saudara-saudaranya. Kemudian pria kayu kecil berkata,
“Sudah ku putuskan akan ku bangun desa gabungan klan disini. Kita akan membuat
sekolah di mana anak-anak akan belajar dan tumbuh kuat.”
Hari demi hari mereka
jalani dengan pertarungan, sampai mereka menjadi pemimpin Klan mereka
masing-masing dan melupakan impian mereka dahulu. Dalam sebuah
pertempuran klan pria kayu memenangkan pertempuran dan klan pria mata jernih
terjepit kekalahan. Pria kayu menawarkan gencatan senjata karena masih
menginginkan impiannya di masa lalu terwujud, namun Pria bermata jernih tidak
setuju. Waktu pertempuran terus berjalan. Pria bermata jernih tetap selalu
tidak mempercayai pria kayu. Hingga keputusan Pria Kayu untuk perdamaian klan,
ia memilih membunuh dirinya sendiri tetapi kemudian Pria Bermata Jernih membatalkan
hal itu. Kedua klan jadi berdamai. Mendirikan sebuah desa dengan impian lama
yang terucap oleh Pria Kayu kepada Pria Bermata Jernih.
Waktu terus menerus
berjalan. Pria kayu ingin Pria Bermata Jernih yang lebih pantas menjadi
pemimpin mereka, namun semua orang bahkan Klan Pria Bermata Jernih sendiri
lebih memilih Pria Kayu yang menjadi pemimpin mereka. Ketika saat itu, Pria Bermata
Jernih mulai berpikir bahwa seorang klan Pria Kayu ketika menjadi pemimpin akan
menindas klan Bermata Jernih. Pria Bermata Jernih mengajak seluruh anggota
klannya meninggalkan desa namun tidak ada yang mendengarkannya. Pria Bermata
Jernih memutuskan untuk meninggalkan desa dan saat itulah ia berubah menjadi
jahat.
Perenungan Nursi
kembali, “Apakah
perseteruan orang-orang itu akan berkisar pada tingkat kemalasan dan tingkat
kecerdasan? Pada sikap ambisi dan sikap ramah riang?”
“Begitukah
kehidupan?” Nursi bertanya.
#
Di lain
cerita tentang leluhur Pria Kayu dan Pria Bermata Jernih. Penjelajahan cerita
masih terus berlanjut. Nursi memang menembus ruang-ruang kisah, ruang-ruang
cerita, melampaui ruang dan waktu. Pria Kayu yang disini adalah leluhur Pria
Kayu yang di atas. Di Desa ini semua bermula. Leluhur Pria Kayu itu berkata
lirih, “Dunia memang akan selalu berselisih”. Desa ini terbentuk ketika Leluhur
Pria Kayu itu hendak berbuat baik, dia memiliki niat baik. Membantu orang-orang
dalam membangun jembatan antara desa. Mengentaskan beberapa jiwa yang terlantar
dengan harta yang kosong. Menumbuhkan jiwa-jiwa yang hampa karena
pengalaman-pengalaman hidup mereka yang terlanjur menjadi pencuri, perampok,
dan penindas.
Kebaikan-kebaikan pria kayu itu
berbuah atas orang-orang yang ia bantu mau menjadi muridnya. Mereka kemudian
tumbuh bersama dan membangun sebuah desa. Setelah hidup beberapa tahun. Inilah
kisah yang kemudian diceritakan Pria Kayu pada Penjelajah Cerita, Nursi.
Penjelajahan cerita memang akan terus berlangsung.
Setelah kehidupan berjalan beberapa
tahun, Leluhur Pria Kayu kemudian memiliki keturunan. Dua anak lelaki yang
diberi nama, Laut Biru dan Langit Senja. Laut Biru dan Langit Senja bertumbuh
bersama. Langit Senja sebagai adik memiliki kekaguman pada Laut Biru sebagai
kakaknya. Pada malam hari, Laut Biru selalu melahap buku dengan gembira.
Sementara Langit Senja kadang gusar dalam menikmati buku. Langit Senja seperti
anak kecil biasanya, lebih suka bermain dengan teman-teman, lebih suka ceria
bersama teman-teman, tidak terlalu suka berlatih, tidak terlalu riang dengan
belajar. Laut Biru adalah anak kecil yang terlampau dewasa, suka membantu menyelesaikan
perkara-perkara orang, membantu orang menyelesaikan masalah, bahkan ia lebih
memilih berlatih dan belajar ketimbang bermain. Menyendiri dalam berlatih dan
belajar kadang pilihan yang ia pilih. Laut Biru adalah panutan yang diharapkan
murid-murid Leluhur Pria Kayu. “Laut Biru, tumbuh sebagai keturunan Pria Kayu yang
kuat dan bertanggung jawab,” kata Murid-Murid Pria Kayu.
“Dia
sangat disiplin dan memiliki mental yang kuat untuk membimbing yang lain,” kata
salah seorang Murid Pria Kayu tentang Laut Biru.
Bahkan Laut Biru adalah pembuat dasar
beberapa pemahaman. Pemahaman-pemahaman ini menjadi pengetahuan awal dan
perilaku dalam penyelesaian kehidupan-kehidupan sehari-hari di desa. Laut Biru
memang memiliki bakat alami.
Kehidupan
terus berlanjut. Langit Senja menyadari dirinya tanpa bakat alami tapi ia
tumbuh dengan kesadaran perdamaian dan ketenangan. Ketika berusia dewasa, Laut
Biru semakin menunjukkan kemampuannya, baik kecerdasan maupun kekuatan fisik.
Tapi satu hal yang terlintas di antara murid-murid Pria Kayu, mereka mulai merasakan
sikap Laut Biru yang angkuh. Langit Senja berbeda, kemampuan dan kecerdasannya
ditimpa secara perlahan, tapi sikap kesederhanaan dan merangkul semua orang
mulai tumbuh secara natural. Di lain sisi kekaguman Langit Senja pada Laut Biru
tetap seperti dulu.
“Terkadang
aku merasa Laut Biru menatap kita dengan penuh kebencian,” kata Murid-Murid Pria
Kayu sembari bekerja dan didengar Langit Senja. “Langit Senja lebih mudah
diajak bicara tapi sayang kemampuannya terlalu rendah dari Laut Biru,” kata
mereka melanjutkan.
Hingga dewasa, Langit Senja terus
mengagumi Laut Biru, kekaguman ini membuat Langit Senja terus menempah dirinya
untuk bisa menyamai Laut Biru. Langit Senja memiliki tekad dan cinta sebagai
prinsip-prinsip kemajuan. Laut Biru memiliki kekuatan dan kehebatan sebagai
penerus kepemimpinan desa. Langit Senja bahkan meyakini bahwa Laut Biru sebagai
kakaknya adalah orang yang tepat untuk memimpin desa ini selanjutnya.
Hingga suatu ketika saat Pria Kayu
memutuskan untuk siapa yang ditentukannya menjadi pemimpin desa selanjutnya.
“Laut Biru atau Langit Senja yang akan dipilih Tuan Leluhur Pria Kayu?” kata
penduduk-penduduk desa. “Pasti Laut Biru yang akan dipilih, karena dia memiliki
kehebatan,” kata salah satu penduduk desa.
Pria Kayu menentukan untuk melihat
bagaimana kedua anaknya menyelesaikan beberapa permasalahan di desa lain.
“Kalian akan pergi ke dua desa masing-masing dan menyelesaikan permasalahan
desa di sana.”
“Setelah itu aku akan melihat
hasilnya dan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin desa ini,” kata Pria
Kayu di hadapan Laut Biru dan Langit Senja.
“Ayah, mengapa hal ini yang Ayah
tetapkan? Aku yakin Kakak Laut Biru lebih layak dariku,” Langit Senja mencoba
meminta penjelasan pada Pria Kayu.
Langit Senja masih menjelaskan, “Aku
tak punya kemampuan sehebat Laut Biru ayah. Aku lebih bersedia untuk membantu
Laut Biru sebagai pemimpin desa.”
“Ini sudah menjadi keputusanku.
Silahkan kalian berdua lakukan. Dan nanti akan aku tetapkan,” kata Leluhur Pria
Kayu.
Setelah itu, Leluhur Pria Kayu
merenung sendiri, “Ini bukanlah ujian. Laut Biru adalah seseorang yang jenius.
Tapi karena kehebatannya dia tidak memiliki keyakinan akan cinta sebagai
prinsip perdamaian desa. Sedangkan Langit Senja memang memiliki kemampuan yang terbatas.
Tapi ia memiliki sifat kasih sayang dan cinta sebagai prinsip dasar. Desa
memerlukan kepastian kehebatan dan cinta. Dalam perjalanan ini, aku ingin
keduanya terus bertumbuh melatih kelemahan-kelemahan masing-masing.”

Posting Komentar
0 Komentar