Orang-Orang Sederhana - Kenangan dalam Perjalanan
Serial Orang-Orang Sederhana
Kenangan dalam Perjalanan
Kembali dalam perjalanan…
Setiba dan melewati desa S, sebagai
daerah transmigrasi, Gifar melihat pemandangan ladang dan pematang sawah.
Pikirannya terbawa ketika dulu dalam perjalanan antara Kota Sejuk ke Kota Pecel
di Pulau J ketika dia dan Ismu melakukan magang di sana.
“Pulau
J adalah Negara J,” pendam Gifar setelah melihat keadaan disana. Ia lebih mirip
negara sendiri ketimbang alih-alih sebagai Indonesia. Orang-orang dari luar
pulau J akan memandang bingung karena pulau J dengan bahasa J menandakan mereka
sebagai budaya menjadi “negara sendiri”. Atau mungkin dia representasi mutlak
dari Indonesia. Atau karena semua pemimpin Indonesia adalah orang Pulau J.
Perasaan-perasaan ini hadir bagi orang-orang Timur, orang-orang di luar Pulau
J. Bahwa pulau J seperti negara sendiri.
Walaupun tidak semua orang di pulau
J menggunakan bahasa J, ada bahasa S, dan beberapa suku lain, selain suku J.
Itu karena dalam pikiran Gifar bahwa semua orang di pulau J adalah orang J dan
sama, semua juga menggunakan bahasa J tapi ternyata tidak juga. Akan tetapi
ketika kita di Pulau J dan tidak menggunakan bahasa J maka sudah pasti
orang-orang pulau J tahu bahwa kita adalah orang di luar pulau J. Seperti
pertanyaan, “Asli mana mas?”, ketika ditanya oleh beberapa orang pulau J.
“Jauh mas, jauh bagian Timur
Indonesia mas,” jawab Gifar.
“Dari Kota T mas,” lanjut Gifar.
“Kota T itu di NTT ya mas?”
“Atau Sulawesi ya?
“Bukan mas, Kota T itu bagian Utara
Maluku, Provinsi MU”
“Oh, dekat Ambon ya mas?”
Dengan garuk-garuk kepala, setengah
tersenyum, setengah bingung, Gifar memberikan kata ia. Padahal Kota T masih
jauh dari Ambon.
#
Kalau disebutkan soal kata orang
Timur apa yang terlintas? Bisa jadi bahwa Timur itu soal waktu, soal waktu
lebih dulu pagi, lebih dulu malam, lebih dulu melihat mentari, lebih dulu
melihat matahari terbenam, selebihnya soal geografis. Entahlah. Secara geografis
dan waktu yang masuk daerah Timur diantaranya Papua, Papua Barat, Maluku Utara,
Maluku. Atau mungkin secara karakteristik, NTB dan NTT juga dianggap masuk
sebagai orang Timur. Kadang-kadang juga sebagian orang Sulawesi menganggap
sebagai representasi orang Timur, tapi kebanyakan lebih kepada soal masalah
politis. Entahlah. Tapi sebenarnya, kebanyakan orang Kota Coto lebih bertingkah
sebagai “Orang Indonesia Bagian Barat”. Ya, tentu karena mereka tergolong
daerah Metropolitan.
Tapi
kadang-kadang pada titik tertentu sebagai orang Timur, Gifar kadang cukup
jengkel dengan “Pulau J-nisasi”, soal bahasa, soal budaya, soal batik, atau
bahkan termasuk ketika melihat berbagai media online lain yang kadang
menempatkan bahasa Pulau J dalam kontennya. Kan sikap kepulau J-annya mereka
terlalu kuat. Walaupun di satu sisi ini soal membudayakan budaya tentunya.
Ketika semakin bertumbuh, Gifar dapat memahami orang-orang Pulau J begitu kuat
menjaga budaya, soal bahasa, budaya dan sikap kedaerahan bahkan jika mereka
hidup di perkotaan.
Bahasa
daerah tentu bukan bahasa pasar. Gifar membedakan ini karena di Provinsi MU
misalnya kita bisa berbincang dengan bahasa pasar tapi agak susah menggunakan
bahasa daerah. Bahkan di Provinsi MU saja, ada berbagai bahasa, bahasa Ternate,
bahasa Tidore, Bahasa Maba, Bahasa Sanana, bahasa Makian dan lainnya. Tentu
disini bahasa pasar lebih umum dipakai. Ini yang agak membedakan bahwa
kebanyakan terlihat orang-orang disini lebih sedikit menguasai bahasa daerah
ketimbang orang-orang Pulau J atau orang-orang Kota Coto yang dominan dengan
bahasa daerah. Terutama di kalangan anak-anak muda yang hidup di perkotaan atau
di Kota T misalnya. Hampir agak-agak tidak memahami bahasa daerah. Bahasa pasar
itu seperti sebutan ngana (kamu), kita
(saya), ngoni (kalian), sementara bahasa aktivitas umumnya sama seperti
makan ya makan. Tapi bahasa daerah berbeda, seperti misalkan oho (makan), oru (perut) dan lainnya.
Walaupun
begitu, soal bahasa, mungkin sama juga dengan daerah di Pulau J atau di Kota
Coto, pada titik tertentu, orang-orang di pedesaan terutama para lansia atau
anak-anak kadang lebih mahir bahasa daerah ketimbang bahasa Indonesia. Itulah
ragamnya Indonesia. Ya, toh yang membuat orang menjadi kelihatan daerahnya itu
kan soal bahasa juga. Tapi sudahlah, toh kita sudah disatukan oleh Sumpah
Pemuda, satu bahasa, bahasa Indonesia.
Tapi
kadang-kadang kalau kita sekedar menjelah (di internet) atau dalam realitas,
maka ada semacam generalisasi tertentu untuk orang Timur yang kadang cukup
menggembirakan atau menganehkan. Pertama, generalisasi karakteristik orang
Timur. Semisal pertama, suara keras, ya suara keras atau besar entah apa faktor
yang menyertai hal itu tapi hampir semua yang ketemu pasti menganggap demikian
atau dalam posisi tertentu sebagai orang Timur, Gifar juga merasa begitu.
Kadang berbicara pun dianggap sedang marah, entahlah, sebegitu keras suara
kita? Kedua, terlihat “hitam manis”, entah apa yang mendasari ini, apa karena
matahari terlebih dahulu terbit dari Timur, atau karena sebagian daerah Timur
termasuk daerah pesisir, atau mungkin karena genetik kesukuan. Tapi tentu bukan
soal kita tidak menggunakan skin care atau pemutih kulit ya. Senyum kita
terlalu manis. Ketiga, soal keterbelakangan, semisal “kekurangan” jaringan
internet, fasilitas pendidikan yang tidak semewah bagian Barat Indonesia, atau
semisal tidak memiliki gedung-gedung wah, dan lainnya. Ya, ini soal rahasia
umum tentang pemerataan di Indonesia.
Tapi
pada akhirnya soal generalisasi itu akan kembali ke falsafah dasar pembentukkan
manusia, soal budaya keluarga, soal kemauan pribadi, soal semangat bertumbuh,
dan lainnya. Misalkan soal suara dan tampak fisik misalnya entah mengapa dalam
posisi tertentu beberapa orang Timur secara pribadi kadang akan dianggap
sebagai orang Pulau J oleh orang Timur lain atau orang lain di tempat di Timur
Indonesia. Hanya karena berkaitan dengan tampak fisik, warna kulit atau
penggunaan bahasa. Kemudian orang itu akan dipanggil “Mas, mas orang mana?”. Padahal orang tersebut, misalkan lahir dan
tumbuh di Kota T termasuk sebagai orang Timur. Tapi sebutan mas ini, semakin
mengIndonesia sebagai panggilan yang dianggap sapaan sopan untuk semua orang
termasuk orang Timur, padahal makna mas sendiri kan diuntukkan untuk seorang
lelaki yang lebih tua. Tapi generalisasi mas untuk kesopanan di daerah Timur
dipanggil untuk semua laki-laki dalam golongan umur, mas jadi lebih tenar
daripada nyong.
Kembali
kepada soal fisik, tentu itu soal insaniyah dan ketakdiran Tuhan yang tak perlu
ada perbedaan-perbedaan, kelas-kelas. Toh
kita sama rasa, sama rata kan? Sedangkan soal keterbelakangan, Gifar lebih
percaya atas kemauan pribadi, semangat bertumbuh, orang-orang Timur juga bisa
berkarya, hanya soal kesempatan saja. Selebihnya soal politis, eh.
Kedua,
Orang Timur dan Orang Papua. Kadang dalam posisi tertentu Gifar merasa orang
Papua terlalu menjadi representasi Timur. Ya, memang Papua istimewa sekali
terutama-utama bagi orang-orang “Jakarta”. Ya, orang-orang Jakarta yang
berkepentingan soal tambang misalnya. Tapi di satu sisi soal jumlah penduduk
sebagai jumlah “suara politik” tentu Papua lebih banyak ketimbang Provinsi MU
atau mungkin lebih banyak dari Ambon (Maluku). Tapi kadang dalam posisi
tertentu Gifar merasa orang Papua juga termasuk orang yang memandang sinis
orang lain, termasuk orang Timur lain. Gifar tidak tahu apa yang melandasi hal
itu, apa karena proses panjang dan dinamika di Papua. Padahal setelah bergelut
dengan wacana-wacana dalam Film dokumentar dalam Indonesia Biru misalnya, Gifar
turut lebih setuju Papua “Merdeka”, eh. Tapi Gifar menyadari juga bahwa
Kesatuan Indonesia memang harus dirajut soal rasa. Ya, sama rasa, sama rata.
Bukan Pulau J rasa, Timur tidak merata. Sikap sinis orang Papua, apa memang
lebih kepada pandangan fisik atau stigma dasar yang terbentuk sebagai suku
Melanesia. Kesadaran soal suku Melanesia inilah perlu ditumbuhkan. Selain itu,
keterbukaan pandangan bahwa ada orang-orang di luar suku Melanesia yang juga
peduli dengan masalah Papua. Sebagai orang Timur padahal dengan rasa yang sama,
kita memang sama rasa. Kecuali pernyataan yang menyebutkan “daerah buangan”
oleh Ibu Urusan Sosial. Seakan-akan Timur adalah tempatnya daerah buangan untuk
birokrasi. Kan kita bukan lagi hidup zaman ketika Tuan P dibuang di Pulau Buru.
Mungkin maksudnya dibuang di “daerah
buangan”, biar ada lagi maestro sastra begitu? Bukankah kita sebagai orang
Timur, ngana, use, ko (kau), beta, kita,
aku, torang samua suka makan Popeda.
Ketiga,
klise orang Pulau J atau bukan orang Timur yang lahir atau hidup di daerah
Timur. Ya, kadang orang-orang ini masuk dalam fase merasa lebih baik atau
sebaliknya menjadi bahan tertawaan. Ya, kadang lucu sih orang Indonesia, kalau
orang Timur ke Pulau J dianggap lucu terutama soal bahasa sebaliknya orang
Pulau J ke daerah Timur juga dianggap lucu baik soal bahasa maupun kebiasaan.
Ya, bisa dikatakan sama-sama lucu tergantung tempat dan waktunya. Tapi pada
titik tertentu misalkan ada orang Pulau J atau bukan orang Timur yang tempat
lahirnya di Timur pun kadang masih dianggap bukan orang Timur. Ya begitulah
Indonesia memang rajutan soal rasa harus terus ditumbuhkan. Dilema soal ini,
saya lihat termasuk dalam melamar pekerjaan, pengusulan pekerjaan, dan lainnya.
Atau kadang sikap orang-orang Pulau J yang lahir atau hidup di daerah Timur
juga merasa lebih “berpendidikan”, lebih “tahu”, lebih “berpengalaman”
dibanding dengan orang Timur. Tapi pada titik tertentu bagi Gifar, hal demikian
kembali pada sikap individu itu sendiri. Tapi seberapapun perbedaan kita,
Indonesia terlalu luas. Sumpah pemuda terlalu indah. Keragaman Indonesia
terlalu mahal.
#
Dalam perjalanan itu, dan kenangan
lamunan itu, Gifar telah kembali ke Desa W. Menemui keluarganya. Bapaknya
dengan kebanggaan pada Gifar yang dapat menyelesaikan studi pendidikan Sarjana.
Walaupun Gifar akan menemukan jalan sunyi baru pada paska-paska kampus. Disini
di Desa W, atau di berbagai desa masih ditemukan semisal konsep kemimpinan
tradisional. Imam masjid menjadi tetuah dan petuah. Pemuka masyarakat diminta
menangani berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Dan orang-orang
sederhana dan kebanyakan di desa W masih sama. Masih berbahagia hidup dengan
realitas, berbahagia hidup sebagai orang biasa, berbahagia hidup di tengah
rumah sederhana.
Desa W turut masih seperti desa
lain, pertarungan-pertarungan calon Kepala Desa dengan segala desas desus.
Persaingan untuk menjadi pimpinan desa. Persaingan itu membelah bahkan hingga
menjadi tiga belahan. Tapi pembelahan jauh lebih baik ketimbang kuasa yang
panjang. Tapi idealnya memang soal pembangunan desa. “Desa seharusnya bisa menjadi mimpi untuk Indonesia,” Gifar dalam
imajinasinya.
Di luar sana desa bisa berkembang,
desa wisata, desa dengan BUMD, dan berbagai inovasi desa yang lain. Pembangunan
desa yang membuat warga desa saling membantu, otoritas desa, desa mandiri, desa
dengan ketahanan pangan, desa dengan budaya-budaya saling berbagi.
Tapi jauh di pusat sana, para kepala
desa sedang mendemo, berbicara, bahkan seperti diusulkan oleh pemerintah bahwa
Kepala Desa harusnya menjabat hingga 9 tahun. Mungkin disana lebih banyak
kepala desa yang tak becus, tak merangkul warganya, kepala desa yang merindu
kuasa, kepala desa yang lalai dalam imajinasi desa. Gifar dengan suasana desa
yang sejuk, menjadi menggerutu. Desa harus tetap sejuk walau banyak pembelahan
tapi nilai-nilai kebersamaannya tak luntur, maka tak boleh desa hadir dengan
kuasa yang panjang.
.jpeg)
Posting Komentar
0 Komentar