Santana Jelajahi Gunung Gamalama
Serial Makhluk Bego
Santana Jelajahi Gunung Gamalama
“Seorang sahabat adalah
yang dapat mendengarkan lagu di dalam hatimu
dan akan menyanyikan
kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya”
Beberapa tahun yang lalu. Di awal-awal kuliah. Saya dan beberapa
teman, anak-anak Santana naik Gunung Gamalama. Malam itu kita kumpulnya di
rumah Anok. Malam itu kita persiapkan apa yang perlu dibawa. Ada yang membawa
mie hingga sagu, ada yang menyiapkan beberapa pakaian hingga jaket, ada juga
sarung tangan, air-air menghiasi botol-botol dan juga ada air yang rela
disimpan dalam termus untuk dibawa pemiliknya. Malam itu rasanya persiapan
cukup, hanya cukup tidak lebih.
Malam itu kita siap-siap untuk
melakukan penjelajahan dua hari satu malam di Gunung Gamalama. Gunung Gamalama
adalah gunung Ternate, cukup banyak cerita tentang gunung ini mulai dari cerita
mitos yang penuh mistis hingga mitos yang mungkin ada benarnya, ataupun seperti
biasa cerita mitos tetap saja mitos.
Malam itu kita kurang lebih 21
orang. Banyak bukan? Ganjil lagi! Seperti biasa kalau sudah kumpul seperti ini
walau wajib anak muda kayak anak-anak Sabia ini apa bisa tidur? Waktu sudah
menjelajah hingga jam 3 pagi, waktu mungkin takkan bisa tidur, anak-anak Sabia
yang mau naik gunung juga apa bisa tidur? Walau begitu syukurlah ada sebagian
teman-teman Santana yang sudah tidur.
Jarum jam yang selalu setia berputar
dan waktu yang setia menjadi penunjuk bagi manusia. Kali ini jarum jam sudah
mendekati kurang lebih setengah enam dan waktu sudah hampir pagi. Kita mulai
beberapa anak-anak ke mobil untuk berangkat ke Moya. Moya adalah jalur jalan
yang kita tempuh ke gunung Gamalama.
Semua sampai di Moya. Semuanya siap
melakukan perjalanan ke gunung Gamalama. Sebelumnya sebelum naik ke gunung Gamalama
seperti sudah umum alangkah baiknya kita lapor dulu ke petuah yang ada di Moya.
Setelah melapor dan minta izin, kita
memulai pendakian ke gunung Gamalama yang seingatku kita dikomandai oleh Sido
dan Andri dan Satu orang lagi yang bukan anak Sabia. Mereka bertiga yang
mungkin lebih tahu jalannya.
Setelah berlelah-lelah dan beberapa
kali istrahat, dan banyak sekali minum air akhirnya kita sampai di “Kambong
Terakhir”. Disini ada mata air yang namanya “air balanda”. Air sangat jernih
dan sangat dingin, tentunya alami. Beberapa dari kita turun untuk mengambil air
ini. Awalnya saya pikir mata air ini besar ternyata tidak terlalu besar. Tapi air
menakjubkan bagiku dan sangat menyegarkan.
Di “Kabong Terakhir” disitu juga ada
beberapa orang juga yang sedang membangun tenda dan berkemah disitu,
peralatannya mantap sampai masak nasi pula, mantapkan?
Dalam perjalanan selain diterjang
oleh sedikit kabut, kita bertemu dengan beberapa orang yang turun. Pertanyaan
yang khas yang kita keluarkan “Apa masih jauh k?” Pertanyaan pasrah apa
benar-benar ingin sampai ke puncak gunung.
Akhir setelah perjalanan yang cukup
lama, kita sampai di “Terminal”. Entah dari mana nama “Terminal” ini aku tak
tahu. Tapi disini cukup luar biasa, istimewa ! matahari menyinari tubuhku tapi
tak sedikit ku rasakan panas yang ku rasakan adalah dingin. Ku pikir mungkin
karena sudah pada dataran yang tinggi maka suasana terasa lebih dingin.
Setelah perjalanan dari “Terminal”
kita akan sampai di “Air Abdas”. Ketika kita sampai disini terjadi “Air Abdas”
ini tidak ada air.
Setelah dari “Air Abdas”, akhirnya
sampai juga di puncak gunung Gamalama, sebelum itu kita lewati lorong yang
terbuat dari “Daun Kano-kano”, lorong yang unik. Sampai juga! Ternyata benar sesampai di
Puncak selelah apapun semuanya terasa indah, sangat indah, terasa semangat!
Sesampai di puncak, tenda kita buat.
Tenda kita hanya beralas daun “kano-kano” dan beratap “tarpal” dan berpenyangga
“Batu
angus”. Tapi ini mungkin tenda terbaik kita.
Setelah buat tenda yang kita lakukan
berikut pastinya mengisi “gudang tengah” yang telah menanti asupan makanan, dan
yang menjadi makanan kita saat pastinya mie instan. Tapi ada yang paling unik
makanan yang paling enak di puncak gunung adalah Sagu! Sagu sangat nikmat kalau
dinikmati di puncak gunung Gamalama.
Walau saat itu hujan sangat deras
dan hampir membuat beberapa anak-anak ingin turun balik saja. Hujan yang sangat
deras itu pasti menghembuskan udara dingin yang mendekap menusuk kulitku,
merasuk tulangku. Jaket berlapis-lapis adalah senjata ampuh untuk menembak
dingin di puncak gunung ini.
Disaat di Puncak Gunung ini adalah
melihat pemandangan indah Ternate, aku melihat aku lebih tinggi dari beberapa
awan dan Ternate sangat indah bila dipandang dari Puncak Gunung. Ditambah
menikmati Sunset diatas puncak gunung
Gamalama. Keindahan Kota Ternate semakin indah bila malam tiba, sesempat dari
celah-celah kabut terlintas lampu-lampu yang menyinari gelap malamnya Kota
Ternate, indah. Sudah menjadi sebuah tradisi ketika sampai di Puncak Gunung Gamalama
dan memberi isyarat “Kode dengan Senter” ke orang-orang yang berada di bawah
puncak gunung Gamalama.
Malam yang terasa sangat panjang itu
menjelang pagi juga, di pagi hari setelah tanpa ada kabut ternyata di atas
puncak aku baru sadar ada gunung yang benar-benar gunung, gunung yang dari
bawah puncak terlihat warna hijau dan penuh dengan pepohonan, ternyata diatasnya
hanya penuh dengan bebatuan ‘batu angus’.
Kita menyempatkan diri ke ‘jere’. Di Jere cukup
aneh sebagian anak-anak Santana mendoakan agar mereka lulus sekolah! Aku
sendiri tidak terlalu mengerti tentang ‘jere’.
Setelah dari ‘jere’ kita ke puncak gunung
diatas puncak gunung. Terlihat cukup dekat tapi saat naik ternyata cukup jauh!
Bau belereng sangat mendekap hidung.
Yang pasti takkan kita lewatkan
selama di Puncak ada berfoto-foto. Bendera Santana juga berkibar di atas puncak
gunung.Saat kita naik ini ada beberapa orang-orang lain yang naik juga, rasanya
cukup ramai!
Bersiap-siap untuk turun, tenda
dibongkar. Kita turun dari puncak gunung Gamalama. Ternyata saat turun juga
cukup melelahkan! “Air Abdas” yang hampir berwarna coklat dibabat habis satu
botol aqua! Berfoto bersama dengan Bule! Gelora Ternate yang mirip seperti San
Siro dari puncak ini! Pengalaman luar biasa! Dua Hari Satu Malam serasa Sebulan!
Ada makna yang secara tak langsung
tersurat dalam pikirku, mungkin menjelajahi Gunung Gamalama adalah sebuah
refleksi bagi Santana, dimana kita bisa tingkatkan kebersamaan kita, kita bisa
mempererat rasa pertemanan kita, rasa berbagi sesama teman, yang paling pasti
adalah refleksi kesetiakawanan! Walau makanan habis dimakan sendiri, rela buang
air besar di dalam tenda mengganggu anak Santana yang lain, egois karena lelah
dan hal-hal lain yang membuat sesama kawan saling tersinggung, sesama sahabat
saling salah paham, dan beberapa masalah yang membuat sedikit lunturkan rasa
persahabatan kita, tapi Santana tetap Santana (Soliarity Talent Natural).
Mungkin kelak suatu waktu lagi kita bisa menjelajahi Gunung Gamalama lagi
sebagai refleksi kokohnya Santana, bukankah begitu kawan?

Posting Komentar
0 Komentar