Serpihan Catatan
Serial Novel Serpihan Identitas
Kalau dikata, titik tengah antara
idealis yang tidak realitis, dan realisme yang terlalu pragmatis adalah
optimisme. Kiranya bila titik tengah dibawa dalam karakter, maka Usamah adalah
orangnya.
Usamah adalah titik tengah, tidak
terlalu kanan, dan juga tidak terlalu kiri, dalam pemikiran. Atau mungkin
menikmati keduanya dalam pemikiran. Usamah dalam kesukaan membaca novel mirip
dengan Dawam. Dalam kesenangan membaca buku Ikhwan juga mirip dengan Said.
Demikianlah ia, Usamah.
Keaktifannya di salah satu
organisasi kepemudaan Muslim dan kuliah di jurusan gizi, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, membuat Usamah di masa-masa masih kuliah, di semester akhir,
memilih juga aktif di sebuah LSM yang bergerak di bidang kesehatan.
Keaktifan di LSM ini mengharuskan
Usamah untuk turun meninjau pemberian makanan tambahan, di beberapa desa, di
beberapa kecamatan, di Kabupaten HT. Perjalanan yang kurang lebih selama 6 jam,
untuk sampai di desa B. Usamah istirahat dan bermalam di desa B. Keesokkan ia
akan desa Do, kecamatan MU. Disana alat transportasinya naik kapal kayu. Kurang
lebih 8 jam. Dalam perjalanan menuju Desa Do, ada di beberapa kali berhenti
menunggu penumpang dari desa, menuju ke kapal menggunakan perahu kecil. Dan
dalam setengah perjalanan, jaringan handphone sudah tak ada jaringan. Kadang
aku bertanya, dari mana mereka hingga bisa ke sini. Transportasi yang susah dan
tak ada jaringan komunikasi. Dan pemerintah kadang memang tak peduli pada nasib
yang demikian. Aku sholat di dalam kapal ini, aku menjamaak sholatku, sholat
sambil duduk, di tempat tidur yang disediakan.
Setiba disana, aku mencari dan
bertanya puskesmas Do, aku menginap di salah satu petugas puskesmas disana.
Keesokannya aku dan petugas disana memantau beberapa pemberian makanan
tambahan.
Ku tanya-tanya pula padanya, “Betah
kerja disini?Tak ada jaringan, transportasi yang sulit”
Dia hanya menjawab, “Ya, sudah
tanggung jawab tugas, mau bagaimana lagi, suka tidak suka, sudah harus kerja”
Sehari aku disini. Disini sebagian
pencarian sebagai nelayan. Rata-rata anak gizi kurus yang ku temui, orang
tuanya sebagai nelayan. “Disini dulu banyak ikan julung, gampang sekali kalau
dikail, bahkan mudah sekali didapat. Sekarang agak sulit,” kata orang-orang disini.
Aku agak heran juga, disini, mie
instan dianggap makanan spesial untuk disajikan ke tamu, sekiranya begitu.
Padahal ada ikan julung yang bisa disajikan. Ikan julung yang diasar (difufu).
Setelah menginap sehari, aku
langsung balik. Naik kapal yang akan tiba dari Kota T, Kabupaten HU. Menuju
Desa B, Kabupaten HT, tempat awal aku tiba. Aku akan melanjutkan pemantauan
tugasku di LSM, memantau pemberian makanan tambahan. Dalam perjalanan ku lihat
lagi orang-orang naik ke perahu kecil untuk menuju ke kapal ini, mungkin karena
ombaknya deras, dan dermaga belum dibangun. Ku lewati Desa L, bagian dari
wilayah kecamatan MU, disini banyak turis, entah apa yang dilakukan para bule
itu. Bahkan selama balik ku temui bule yang bisa berbahasa Tobelo dalam. Ah,
aku tak terlalu mengerti.
Aku naik ke kantin kapal. “Mas,
berapa mie instan ini?” ku tanya pada penjual, dan hanya makanan itu yang ada.
Ada beberapa orang yang duduk di belakang ini. Ada yang merokok, ada juga yang
makan, ada yang minum kopi, atau ada yang sekedar duduk menikmati angin, sambil
melihat latar kapal. Dan semua melihat orang-orang yang naik perahu kecil
menuju ke kapal ini.
“Orang
lain disana sudah naik pesawat, tong (kami) disini masih naik perahu baru
menuju naik kapal,” kata seorang bapak berkumis, dengan tertawa.
Dilihat-lihat
kapal menunggu, kadang perahu belum kesini, “Ini kalau ada jaringan tinggal
telepon suruh kesini, ini jaringan me tarada (jaringan juga tidak. Orang lain
sudah internet disini kita masih jaringan tidak ada,” seorang bapak lagi
berkata.
Aku hanya melihat, terkadang,
beberapa kali, aku mendengar mereka juga berbicara tentang proyek, proyek
pembangunan gedung sekolah, dan lainnya. Aku lihat lagi orang-orang dari desa
ke desa. Kadang-kadang mereka mungkin bahagia, hidup di tempat yang tak ada
jaringan. Bahagia dengan keadaan. Mereka orang-orang introver, atau memang
keadaan yang membuat demikian.
Perjalanan 8 jam, aku tiba kembali
di Desa B. Rencana besok aku ke Desa E, wilayah kerja puskesmas N. Perjalanan
dari Desa B ke wilayah kerja puskesmas N, kurang lebih tiga jam dengan mobil
sebagai transportasi. Aku kebanyakan tertidur dan berpikir selama perjalanan.
Setiba di wilayah kerja puskesmas N, aku menyampaikan maksudku, untuk turun
pemantauan. Ada petugas yang turut bersamaku, memantau beberapa balita.
Ternyata sebagian besar balita gizi
kurus, disini pekerja orang tuanya adalah tani. Mungkin mereka bukan petani
modern yang dapat banyak keuntungan, hanya petani biasa. Ibunya hanya seorang
ibu rumah tangga, sebagian yang ku temui demikian.
Ku
coba tanya-tanya, “Apa ada dapat bantuan sosial begitu?” Walaupun ini bukan
bagian dari pertanyaan dalam pemantauan. Aku hanya ingin bertanya saja mengenai
itu.
“Tak
ada, tak ada,”
sebagian kata dari mereka. Ku pikir bantuan sosial dari dinas terkait semisal
Dinas Sosial ada, ternyata tidak.
Ada satu balita yang ku temui orang
tuanya masih muda, mungkin menikah karena kasus. Setelah menikah suaminya
pergi, entah kemana, tak bertanggung jawab. Istrinya yang masih muda, memilih
melanjutkan kuliah. Si bayi hanya dijaga neneknya. Kadang-kadang mereka tak
membeli susu untuk si bayi. Sebenarnya si bayi masih butuh ASI sampai enam
bulan, ASI Ekslusif. Tapi begitulah adanya. Sehari ternyata karena tak membeli
susu, si bayi diberi teh, kalau tidak ya air gula. Tapi yang miris kadang
pernah diberi air belimbing. Ah, malangnya rakyat kita. Aku hanya bisa iba pada
mereka. Dan dalam hati ku tanya dimana peran pemerintah? Pada pemerintahnya
dari partai berlambang Banteng, yang katanya nasionalis, serta bergerak pada
wong cilik, masyarakat kecil.
Sehari setelah itu, aku balik ke
tempatku. Kembali ke Ternate. Ada beberapa hal ku ceritakan pada Dawam dan
Said, yang ku temui di sekretariat tentang beberapa kejadian yang ku temui.
“Kadang-kadang ku pikir gerakan Islam
harus melampaui gerakan moral, gerakan Islam juga harusnya mampu mengentaskan
kemiskinan,”
kata Dawam
Ku tatap pada Said, “Aku rasa semua
harus dimulai dari perbaikan moral. Dimulai dari pemuda karena kita memang
estafet segala kepemimpinan ke depan. Perbaikan moral-lah yang akan
menyelesaikan masalah, membuat penganggaran sesuai prosedural hingga tersentuh
pada masyarakat,” kata Said sambil menatap
pada aku dan Dawam.
Kadang-kadang aku sendiri berpikir,
“Bahwa moral, keinginan, kepedulian, harus kita lampaui, kita juga butuh
kemampuan, dan turut pula kemauan untuk memulai mengentaskan kemiskinan,
minimal meminimalisirnya dengan segala program yang kita bisa. Dan janganlah
kita bicara keadilan, bila masyarakat sendiri masih terkukung tanpa komunikasi
dan sulitnya transportasi. Dan jangan kita bicara kesejahteraan kalau kita
masih menyaksikan bayi yang meminum air belimbing. Walaupun gubernurnya seorang
kiai sekalipun. Atau anggota dewannya dari partai yang mengatasnamakan dakwah
sekalipun. Atau pemerintahnya dari partai berlambang Banteng, yang katanya
nasionalis, serta bergerak pada wong cilik, masyarakat kecil,” aku hanya termenung.
Masih termenung aku berkata, “Partai
nasionalis, partai islam, partai kiri, rasa-rasanya sama saja bung, sama-sama
kepentingan pribadi, urusan yang penting uang.”
“Atau di birokrasi masalahnya?” aku
bertanya lagi. “Ah, bukannya yang menjadi pemimpin pemerintah itu dari partai?
Yang mengatur segala ketentuan dan penganggaran kan dari pemerintah yang
ujungnya dari partai!”
Dan Dawam dengan semangat berkata,
“Aku dari dulu mencoba selalu menempatkan pada pola pandang, Islam, Islam yang
bergerak. Islam Bergerak.”
.webp)
Posting Komentar
0 Komentar