Orang-Orang Sederhana - 8 - Daerah Utara


Serial Orang-Orang Sederhana
M. Sadli Umasangaji

8
Daerah Utara







Beberapa aktivitas Gifar semasa berkuliah di Kota T adalah mengikuti beberapa teman ke beberapa daerah untuk pengambilan data, untuk sekedar mengikuti teman jalan-jalan ke rumah teman, atau yang lebih esensi kadang melakukan advokasi. Ya, Gifar sekedar menyenangkan hati, berjalan-jalan untuk mengunjungi desa-desa kecil. Itu pun kalau diajak temannya dan segala ongkosnya dibiayai oleh temannya atau kadang dibiayai sama senior di organisasi.

Gifar, Ismu dan Arkan bersama senior mereka, Bang Sira melakukan perjalanan ke daerah Utara Kabupaten HT. Perjalanan menuju daerah Utara, mereka lalui Kota T, Kabupaten HU. Memang bisa juga lewat desa B, Kabupaten HT, yang menjadi tempat tinggal Ismu. Perjalanan ke daerah Utara hanya bisa melalui kapal laut. Kurang lebih 8 jam perjalanan menggunakan kapal. Dalam perjalanan menuju daerah Utara, ada di beberapa kali berhenti menunggu penumpang dari desa, menuju ke kapal menggunakan perahu kecil. Dan dalam setengah perjalanan, jaringan handphone sudah tak ada jaringan. Transportasi yang susah dan tak ada jaringan komunikasi. Di atas kapal selama perjalanan di daerah Utara berkali-kali kita akan lihat juga orang-orang mengangkut kopra untuk dijual, kopra akan dibawa ke Kota T, Kabupaten HU. Aroma-aroma khas kopra akan terasa sekali di hidung.

Dulu di daerah Utara, banyak sekali ikan julung. Disini sebagian pencarian sebagai nelayan. “Disini dulu banyak ikan julung, gampang sekali kalau dikail, bahkan mudah sekali didapat. Sekarang agak sulit”, kata orang-orang disini. Ikan julung atau ikan julung-julung merupakan kelompok ikan yang hidup di permukaan, ikan dengan bentuk rahang bawahnya meruncing ke depan dan lebih panjang dari rahang atasnya. Beberapa daerah menyebutnya sebagai ikan roa. Ikan julung biasanya akan dijadikan ikan yang diasar atau bahasa disini adalah ikan yang difufu atau lebih sering disebut sebagai ikan tore. Orang-orang disini ada yang menjadi nelayan, ada yang bertani kelapa untuk kopra, seperti biasanya orang-orang sederhana di desa. Atau menjadi pekerja serabutan yang penting bisa dapat sedikit uang. Gifar jadi terbayang sama bapaknya.

Kami sekedar mendata mengikuti Bang Sira untuk melihat data-data balita kurus di daerah Utara, sekaligus mendata keluarga-keluarga sederhana dengan ekonomi yang terlampau susah. Setiba disini kami rencana menginap sekitar 1 minggu. Disini selama menginap kami disajikan mie instan. Mie instan dianggap makanan spesial untuk disajikan ke tamu, sekiranya begitu. Gifar berpikir, mie instan itu diproduksi oleh orang-orang berduit bahkan pengusaha terkaya di negeri ini, makanan praktis yang disediakan oleh orang-orang sederhana bahkan melarat dalam perut yang menanti makanan. Makan mie instan adalah kepastian orang-orang sederhana di negeri ini. Makanan praktis yang memang tak butuh keluar banyak duit. Sedangkan yang memproduksi sebagai pengusaha-pengusaha berkantong tebal mana mau menikmati mie instan yang mereka produksi?

Selama disini kami menginap di salah satu rumah teman yang bekerja di Puskesmas di daerah Utara ini. Disini Ismu dan Gifar yang juga berasal dari Kabupaten HT, menyaksikan daerahnya dari kacamata jauh yang tanpa jaringan dan susah akses transportasi. Mereka bertemu dengan Ervino. Ervino merupakan dokter di Puskesmas tersebut. Ervino adalah orang kota atau lebih tepat dapat disebut sebagai orang ibu kota yang ‘terpaksa’ melakukan pekerjaan di daerah-daerah terpencil.

Kadang kita dengar bahwa orang-orang kota itu individualis, pikiran-pikirannya terlampau berpikir soal isi kantong yang banyak. Manusia yang mengorientasikan dirinya sebagai individu akan merasa hidupnya adalah untuk dirinya sendiri. Walaupun asas dasar manusia adalah makhluk sosial. Orang-orang kota menjadi individualis karena faktor eksternal yang membentuk mereka menjadi demikian. Faktor eksternal mengondisikan seseorang menjadi pribadi yang individualis. Faktor-faktor itu kadang dikaitkan dengan revolusi industri, transportasi, teknologi dan juga pasar serta kemajuan ekonomi yang mengubah kondisi kehidupan sosial. Industrialisasi mengubah pola kehidupan masyarakat menjadi begitu individual. Bahkan negeri yang kita kenal agraris menjadi lebih industri. Individualisme ini muncul karena arogansi kaum industrialis yang memunculkan praktik-praktik perbudakan. Pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi yang dianggap semakin pesat memunculkan persoalan sosial baru sebagai dampak. Bahkan samar-samar strata-strata kelas tercipta.

Kelas-kelas sosial tercipta karena adanya semangat dari kelas yang seolah-olah mementingkan dirinya sendiri dan mengabaikan individu-individu yang lain. Manusia dengan hidup terkotak-kotak dalam kubikel, spesialisasi dan juga klaster. Individualisme sebagai tanda muncul sistem klaster atau kawasan elit yang membuat penghuni berjarak dengan sekitar. Faktor pekerjaan telah begitu memberikan pengaruh interaksi antar warga di perkotaan. Orang-orang yang biasanya bekerja dari pagi hingga malam. Sesampai di rumah, mereka beristirahat dan butuh ketenangan. Kian lama, orang-orang kota makin individualis.



#



Berselang beberapa hari, teman-teman di Puskesmas daerah Utara menyebutkan bahwa Ervino adalah penyendiri kelas kakap. Dia bisa berkurung diri di kamar seharian dan hanya keluar saat waktu makan. Memang daerah Utara tak ada jaringan. Kadang Ervino biasa main wifi untuk internetan di kantor kecamatan. Tapi bila di rumah Ervino adalah penyendiri sejati. Penyendiri adalah sifat dasar. Memang para penyendiri kadang lebih suka hidup dengan orang yang juga penyendiri. Tak banyak bicara. Tak banyak bercerita. Orang penyendiri akan lebih nyaman tinggal sendirian atau kadang memilih hidup dengan orang yang sangat individual. Masuk kamar. Dan berkurung diri adalah kenikmatan bagi mereka. Penyendiri tentu tak kita samakan dengan individualis. Penyendiri bisa jadi adalah pemalu level atas.



Setelah melakukan pelayanan dia akan kembali ke kamar dan berkurung diri. Sedikit saja bicaranya. Gifar mencoba bercakap dengan Ervino ketika kebetulan makan bersama di rumah di Puskesmas, "Dok, bagaimana bisa hingga mau bertugas disini?"



"Ya, begitulah. Mau kumpul uang untuk lanjut studi", jawabnya sekena saja.



"Betah disini tidak dok?"



"Betah gak betah, ya jalani saja. Lagian kalau di Kota itu kadang bisa kerja seharian. Pada memang. Bisa waktu istirahat hanya satu, dua hari saja. Anggap saja disini liburan sekalian kerja, banyak waktu istirahat", jawabnya sambil tertawa.



Setelah makan mengobrol sedikit. Ervino masuk kamar lagi. Kami bertanya pada teman kami yang tinggal di rumah Puskesmas ini juga, “Dokter Ervino memang begitukah kesehariannya?”, mereka hanya tertawa sebagai tanda mengatakan ya, demikianlah.



Memang penyendiri adalah sifat dasar. Kadang-kadang Gifar menyadari bahwa ia kadang suka sendiri tapi tak sedemikian begitu. Setelah tanya lagi pada Ervino di waktu makan, "Bagaimana Ervino, nyaman disini?"



Dia banyak bercerita kali ini tentang tempat tugas sebelumnya, tentang kehidupannya di kota yang padat, kadang monoton hingga gaji yang lebih kecil ketimbang di daerah sangat terpencil begini. Kerjanya sedikit, pasiennya sedikit, tapi gajinya besar. Memang mereka adalah profesi istimewa. Menggiurkan gajinya.



Di hari terakhir Ervino keluar cukup lama dari kamarnya. Di siang haripun setelah pelayanan dia menuju kantor kecamatan, menggunakan wifi. Malam dia bercerita banyak dari jadwal hariannya, jadwal wifi, iseng-iseng menggoda tentang jodoh di Daerah Utara sampai cita-citanya melanjutkan profesi istimewa di atasnya lagi, dokter spesialis.



Daerah Utara memang senyap. Orang-orang seperti Ervino memang baik ditempatkan di sini. Penyendiri. Berbeda dengan beberapa teman yang asli dari Daerah Utara lebih terbiasa. Orang-orang daerah Utara adalah orang-orang sederhana. Orang-orang yang lebih layak menjadi sosialis karena realitas. Orang-orang yang sebenarnya berjiwa kerelawanan karena realitas bukan sekadar teoritisasi. Orang-orang yang bekerja daerah Utara sebenarnya murni punya jiwa kerelawanan sejati. Daerah tanpa jaringan, bagi yang di luar profesi istimewa maka ia bergaji standar, akses transportasi yang sulit, jalan yang masih tanah kasar, sebatas pasir. Kadang makan ikan juga susah. Makannya mie instan melulu, ikan kaleng, telur.



Orang-orang Utara karena realitas harusnya memiliki kesadaran sosialis. Tapi bila kita naik kapal maka terlihat karakter orang-orang Utara yang beragam. Ada yang karena sifat dasarnya ia menjadi borjuis bergaya tapi kantong melarat, ia bergaya dengan kacamata, sepatu, berjoget kalau dengar musik, ini dominan pada anak setengah baya, anak muda, dan pria dewasa berumur tiga puluh sampai empat puluhan, sebagian terlihat pada kakek-kakek juga. Tapi ada pula yang terlampau sederhana terlihat seperti orang desa adanya.



Tinggal di daerah Utara bisa jadi kenikmatan, bisa jadi derita. Sebelum pulang ketika duduk menunggu kapal, Gifar bertemu dengan pemuda daerah Utara. Gifar berbincang dengannya, menyarankan melanjutkan ke bangku kuliah, apapun jadinya setelah kuliah itu biarlah nanti. Seakan-akan dia berkaca pada dirinya sendiri, orang-orang sederhana yang tanpa impian, memikirkan cara mengisi perut adalah segalanya



Orang-orang yang bekerja di daerah Utara juga susah. Gifar pun belum bisa membayangkan akan suatu waktu kalau ia bekerja disini atau di tempat seperti ini. Orang-orang yang bekerja di daerah Utara bisa menikmati, bisa akrab dengan kondisi, bisa menjadi penyendiri. Seperti Ervino yang ternyata setelah keluar 3 bulan dari daerah Utara, ia mengunduh berbagai film kemudian kembali ke daerah Utara menonton filmnya dan berkurung diri di kamar. Jarang bercakap dengan teman-temannya di Puskesmas. Tapi mau tidak mau dia tetap menjalani tugasnya. Karena punya tujuan, dan cita-cita ke depan disokong gaji yang besar.



Tapi derita bagi yang bergaji kecil, jiwa kerelawanan harus dominan. Sekali lagi daerah Utara memang penuh tantangan. Banyak pula kesadaran sosialis yang harusnya tumbuh disana. Berselang waktu seminggu, Gifar, Ismu, Arkan dan Bang Sira kembali ke Kota T.

Posting Komentar

0 Komentar