Perseteruan dan Nasib
Kita
akan terus menerus bertanya, “Apa guna manusia ada?”
Baik dalam riuh, diam, tenang,
gembira, bahagia, sedih, sesak nafas, bahkan ketika tak mampu. Dan terdengar
lirih, “Siapakah kita ini? Manusia?” Tapi Nursi, ya, Nursi. Dia masih terus
menjadi pencatat. Nursi adalah pencatat, penjelajah, pengimajinasi, sekaligus
kadang-kadang menjadi perenung. Nursi adalah penjelajah kisah sekaligus cerita.
Penjelajah kisah dan cerita yang kemudian ia tuangkan menjadi catatan.
Catatan-catatannya itu bisa sangat mendalam atau sebaliknya akan dipandang
terlalu usang.
Nursi memahami bahwa semua memang
bermula dari kata. Kata-kata, kisah, cerita dan catatan. Kata-kata dalam
lintasan pikiran merupakan abstraksi yang menggerakan setiap kreativitas
manusia baik pemikiran, tindakan, perilaku atau bahkan kegiatan.
Dan adagium yang terlintas, “maa kaifa tufakkir, anda akan menjadi
seperti apa yang anda pikirkan”. Setiap realitas yang terjadi di alam
kenyataan, sebelumnya merupakan realitas di alam pemikiran. Sebaliknya realitas
yang tidak pernah ada di alam pemikiran maka tidak akan pernah pula menjadi
realitas di alam nyata. Berarti kita ini dituntun, digerakkan dan diwarnai oleh
cara berpikir kita.
Penjelajah cerita dan catatan itu
melampaui ruang dan waktu. Nursi telah memaknai berbagai ruang dan waktu, ia
menjelajah sebagai penjelajah cerita. Rentang sejarah telah menunjukkan
dinamika perubahan sosial meliputi interaksi-interaksi dari manusia, ide, ruang
dan waktu. Manusia merupakan pusat perubahan, ia adalah pelaku dimana ruang dan
waktu adalah panggung pertunjukkannya. Ide menjadi penggerak manusia dalam
seluruh ruang dan waktu. Perubahan-perubahan penting dalam ide-ide manusia
menjadi pemicu dalam perubahan-perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Nursi termenung, “Manusia bergerak
dalam ruang dan waktu secara dialektis antara tantangan dan respon terhadap
tantangan. Ide yang membentuk gagasan memenuhi benak manusia merupakan
manifestasi dari dinamika dialektis itu. Hidup manusia bergerak dan terus
bertumbuh karena adanya respon tantangan di sekelilingnya. Hasil respon baru
itu selanjutnya melahirkan tantangan-tangan baru yang menuntut respon-respon
baru.”
Nursi telah melakukan penjelajahan
di Kerajaan Golojo. Entah mengapa Nursi sebagai pemuda dari sebuah pulau kecil
malah terdampar lagi ke sebuah pulau besar. Sebuah pulau besar yang dikenal
dengan sebutan pandangan terujung. Orang-orang di pulau ini dahulu kala adalah
orang-orang pesisir, etnis yang mendiami pesisir selatan. Etnis yang disebut
berjiwa penakluk dan pemberani. Gemar berperang di lautan. Mereka dapat hidup
berlama-lama di tengah laut. Bahkan mereka dikenal hingga ke pulau Kanguru. Sumber-sumber
dahulu menyebutkan pulau ini dengan sebutan Macacar. Sudah lama pulau ini
ditetapkan sebagai sebuah ibu kota kerajaan di masa lampau. Bagian-bagian
kerajaan sebagai serpihan-serpihan pulau. Kemudian diartikan sebagai tampak,
timbul, wujud, nyata, jelas, mulia besar, jujur, berterus terang. Tersebutlah
pandangan terujung. Masa-masa lampau sebelum menjadi serpihan dari Kerajaan
Golojo, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan dengan kekuatan armada
laut yang besar bahkan dapat disebut sebagai imperium yang bernafaskan Islam.
Sekarang di pulau besar peninggalan-peninggalan seperti itu hanya akan menjadi
cerita atau bahkan museum. Museum itu sekarang terbuat dari bahan kayu jati
bercorak arsitektur tradisional.
Awal mula Nursi datang ke sini
adalah untuk belajar, melanjutkan studi. Pulau besar ini merupakan pulau dengan
kemajuan yang pesat, menjadi tempat pemuda-pemuda Timur melanjutkan studi baik
semasa menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas atau melanjutkan studi
pada jenjang Pascasarjana. Ciri-ciri Pulau Besar adalah suatu daerah dengan
perkotaan yang besar memiliki adanya konsentrasi jumlah penduduk yang sangat
tinggi, dapat dikatakan jumlah penduduk yang dihuni minimal lebih dari satu
juta penduduk. Berbagai kegiatan industri perdagangan, perbankan, ekonomi juga
tumbuh sangat pesat. Bukan cumin pendidikan, Pulau Besar juga biasanya menjadi
tempat bagi orang-orang dalam mencari pekerjaan. Urbanisasi yang tinggi
menimbulkan kepadatan penghuni, lalu lintas terasa macet dan padat, bahkan
hingga polusi udara juga bersamai. Kebisingan akan tentu menyertai Pulau Besar.
Nikmatnya adalah ia tempat orang menempuh belajar, melanjutkan studi.
Nursi terlempar dalam sebuah kelas
dalam Pulau Besar sebagai tempat ia studi. Nursi belajar tentang bagaimana
makanan untuk kesehatan. Upaya untuk mencapai, mempertahankan dan memperbaiki
kesehatan melalui makanan. Sejak zaman dahulu, manusia menyadari pentingnya
makanan untuk kelangsungan hidup. Dahulu makanan bisa menjadi tabu, kekuatan
magis atau dijadikan sebagai nilai-nilai penyembuhan. Nursi merenung, “Apa
tujuan ia belajar tentang makanan?”
“Hingga
kesadarannya menjelma bahwa Hippocrates menyebutkan bahwa makanan itu sebagai
energi bagi manusia”
Nursi masih
merenung, “Atau kesadaran bahwa Tuhan telah mentitahkan bahwa “Dan sesungguhnya pada
binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi
kamu, kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan pada
binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian
darinya kamu makan.” (QS Al-Mu’minun (23) : 21)”
Saat ini
ilmu yang dipelajari Nursi dan teman-teman di kelas telah
berkembang. Secara klasik ilmu itu hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh
(sebagai sumber energi, membangun dan memelihara jaringan tubuh, dan juga
sebagai zat pengatur dalam tubuh). Kini ilmu itu berkembang selain untuk
kesehatan, ia juga menjadi kaitan dengan potensi ekonomi, atau masalah-masalah
realitas sosial yang mempengaruhi. Nursi telah belajar tentang kerangka
penyebab anak kurus dan juga pendek. Faktor penyebab tidak langsung dan akar
masalahnya adalah berkaitan dengan intervensi negara dan bangsa. Ketidakstabilan
ekonomi, politik, dan sosial dapat disebabkan oleh rendahnya tingkat
kesejahteraan rakyat, yang tercermin dari rendahnya konsumsi makanan. Oleh
karena itu, ilmu yang ia pelajari merupakan salah satu tumpuan penting dalam pembangunan
ekonomi, politik, dan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.
#
Bukan hanya soal ilmu yang
dipelajari. Sebagai penjelajah cerita, Nursi melihat perseteruan dalam kelas
studinya. Perseteruan itu terbentuk karena kelompok-kelompok dalam kelas
studinya.
Kelompok pertama
dipimpin oleh Pria bertubuh gemuk. Pria ini sangatlah malas. “Apakah orang
gemuk akan cenderung malas?” Tapi tidak, gemuk hanyalah identitas fisik saja.
Malas atau tidaknya seseorang tergantung minat dan inisiatif pribadinya.
Kelompok kedua
dipimpin oleh Pria berkacamata. Pria ini sangatlah rajin. “Apakah orang
berkacamata identik dengan kecerdasan?”. Ternyata tidak, kacamata adalah
pelengkap bagi orang yang telah memiliki mata minus. Kecerdasan bertumbuh
karena keminatan seseorang yang kuat akan sesuatu.
Padahal mula-mula
kedua pria ini berada pada ruang pekerjaan yang sama. Pria berkacamatalah yang
mengajak Pria gemuk itu sama-sama melanjutkan studi. Desas desus memang semasa
di ruang pekerjaan mereka kadang berseteru. Dengan asumsi-asumsi kamu malas, kamu
terlalu rajin. Pada waktu sebuah jam pelajaran kelas, pria berkacamata itu
menyebutkan kepada seorang teman di kelas, “Bisa-bisanya kamu berteman dengan
orang malas seperti itu.”
“Apakah
perseteruan orang-orang itu akan berkisar pada tingkat kemalasan dan tingkat
kecerdasan?” Nursi merenung. Ia pemalas tapi kadang-kadang merasa perlu rajin.
Entahlah. Ia sebagai Penjelajah Cerita selalu memilih berada di tengah. Berada
di tengah itu kadang menyulitkan, tapi kadang juga membebaskan. Nursi sekali
waktu bisa berbincang panjang tentang teori-teori sebab akibat anak-anak
menjadi pendek dengan pria berkacamata. Tapi di lain waktu bisa makan sambil
tertawa dengan pria gemuk.
Pria gemuk itu
berkelompok dengan teman-temannya yang memiliki minat yang sama, sama-sama tidak
terlalu suka tugas studi, sama-sama suka pusing ketika studi, bahkan minat soal
diskusi itu bagi mereka membosankan. Tapi entahlah, “Mengapa mereka juga
memilih melanjutkan studi? Apakah mereka terlanjur ingin memusingkan diri? Atau
terjebak saja dalam perebutan-perebutan gelar mentereng selepas nama?”
Pria berkacamata
dengan teman-teman kelompoknya, mereka adalah orang-orang yang merasa atau
dapat disebut berlebihan rajin, bahkan terlalu rajin dalam membuat tugas-tugas
studi. Entah mereka memerlukan gelar-gelar mentereng atau tidak.
Tapi jangan tanya
soal nasib dan keberuntungan apalagi harta. Soal nasib orang-orang sejenis pria
gemuk adalah yang bernasib baik, memiliki harta berlimpah dan terlanjut
memiliki keberuntungan. Sementera orang-orang sejenis pria berkacamata
kadang-kadang akan hidup dalam harta yang terlampau tipis, kadang-kadang bisa
jadi ia bernasib baik tapi di lain waktu keberuntungan kadang tidak sudi untuk
mendatangi.
#
Perseteruan itu bisa jadi seperti
perseteruan klan-klan. Seperti dalam kisah-kisah anime. Anime memang seperti
sastra. Seperti novel. Berpanjang-panjang dengan alur cerita maju mundur. Anime
dan sastra memang bagian dari serpihan-serpihan yang dinikmati Penjelajah
Cerita. Kejadian itu bermula dari era peperangan dan pertumpahan darah yang
tanpa henti. Saat itu belum terciptanya desa-desa yang diorganisir. Perseteruan
itu merupakan perseteruan klan. Klan bermata jernih dan klan kayu.
Bertahun-tahun perseteruan itu terus terjadi.
Pada masa kecil,
mereka berdua bertemu mula-mula di pinggir sungai. “Kali ini, pasti bisa sampai
di Seberang,” pria bermata jernih berkepribadian penuh ambisi itu sedang
melatih diri melempar batu hingga bisa melewati seberang sungai.
Datanglah Pria
kayu berkepribadian riuh, “Kau harus melemparnya sedikit lebih tinggi agar
sampai di seberang”. Dan lemparan melewati seberang sungai.
Mereka berbincang
kemudian sama-sama menyadari bahwa mereka adalah shinobi. “Sampai jumpa. Jangan
pernah menyebutkan nama belakangmu”, kata pria kayu ketika masih kecil pada
pria bermata jernih.
“Itu hukum dasar
shinobi,” kata pria bermata jernih
“Sudah ku duga kau
juga shinobi,” kata pria kayu
Pria kayu lirih
berkata, “Kepribadian kami berlawanan. Tapi aku merasakan hubungan misterius
yang aneh dengannya”
Pria kayu adalah pria yang
bersemangat, kadang suka gugup sendiri ketika masa kecil, tapi tingkahnya
selalu riuh. Ia senang bertemu dengan orang-orang baru, menyukai kompetisi
persahabatan. Kadang bisa depresi karena orang lain, keras kepala dan sering impulsif.
Seperti tokoh-tokoh anime dalam peran utama, kadang kelihatan penuh kebodohan
tapi selalu memiliki semangat yang tinggi.
Pria bermata jernih adalah pria yang
penuh dengan tekad, masa kecil terlihat juga ceroboh tapi sikap tegas dan
ambisinya sangat kuat. Ia seperti tokoh anime pendamping peran utama, selalu
berambisi, kelihatan cerdas, dan sangat kuat. Memiliki kekuatan yang sulit
dikalahkan.
Mereka
berdua hidup dalam masa peperangan tapi menjalin pertemanan yang kuat dengan
kepribadian yang berlawanan. Semasa kecil walaupun berbeda klan mereka berdua
terus berlatih bersama di pinggir sungai. Bertahun-tahun pula kedua klan terus
bertarung hingga keduanya dewasa. Mereka memiliki perasaan yang sama soal
peperangan dan kematian saudara-saudaranya. Kemudian pria kayu kecil berkata,
“Sudah ku putuskan akan ku bangun desa gabungan klan disini. Kita akan membuat
sekolah di mana anak-anak akan belajar dan tumbuh kuat”.
Hari demi hari mereka
jalani dengan pertarungan, sampai mereka menjadi pemimpin Klan mereka
masing-masing dan melupakan impian mereka dahulu. Dalam sebuah
pertempuran klan pria kayu memenangkan pertempuran dan klan pria mata jernih
terjepit kekalahan. Pria kayu menawarkan gencatan senjata karena masih
menginginkan impiannya di masa lalu terwujud, namun Pria bermata jernih tidak
setuju. Waktu pertempuran terus berjalan. Pria bermata jernih tetap selalu
tidak mempercayai pria kayu. Hingga keputusan pria kayu untuk perdamaian klan,
ia memilih membunuh dirinya sendiri tetapi kemudian pria bermata jernih
membatalkan hal itu. Kedua klan jadi berdamai. Mendirikan sebuah desa dengan
impian lama yang terucap oleh pria kayu kepada pria bermata jernih.
Waktu terus menerus
berjalan. Pria kayu ingin Pria bermata jernih yang lebih pantas menjadi
pemimpin mereka, namun semua orang bahkan Klan Pria bermata jernih sendiri
lebih memilih Pria kayu yang menjadi pemimpin mereka. Ketika saat itu, Pria
bermata jernih mulai berpikir bahwa seorang klan Pria kayu ketika menjadi
pemimpin akan menindas klan bermata jernih. Pria bermata jernih mengajak
seluruh anggota klannya meninggalkan desa namun tidak ada yang mendengarkannya.
Pria bermata jernih memutuskan untuk meninggalkan Desa dan saat itulah ia
berubah menjadi jahat.
Perenungan Nursi kembali, “Apakah
perseteruan orang-orang itu akan berkisar pada tingkat kemalasan dan tingkat
kecerdasan? Pada sikap ambisi dan sikap ramah riang?”
“Begitukah
kehidupan?” Nursi dengan kesenangan anime seperti kisah Madara dengan Hashirama
atau Indra dengan Ashura.
#
Soal nasib, dalam suatu ujian
terkait kompetensi, ternyata teman-teman Pria Gemuk banyak lulus, Pria Gemuk
sendiri yang dipikir bakal tidak lulus, ternyata lulus. Nasib mereka adalah
orang-orang beruntung. Pria Gemuk riang begitu rupa. Sementara teman-teman Pria
berkacamata, ada satu diantaranya yang tidak lulus. Padahal seperti umumnya
teman-teman dari Pria berkacamata adalah orang-orang yang dipikir dijamin
lulus. Tapi nasib memang berkata lain. “Kadang duduk di kelas berdiam-diam
mendengar dengung-dengung pelajaran di kelas adalah baik. Tapi menikmati skala
di luar kelas adalah kenikmatan tersendiri. Kemalasan di dalam kelas adalah
perilaku kurang menikmati kelas, kadang dapat disebut buruk. Kadang pintar di
kelas adalah nasib baik, tapi pintar di kelas bisa kalah dengan orang-orang
kurang menikmati kelas dengan nasib beruntung. Nasib,” Nursi masih termenung.
Ruang yang megah itu kemudian memberikan kesempatan pada orang-orang yang
belajar dalam kelas studi itu menikmati hari-hari terakhir dalam studinya. Bisa
jadi indah, bisa jadi mengenang, bisa jadi terlampau biasa saja.
Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus
Post icundum iuventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus
Nos habebit humus
Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat academia!
Vivant professores!
Lagu dan musik terngiang-ngiang dalam ruangan yang megah itu. Tanda
Nursi dan teman-teman kelasnya akan kembali pada habitat.
Panjang
umur akademi!
Panjang
umur para pengajar!
Panjang
umur akademi!
Panjang
umur para pengajar!


Posting Komentar
0 Komentar