Perseteruan di Kerajaan
Serial Penjelajah Cerita dan Langit Senja
M. Sadli Umasangaji
Perseteruan di
Kerajaan
Tak kalah hebat dari Pulau Kecil dan tentu memang jauh
lebih hebat karena ini adalah Pusat Kerajaan. Terjadi balas pantun antara Tuan
Kido dan Tuan Bargi. “Sekarang isunya ganti lagi isu kaos, tagar #GantiRaja,
masa kaos bisa ganti raja?” kata Tuan Bargi dengan ekspresi cemberut dalam
sebuah forum kerajaan.
“Yang bisa ganti raja itu rakyat jelata. Kalau rakyat
jelata memiliki kehendak, bisa, kalau rakyat jelata tidak mau, ya gak bisa.
Yang berikut adalah kehendak dari Tuhan yang Maha Kuasa”, ekspresi Tuan Bargi
kembali terlihat cemberut. “Masa kaos bisa ganti raja, gak bisa!” Tuan Bargi
sambil angkat tangan ke atas dengan gaya menolak ke kiri ke kanan.
“Kita harus memang tahan uji, harus tahan banting,
harus kerja keras, harus berusaha,” Tuan Bargi seolah terusik atas penyampaian
Tuan Kido dalam kesempatan forum kerajaan lain.
“Bung! Kerajaan lain sudah bikin kajian-kajian dimana
Kerajaan Golojo akan bubar 30 tahun
lagi,” kata Tuan Kido. Tuan Kido mengutip sebuah kisah fiksi dari ulasan Kerajaan
Kapitalis Lain.
Balasan lagi dari Tuan Bargi, “Jangan membicarakan
pesimis, 30 tahun lagi kerajaan bubar. Raja itu harus memberikan optimisme pada
rakyat jelata. Raja itu harus memberikan semangat pada rakyat jelata, Meskipun
tantangannya berat. Meskipun tantangannya tidak gampang. Memang mungkin ada
yang berbicara kita pahit, mungkin ada yang berbicara kita susah. Tapi kita
lihat ada titik yang terang yang kita tuju.”
Tuan Kido dengan gaya menyindir seolah-olah seperti
gaya Tuan Bargi, “Nanti bilang Tuan Kido ngarang, Tuan Kido pesimis, pesimis,”
masih sambil meniru gaya Tuan Bargi.
“Elit kita ini merasa bahwa delapan puluh persen,
tanah seluruh kerajaan dikuasai satu persen orang-orang kapitalis kerajaan,
tidak apa-apa. Bahwa hampir seluruh aset dikuasai satu persen, tidak apa-apa.
Bahwa sebagian besar kekayaan kerajaan diambil ke luar kerajaan, tidak apa-apa.
Ini yang merusak kerajaan! Semakin pintar, semakin tinggi kedudukan, semakin
curang, semakin culas, semakin maling!” kata Tuan Kido.
Semakin Golojo!
“Banyak dari kita ini ingin melemahkan kerajaan ini
dengan cara-cara tidak beradab. Ngomongin isu antek asing, tuding-tuding ke
saya, gagal, hilang. Ganti lagi antek aseng. Gagal, hilang lagi. Ganti lagi isu
komunis. Saya jawab saat itu saya masih balita 4 tahun, masa ada komunis
balita?” Tuan Bargi kembali berkata.
Masa kerajaan di tangan raja Tuan Bargi, besar-besaran
membangun infrastruktur disinyalir penyebab utang kerajaan kian subur. Bau
korupsi yang mewarnai disebut sebagai biang serangkaian kecelakaan yang
terjadi. Infrastruktur ambruk.
Itu namanya Golojo!
#
Tuan Kido seperti Kaido bertubuh besar, berwajah
garang, menjadi salah satu dari Yonkou. Yonkou adalah bajak laut terkuat yang
memerintah dan memiliki daerah kekuasaannya sendiri di Dunia Baru. Atau seperti
Aikanu seorang admiral dalam serial anime, berwajah garang, berwatak keras,
punya naluri membunuh dan terlihat pemarah memiliki kekuatan yang kuat, magma.
Sedangkan Tuan Bargi seperti Buggy, penuh tawa, dan menjadi seorang Shichibukai
dengan tiba-tiba dan diduga bukan karena kekuatannya tapi orang-orang di balik
admiral. Shichibukai adalah perkumpulan tujuh bajak laut yang sangat kuat dan
menyatakan kesepakatannya pada pemerintah angkatan laut demi keuntungan
tertentu.
Ini hanya sekedar lelucon.
Kembali pada dinamika Kerajaan Golojo, para pengikut Tuan Kido dan Tuan Bargi saling menyerang dan
adu argumen. Dan hari-hari kini para rakyat
jelata kembali melihat Tuan Kido dan Tuan Bargi, siapa yang akan menjadi raja?
Tuan Bargi bukanlah komunis. Dia dan orang-orang dalam
memimpin kerajaan tidak melakukan kepemilikan bersama terhadap aset-aset
kerajaan. Yang adalah melakukan swatanisasi. Ini bertentangan dengan gerakan
kiri.
Maka Tuan Bargi tidaklah kiri.
“Saya sudah perintah kepada perusahaan kerajaan. Kalau
sudah bangun tol, sudah jadi. Segera itu dijual. Nanti jadi lagi, jual lagi.
Konsep lama kan kalau sudah jadi harus memiliki. Setiap bulan dapat pemasukan
kerajaan dari itu. Itu sudah kuno,” kata Tuan Bargi.
Jelas Tuan Bargi tidaklah kiri. Tidak melakukan
revitalisasi kepemilikan kerajaan.
Melalui pengusahaan pasar dunia, borjuasi telah
menjadikan produksi dan konsumsi semua negeri bersifat kosmopolitan. Betapapun
kaum reaksioner merasa sedih sekali, borjuasi telah menarik landasan nasional
dari bawah kaki industri. Seperti kata Marx dalam Manifesto Komunis.
Nursi terbayang dengan buku berwarna merah itu, Buku
Merah Tuan M, yang tertulis, “Kalian merasa ngeri, bahwa kami akan menghapus
kepemilikan perseorangan. Tetapi di dalam masyarakat kalian yang berlaku
sekarang, kepemilikan perseorangan bagi Sembilan persepuluh anggota-anggotanya
sudah dihapuskan. Jadi kalian menuduh kami, bahwa kami akan menghapus suatu
kepemilikan, yang untuk adanya tidak bisa tidak memerlukan syarat
ketiadaan-milik bagi sejumlah terbesar dari masyarakat.”
Salah satu poin dalam tindakan-tindakan itu, Buku
Merah Tuan M poin 6. “Pemusatan semua alat-alat pengangkutan ke dalam tangan
Negara.”
Nursi sebagai pencatat kisah ini, membatin, “Kerajaan
ini lebih banyak komunis biologis yang nalurinya adalah balas dendam. Ketimbang
sebuah naluri untuk teori-teori sosialisme.”
“Apalagi sosialisme baru, kiri baru,” pendam Nursi
lagi. “Pemilikan sosial alat-alat produksi. Jika kita Marxis, kita tahu bahwa
cara produk sosial didistribusikan itu tergantung pada cara alat-alat produksi
di suatu Negara tertentu didistribusikan. Oleh karena itu, jika tujuan kita
adalah menciptakan satu model ekonomi dalam mana kekayaan sosial
didistribusikan lebih merata, memenuhi kebutuhan semua penduduk negeri, mutlak
perlu bahwa alat-alat produksi atau setidak-tidaknya yang paling penting tidak
dikuasai oleh sedikit orang dan digunakan untuk manfaat mereka sendiri tetapi
merupakan barang milik kolektif, yang dimiliki oleh semua orang.”
“Dulu di Kerajaan Golojo
ini. Dalam pemilihan berdasaran kelompok-kelompok pekerja kerajaan. Yang di
kantor berumbuk sebagai bagian kecil, naik lagi pada satu tingkat, beberapa
kelompok pekerja, dan naik lagi tingkat berikut hingga ditentukan raja untuk
kerajaan. Tapi inipun masih terjadi perilaku curang, karena sikap
otoritarianisme mulai timbul mengakar.”
“Sekarang semua berbeda terbentuklah partisipasi semua
rakyat jelata secara bebas. Hanya saja sarana untuk menjadi raja telah
bertransformasi dalam kelompok-kelompok atau gerakan-gerakan berideologi bukan
lagi kelompok pekerja semata,” Nursi masih dalam gagasannya.
Akhir-akhir ini para rakyat jelata juga menyaksikan
sebuah lelucon terbaik dalam kerajaan. Ya, ketika perseteruan Tuan Kido dan
Tuan Bargi dalam memperebutkan tahta raja. Seorang perempuan tua menyebutkan
sebuah hoax terbaik. Lelucon memang, karena apa pentingnya ini bagi rakyat
jelata. Perempuan tua itu turut pula mengundang para rekan media dalam
mengklarifikasi kemudian menyebutkan ini sebagai hoax terbaik dalam isu
kerajaan.
Perempuan tua ini pergi kepada Tabib kecantikan,
kemudian berobat dengan daun-daun, karena kesalahan ramuan itu, wajahnya
bonyok. Perempuan tua ini turut ikut suksesi kepemimpinan kerajaan pada tim
Tuan Kido. Tapi kemungkinan perempuan tua ini terjebak dalam politisasi
kerajaan. Perempuan ini awal cerita mengaku dipukuli pengawal-pengawal
kerajaan. Tapi dalam suatu pertemuan media, perempuan tua ini mengaku
berbohong.
“Saya kembali dengan cerita itu bahwa saya dipukuli,” kata
Perempuan tua
“Bahkan di depan Tuan Kido, orang yang inginkan
menjadi raja, mengorek apa yang terjadi pada saya, saya juga masih melakukan
kebohongan itu,” lanjut perempuan tua ini.
Perempuan tua itu kemudian berkata, “Saya sebenarnya
merasa ini salah, ini yang sebenarnya terjadi. Saya bukan dipukul pengawal
kerajaan tapi karena kesalahan ramuan dari Tabib. Jadi tidak ada pemukulan dari
pengawal kerajaan, itu hanya cerita khayal yang entah dibisikkan setan mana ke
saya dan berkembang seperti ini, saya tidak sanggup melihat Tuan Kido dalam
pembelaannya.” Perempuan tua ini menggunakan kata khayal seperti Tuan Muso di
Pulau Kecil. Perempuan tua ini juga bisa ‘merasa’ dibisikkan setan. Entah
lelucon apalagi ini.
Perempuan tua ini seakan-akan sedih, entah
berpura-pura sedih, lanjut bertutur, “Bohong adalah itu sebuah perbuatan yang
salah. Saya juga minta maaf ke semua pihak. Kali ini saya pencipta hoax
terbaik.” Perempuan tua itu telah membuat heboh berita kerajaan dengan hoax
terbaiknya.
Sekali lagi apa pentingnya bagi rakyat jelata? Di
tengah-tengah semakin merosotnya nilai tukar Kerajaan Golojo dengan kerajaan kapitalis.
Tuan Kido dan
Tuan Bargi bagai kehilangan akal sehat, mereka tak membicarakan program-program
apa yang memberi arti bagi kemashalatan rakyat jelata.
Karena tentang kemashalatan itu, Nursi bertanya, “Apa
perlu kerajaan membicarakan mengenai sosialisme?” Nursi sebagai rakyat jelata
mendekam dalam batinnya.
Nursi terkenang kejadian itu dan seperti kata Alvaro
Garcia Linera, “Kita berbicara mengenai pokok soal ini hanya karena satu
alasan, dan ini karena masyarakat yang saat ini ada di dunia, masyarakat yang
hari ini kita miliki di seluruh dunia, adalah masyarakat dengan terlalu banyak
ketidakadilan, masyarakat dengan terlalu banyak ketimpangan. Hari ini, di dunia
kapitalis dalam mana kita hidup ini. Sebelas juta anak-anak meninggal dunia
setiap tahun karena kekurangan gizi, karena pelayanan kesehatan yang buruk,
karena tidak ada dukungan untuk mengobati penyakit-penyakit yang bisa
disembuhkan.”
Nursi pun membatin, beginilah Kerajaan Golojo, semakin pintar, semakin tinggi
kedudukan, semakin curang, semakin culas, semakin maling! Semakin golojo!
Semakin rakus! Golojo adalah rakus.
Nursi kemudian merenung pada sebuah gagasan,
“Seandainya ada sebuah rupa kerajaan dan rakyat jelata yang memenuhi ini
sebagai ajaran yang berlaku dalam kerajaan. Kesetaraan ekonomi berpadu dengan
moral. Dimana dilarang yang kaya menjadi kapitalis, berbuat suka hati dengan
hartanya, hanya untuk jalan-jalan, berfoya-foya, menumpuk-numpuk harta, membeli
semua serba mewah, menindas, memberlakukan secara kasar. Alangkah indahnya
dibuat aturan bahwa yang mampu mengeluarkan bagian hartanya untuk membantu yang
miskin dan papa, yang dibantingkan oleh ombak rakyat jelata. Pajak direalisasi
secara nyata untuk semua rakyat jelata. Kalau ini terjadi, pastilah hilang
pertentangan kelas seperti yang ada sekarang, pelepasan dendam yang tidak
berkeputusan. Tidak ada lagi kaya terlalu kaya dan miskin terlalu miskin,
tetapi di antara yang kaya dan yang miskin ada tali halus yang menghubungkan,
tali bakti kepada Allah dalam masyarakat.” Nursi membatin kembali mengakhiri
catatannya, “Bagaimana dengan kerajaan ini? Akankah terus menjadi rakus (Golojo)?”


Posting Komentar
0 Komentar