Telaah Muslim Negarawan Sebagai Menata Kembali Kebangkitan Negeri

Telaah Muslim Negarawan Sebagai Menata Kembali Kebangkitan Negeri
M. Sadli Umasangaji










Pendahuluan

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa” (Q.S Ar-Rum [30] : 54). Pemuda adalah suatu umur yang memiliki kehebatan sendiri, menurut DR.Yusuf Qardhawi ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas. Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan semangat. Pemuda mempunyai potensi yang luar biasa, bisa dikatakan seperti dinamit atau TNT bila diledakan (Aga, 2009).

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) di seluruh Indonesia. Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktivis dakwah kampus. KAMMI lahir pada ahad tanggal 29 Maret 1998 PK.13.00 WIB atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang. KAMMI lahir didasari sebuah keprihatinan yang mendalam terhadap krisis nasional tahun 1998 yang melanda Indonesia. Krisis kepercayaan terutama pada sektor kepemimpinan telah membangkitkan kepekaan para pimpinan aktivis dakwah kampus di seluruh Indonesia yang saat itu berkumpul di UMM - Malang. Adanya tuntutan dari kondisi yang menginginkan sebuah wadah perjuangan dakwah yang mengimplementasikan Al-Qur’an dan Sunnah di dalamnya, pentingnya akan Sosok Mahasiswa yang berkarakter Pemimpin, Potensi Mahasiswa-Mahasiswa Unggulan yang sangat perlu diarahakan pola fikirnya dan dibentuk karakternya. Inilah landasan kemunculan KAMMI.

Empat belas tahun sudah KAMMI meleburkan diri dalam gerakan mahasiswa dan gerakan dakwah. Dalam konteks gerakan mahasiswa, KAMMI adalah bagian dari sederet gerakan mahasiswa yang muncul ke permukaan, meramaikan pentas pergerakan mahasiswa dan hingga saat ini masih bertahan dan eksis dengan dinamika zamannya dan terus dapat mendinamiskan gerakan serta langkah-langkah perjuangannya (Rijalul, dkk, 2010).

KAMMI dan Negara; Muslim Negarawan Sebagai Kebangkitan Indonesia
Sebelum melangkah ke pembahasan Muslim Negarawan, rasanya menurut saya, kita perlu melihat alur pikir Anis Matta terkait masalah dalam bangsa kita. Menurut Anis Matta (2006), pertama, dalam hal konsistensi, yakni masalah penyimpangan di ujung jalan atau di tengah jalan. Pemimpin yang diasumsikan lurus ternyata membuyarkan seluruh harapan masyarakat. Itu juga yang mungkin terjadi sekarang. Mereka meretas jalan, tapi mereka pula yang merubuhkan panggungnya sendiri. Begitu seterusnya. Maka sudah saatnya kita berpikir bahwa kita yang meretas jalan, kita juga yang akan mengisi panggung itu seterusnya. Kedua, rakyat tidak punya firasat, ketika kita mencalonkan seorang atau setidak-tidaknya menitip harapan pada seorang pemimpin, kita tidak mempunyai firasat tentang orang itu bahwa orang itu bisa gagal mengantar bangsa untuk menyelesaikan sebagaian persoalan selama ini.

Muslim Negarawan adalah istilah yang identik dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), bahkan merupakan grand desain yang diciptakan KAMMI sendiri untuk para kadernya. Istilah Muslim Negarawan merupakan frase yang terdiri dari kata Muslim dan Negarawan. Dua kata ini bermakna yakni, Muslim, merujuk pada manusia yang menerapakan nilai-nilai kebenaran Agama Allah dan Negarawan merujuk pada kualitas pemimpin puncak sebuah Negara. Muslim Negarawan adalah kader KAMMI yang memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, idealis dan konsisten, berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa, serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan (KAMMI Medan, 2012).
Muslim Negarawan bisa dianalogikan dengan firman Allah:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka” (Q.S Al-Kahf [18] : 13)

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Q.S. Muhammad [47]: 7)

Mahfudz Sidiq mengatakan ada hal menarik yang melekat dengan KAMMI pada masa di tengah kelesuan gerakan mahasiswa membincangkan pemerintahan otoriter orde baru: pertama, KAMMI memproduksi tekanan politik yang besar secara menasional terhadap rezim Soeharto. Kedua, eksistensinya sebagai gerakan mahasiswa yang outstanding dan leading di tengah kelesuan panjang gerakan kemahasiswaan. Ketiga, performa KAMMI sebagai kelompok aksi demokrasi yang konsisten, visioner dan moderat. Ketiga kondisi inilah yang menjadikan KAMMI secara cepat meluas di kalangan mahasiswa (KAMMI Medan, 2012).

Kepeloporan KAMMI dalam reformasi Indonesia cukup berhasil di tataran pergantian kekuasaan (penerapan sistem demokrasi), namun hampir tidak ada perubahan dalam bidang sosial, pendidikan, ekonomi, politik, hukum dan lainnya. Kondisi ini disebabkan karena KAMMI hanya bergerak ditataran agen of change dan belum menyiapkan blue print Indonesia secara utuh, ditambah kontrol pemerintahan yang masih dikuasai oleh pelaku-pelaku pemerintahan di masa orde baru (KAMMI Medan, 2012).

Gerakan Muslim Negarawan sebagai kebangkitan Indonesia, sebenarnya terpatri jelas dalam Visi dan Misi, Prinsip Gerakan, Kredo Gerakan, serta Paradigma Gerakan KAMMI. Visi dan Misi KAMMI, visi KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami. Misi KAMMI adalah pertama membina keIslaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia. Kedua, menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, politik, dan kemandirian ekonomi mahasiswa. Ketiga, memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara. Keempat, mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera. Kelima, mengembangkan kerjasama antar elemen bangsa dan negara dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar), perjuangannya (Rijalul, dkk, 2010). Prinsip Gerakan KAMMI, kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI, kebathilan adalah musuh abadi KAMMI, solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI, perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI, kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI, persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI.

Kredo Gerakan KAMMI, kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka, kami adalah orang-orang pemberani, kami adalah para petarung sejati, kami adalah penghitung risiko yang cermat, tetapi kami bukanlah orang-orang yang takut mengambil risiko, kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam, kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, panglima yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit yang setia, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.

Paradigma Gerakan KAMMI, KAMMI adalah Gerakan Da’wah Tauhid, gerakan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan terhadap materi, nalar, sesama manusia dan lainnya, serta mengembalikan pada tempat yang sesungguhnya: Allah SWT. KAMMI adalah Gerakan Intelektual Profetik, gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal. KAMMI adalah Gerakan Sosial Independen, gerakan kritis yang menyerang sistem peradaban materialistik dan menyerukan peradaban manusia berbasis tauhid. KAMMI adalah Gerakan Politik Ekstraparlementer, gerakan perjuangan melawan tirani dan menegakkan demokrasi yang egaliter perjuangannya (Rijalul, dkk, 2010).

Sesungguhnya grand desain KAMMI membentuk Muslim Negarawan sebagai kebangkitan Indonesia sudah jelas terpatri di dalam hal-hal di atas tersebut. Tapi yang menjadi akar pikirnya sejauh mana kita melakukan langkah taktis menuju itu. Ini renungan untuk saya, dan untuk semua kader. Dan perwujudan firman Allah sebagai berikut ini adalah bentuk renungan untuk mencapai grand desain Muslim Negarawan:
“Mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)” (Q.S Al-Bayyinah [98] : 5)

“Dan orang yang sabar karena mengharapkan keridaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang itulah yang mendapatkan kesudahan (yang baik)” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 22)

“(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” (Q.S As-Saff [61] : 10)

Muslim Negarawan sebagai kebangkitan Indonesia perlu penguatan peran pengabdian organisasi (pengkaryaan kader). KAMMI menghimpun segenap mahasiswa dari beragam profesi di seluruh Indonesia. Inilah potensi terbesar yang harus diarahkan oleh KAMMI sehingga kader KAMMI menjadi bagian perubah sistem di setiap bidang baik itu sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, hukum, ekonomi, politik, birokrasi dan sebagainya. KAMMI harus mematangkan intelektual profetik, bukan hanya sekedar gerakan sosial kontrol dan ekstra parlementer. Hal ini berarti kader-kader KAMMI harus fokus menekuni bidangnya, sesuai dengan spesialiasinya. Karena pada dasarnya aktivis mahasiswa hari inilah yang akan menggantikan kepemimpinan Bangsa dan Negara ini. Perwujudan dari firman Allah: “...Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11).

Menata Ulang Indonesia; KAMMI Bagian dari Dakwah Sebagai Solusi
Untuk memulai menurut saya rasanya perlu kita realisasikan pertanyaan ini darimanakah kita harus memulai, apakah dari membentuk Negara yang Islami? Ataukah pemerintahan yang Islami? Mungkin pula politik yang Islami? Ataukah kembali pada masyarakat yang Islami? Ataukah kepada individu-individu yang bangga dengan menerapkan nilai-nilai Islam?

Dr. Yusuf Qardhawi tatkala berkunjung ke Indonesia menyebutkan berbagai potensi yang dimiliki Indonesia untuk menyambut kebangkitan Islam. Pertama, Indonesia memiliki penduduk muslim terbesar di dunia, yaitu 25% dari total penduduk Islam di seluruh dunia. Kedua, Indonesia memiliki sumber daya alam yang amat banyak, yang apabila dikelola dengan baik akan menjadikan Indonesia sebagai satu kekuatan yang mahadahsyat di kemudian hari. Ketiga, Indonesia memiliki banyak pemikir dan pemuda-pemuda amat tangguh. Ini semua menjadi alasan bahwa Indonesia memiliki suatu kualifikasi untuk memimpin kebangkitan Islam di seluruh dunia Islam saat ini (Takariawan, 2009).

Untuk bisa mencapai kebangkitan Islam, masih menurut Qardhawi, diperlukan beberapa persyaratan. Pertama, hendaknya kita selalu bangga dengan keislaman kita. Kita harus merasa bahwa segala yang membuat kita bangga, yang membuat kita percaya diri, yang membuat kita berani menghadapi orang lain adalah Islam. Kedua, selain bangga, Islam harus menjadi cara berpikir, menjadi perilaku, menjadi cara bermuamalah kita. Harus menjadikan diri kita sebagai Al-Qur’an yang berjalan dan Sunah yang berjalan. Ketiga, hendaknya bersatu melakukan berbagai kebaikan yang harus kita lakukan, jangan sampai ada perpecahan. Keempat, hendaknya negeri ini pandai memilih pemimpin mereka (Takariawan, 2009).

Tentu saja untuk bisa mencapai kebangkitan Islam tersebut diperlukan usaha keras, dakwah terus menerus tanpa henti. Allah telah memilihkan dakwah sebagai sebuah jalan yang harus ditempuh setiap mukmin, agar bisa meraih kemenangan. Sungguh beruntunglah mereka yang mengikhlaskan dirinya meniti jalan dakwah sebagai upaya mencapai ridha-Nya dunia dan akhirat (Takariawan, 2009). Dakwah adalah proses membahasabumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keseharian di segala bidang. Para Nabi dan Rasul terdahulu telah mengemban amanah ini, dimana para Nabi berikutnya meneruskan dan menyempurnakan pekerjaan Nabi yang terdahulu. Hingga akhir zaman, Muhammad SAW, menuaikan kesempurnaan bangunan dakwah Nab-Nabi sebelumnya. Dalam firman Allah yang memerintahkan untuk membentuk umat yang senantiasa melakukan dakwah:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali-Imran [3] : 104)

Menurut Sayyid Quthb (2011), mutlak diperlukan kepemimpinan sosial yang mampu melestarikan dan mengembangkan peradaban materialistik yang telah dicapai manusia, yakni dengan mempertahankan kecemerlangan bangsa Eropa dalam penemuan-penemuan ilmiah, plus memenuhi jiwa manusia dengan nilai-nilai yang benar-benar baru dari yang pernah dikenal manusia dan dengan manhaj yang orisinal, progresif dan realistis pada masa kini. Hanya Islamlah satu-satunya agama yang memiliki nilai-nilai dan manhaj tersebut. Islam hadir dengan konsepsi yang bersahabat dengan penemuan-penemuan ilmiah di muka bumi, karena Islam memang memberikan ruang bagi kreativitas ilmiah sebagai bagian dari tugas pokok manusia semenjak Allah mengambil janjinya memegang kendali pengelolaan atas bumi. Dan atas semua itu, Allah menghargainya dengan syarat-syarat tertentu sebagai bagian dari pengabdian kepada-Nya dan sebagai bentuk implementasi tujuan eksistensi manusia. Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah [2] : 30)

Islam hadir di tengah-tengah manusia dengan sebuah konsepsi baru mengenai berbagai jalinan dan ikatan yang semestinya. Ketika itu, Islam datang dengan mengusung konsepsi baru tentang hakikat berbagai nilai dan pandangan, juga tentang hakikat orientasi yang hendak diperjuangkan oleh nilai-nilai dan pandangan tersebut. Islam datang untuk mengembalikan manusia, juga alam semesta yang melingkupi manusia kepada kedaulatan Allah (Quthb, 2011).

Sesungguhnya, dakwah yang dicontohkan Rasulullah SAW bersifat totalitas mencakup segala sisi kehidupan manusia. Bermula dengan penanaman akidah tauhid yang bersih dari segala unsur syirik, Rasulullah SAW meletakkan nilai-nilai Islam secara bertahap kepada masyarakat. Sehingga dengan landasan iman itu, dibangunlah tatanan sosial, tatanan ekonomi, tatanan politikm bahkan sampai ke pembentukan kontitusi negara di Madinah. Inilah dakwah yang total, sehingga membalikkan pribadi jahiliyah menjadi pribadi Islam. Mengubah secara total kepribadian kufur menjadi pribadi mukmin, dengan meninggalkan segala tindak penyelewengan akidah (Takariawan, 2009).

Islam hanya mengenal dua corak masyarakat: masyarakat Islami dan masyarakat jahiliyah. Masyarakat Islami adalah masyarakat yang Islam dipraktikkan di dalamnya, baik segi akidah dan ritual ibadanya, syariat dan undang-undangnya, maupun segi tuntunan akhlak dan perilakunya. Masyarakat Islami ialah satu-satunya masyarakat yang dikendalikan oleh Allah SWT. Dalam masyarakat ini, manusia dilepaskan dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan kepada Allah semata. Dengan kondisi ini, manusia merasakan kebebasan yang hakiki nan seutuhnya. Kebebasan ini menjadi sandaran bagi peradaban manusia (Quthb, 2011).

Sementara kaitannya dengan kegiatan intelektual dan pentingnya mengembalikan kegiatan ini pada naungan konsepsi Islami dan sumber rabbaninya sebagai bentuk realisasi penghambaan mutlak kepada Allah semata. Permasalahan yang secara spesifik berkenaan dengan hakikat akidah dan gambaran umum tentang alam semesta, berkenaan dengan ibadah, berkenaan dengan akhlak, serta nilai-nilai dan patokan-patokan, berkenaan dengan prinsip-prinsip dan dasar-dasar sistem politik, sosial, dan ekonomi atau berkenaan dengan penjabaran beragam motif aktivitas manusia dan dinamika sejarahnya, tidak akan bisa dipelajari seorang Muslim kecuali dengan merujuk pada sumber yang rabbani. Semua hal ini hanya mungkin dipelajari dari seorang Muslim yang mumpuni keagamaannya, konsisten ketakwaannya, dan berkomitmen tinggi terhadap akidahnya dalam kehidupan nyata.

Seorang Muslim berhak mempelajari ilmu pengetahuan murni seperti ilmu kimia, ilmu fisika, biologi, astronomi, ilmu kedokteran, teknologi, ilmu pertanian, manajemen, ketrampilan yang bernilai seni, teknik perang dan beladiri dan berbagai disiplin lainnya. Pada dasarnya, masyarakat Islami sejak mulai terbentuknya harus berupaya mengembangkan kompetensinya dalam semua disiplin itu. Karena hal ini hukumnya fardhu kifayah maka beberapa anggotanya wajib menguasai secara spesifik setiap disiplin tersebut. Akan tetapi, ilmu yang terpisah dari spirit keimanan bukanlah ilmu yang dikehendaki dan ahlinya tidak disanjung oleh Al-qur’an. Terdapat interelasi antara spirit keimanan dan sains. Termasuk dalam cakupan sains adalah astronomi, biologi, ilmu fisika, ilmu kimia, geologi, kesehatan, dan ilmu-ilmu lainnya yang erat kaitannya dengan hukum-hukum kosmis dan siklus-siklus kehidupan. Semua ilmu tersebut bisa mengantarkan kepada pengetahuan tentang Allah jikalau tidak dikuasai oleh hawa nafsu yang cenderung menjauh dari Allah (Quthb, 2011).

Menurut Anis Matta (2006) untuk merelealisasikan transformasi gerakan dakwah, ada empat tahapan yang harus dilewati. Pertama, membangun sebuah organisasi yang kuat dan solid sebagai kekuatan utama yang mengoperasikan dakwah. Tahap inilah yang disebut dengan mihwar tanzhimi. Organisasi ini adalah tulang punggung dakwah, dan karenannya harus kuat memikul beban berat dalam waktu yang panjang. Supaya tulang punggung itu kuat, hal itu harus diisi oleh orang-orang yang juga kuat dan tangguh dalam seluruh aspek kepribadian. Mereka inilah yang sesungguhnya bisa disebut sebagai pemimpin umat atau lokomotif yang akan membawa gerbong panjang umat ini. Untuk mencetak pemimpin-pemimpin umat itu diperlukan proses pembinaan dan kaderisasi yang sistematis, integral, dan waktu yang relatif panjang.

Kedua, membangun basis sosial yang luas dan merata sebagai kekuatan pendukung dakwah. Inilah yang disebut mihwar sya’bi. Kalau organisasi dibentuk melalui rekrutmen kader, massa dibentuk melalui opini publik, kalau kader pemimpin dibentuk melalui tarbiyah dan pengkaderan, massa dibentuk media massa dan tokoh publik, kalau kader terpesona pada pikiran karena tingkat intelektualitasnnya yang tinggi, massa terpesona pada tokoh karena kader emosinya yang dominan. Yang ingin dicapai pada tahap ini adalah terbentuknya opini publik yang Islami, struktur budaya dan adab-adab sosial yang Islami, serta dominan figur dan tokoh Islami dalam masyarakat.

Ketiga, membangun berbagai intitusi untuk mewadahi pekerjaan-pekerjaan dakwah di seluruh sektor kehidupan dan di seluruh segmen masyarakat. Ini yang disebut dengan mihwar muassasi. Di sini, dakwah memasuki wilayah pekerjaan yang sangat luas dan rumit. Karena itu perlu pengelompokkan pekerjaan, membutuhkan semua jenis institusi sosial untuk mewadahi aktivitas sosial, membutuhkan seluruh jenis institusi ekonomi untuk mewadahi aktivitas ekonomi, membutuhkan seluruh institusi yang dibentuk, juga perlu mengisi institusi-institusi sosial, ekonomi, politik, dan militer yang sudah ada, baik yang ada di masyarakat maupun yang ada di pemerintahan. Kader-kader dakwah juga harus mampu mengisi struktur yang tersedia di lembaga-lembaga ilmiah, ekonomi, sosial dan militer. Ini merupakan pranata yang dibutuhkan untuk menata kehidupan bernegara yang Islami.

Keempat, akhirnya dakwah ini harus sampai pada tingkat institusi negara. Pasalnya, institusi negara dibutuhkan dakwah untuk merelealisasikan secara legal dan kuat seluruh kehendak Allah SWT atas kehidupan masyarakat. Inilah yang disebut dengan mihwar daulah. Dalam hal ini, negara adalah sarana, bukan tujuan. Negara merupakan institusi terkuat dan terbesar dalam masyarakat. Kebenaran harus punya negara karena kebatilan pun punya negara.

Anis Matta tidak mempermasalahkan bentuk negara (apakah berbentuk khilafah, dinasti, atau negara bangsa) dan sistem pemerintahan yang dicita-citakan (apakah parlementer, presidensial, atau morarki sekalipun. Yang penting, apakah negara tersebut dapat berperan sebagai instrumen penegak syariah Allah atau tidak. Anis menegaskan bahwa institusi negara dalam konsep Islam merupakan sarana untuk menegakkan sebuah peradaban. Dengan kata lain, negara bukanlah akhir tapi justr merupakan awal dari sebuah peradaban.

Gerakan Dakwah KAMMI sendiri terpatri dalam Unsur-Unsur Pergerakan KAMMI dan Posisi KAMMI di berbagai elemen-elemen. Unsur-unsur perjuangan KAMMI, agar dakwah dapat tumbuh berkelanjutan secara seimbang, tetap berada pada orientasi yang benar, mampu mengelola amanah dan masalah, dan terus memiliki kekuatan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya, maka KAMMI menyusun dirinya di atas unsur-unsur sebagai berikut:

Pertama, bina al-qo’idah al-ijtima’iyah (membangun basis sosial), yaitu membangun lapisan masyarakat yang simpati dan mendukung perjuangan KAMMI yang meliputi masyarakat umum, mahasiswa, organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, pers, tokoh, dan lain sebagainya. Kedua, bina al-qo’idah al-harokiyah (membangun basis operasional), yaitu membangun lapisan kader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas da’wah yang telah digariskan KAMMI. Ketiga, bina al-qo’idah al- fikriyah (membangun basis konsep), yaitu membangun kader pemimpin yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yang tinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmu pengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia. Keempat, bina’ al-qo’idah al-siyasiyah (membangun basis kebijakan), yaitu membangun kader ideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang. Keempat unsur tersebut merupakan piramida yang seimbang, harmonis dan kokoh, yang menjamin keberlangsungan gerakan KAMMI.

Posisi KAMMI dengan berbagai elemen-elemen. KAMMI dan Gerakan Mahasiswa-Gerakan Kepemudaan, KAMMI adalah gerakan mahasiswa sekaligus sebagai gerakan kepemudaan. Karena itu KAMMI meyakini bahwa KAMMI dan beragam gerakan mahasiswa dan gerakan kepemudaan di Indonesia adalah elemen bangsa yang akan menjadi pewaris sah dari masa depan bangsa ini. KAMMI adalah generasi muda yang menjadi sumberdaya bangsa masa depan (iron stock). KAMMI bekerjasama dengan seluruh elemen gerakan mahasiswa dan gerakan kepemudaan dalam kesamaan prinsip komitmen kebangsaan yang tulus, bukan karena kepentingan politik pragmatis. KAMMI meyakini bahwa interaksi mu’amalah KAMMI dengan beragam gerakan pemuda dan mahasiswa adalah interaksi positif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan sebagai pembelajaran bagi masa depan saat KAMMI bersama-sama mewarisi bangsa ini.

KAMMI dan Institusi Pendidikan Tinggi, KAMMI adalah gerakan mahasiswa yang tumbuh dari institusi pendidikan tinggi (kampus) yang mewarisi prinsip intelektualitas dan kebebasan akademik. KAMMI meyakini bahwa jiwa intelektual itu dinyatakan dalam intelektualisme yang bertanggung jawab, yang berbasis pada realitas masyarakat, dan yang organik. Institusi pendidikan tinggi, karena cakupan wawasannya, adalah institusi yang paling bertanggung jawab dalam memberikan pencerahan dan meningkatkan kualitas rakyat Indonesia. Karena itu, institusi pendidikan tinggi harus bersifat kerakyatan yang peduli terhadap realitas masyarakat, bukan menghamba pada kekuasaan atau hegemoni global. Prinsip kebebasan akademik meletakkan institusi pendidikan tinggi pada posisi kritis dan independen. KAMMI dalam aktivitasnya di dalam dan dengan institusi pendidikan tinggi berusaha untuk menciptakan lingkungan akademik (civitas academica) yang egaliter, kritis, demokratis, dan independen.

KAMMI dan Gerakan Islam, KAMMI memahami Islam sebagai prinsip-prinsip yang bersifat menyeluruh (syaamil) yang meliputi seluruh dimensi manusia dan kehidupannya. KAMMI juga memahami Islam sebagai aturan hidup yang bersifat universal sebagai prinsip kesemestaan Islam (rahmatan lil alamiin). Karenanya Islam dapat hidup di dalam seluruh dimensi ruang di seluruh rentang zaman. Kami meyakini Islam sebagai sebuah kebenaran. Sehingga, KAMMI sebagai gerakan Islam, bersama-sama dengan seluruh gerakan Islam adalah gerakan yang akan mengenalkan dan membumikan prinsip kemenyeluruhan dan universalitas Islam dalam realitas kebangsaan dan peradaban. KAMMI akan bekerja sama dengan mereka dalam menyerukan kebaikan dan melawan kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar). KAMMI bersama seluruh gerakan (berasas) Islam adalah gerakan-gerakan penyeru kebaikan (harokah da’wah), yang menyerukan Islam dengan kedamaian dan kesungguhan (mujahadah).

KAMMI dan Rakyat. KAMMI dan rakyat adalah ibarat antara ruh dan tubuh. KAMMI tumbuh dan berkembang di tengah-tengah rakyat. Sehingga, KAMMI akan senantiasa berdiri di bagian terdepan dalam membela kepentingan rakyat, menjadi solusi bagi persoalan mereka, menghubungkan kasih sayang yang damai di antara mereka, dan sekaligus berusaha keras untuk menjadi sebab bagi kemuliaan mereka. KAMMI meyakini bahwa merekalah tujuan dari adanya kontrak social kebangsaan, dan merekalah tujuan dari keberadaan syari’ah agama Islam (adz dzaruriyatu al khomsah). Karena itu pengabaian terhadap eksistensi rakyat, apalagi tindakan pendzaliman terhadap mereka, adalah tindakan yang akan senantiasa KAMMI lawan.

KAMMI dan Elemen Masyarakat, KAMMI adalah gerakan sosial yang bersama-sama dengan beragam elemen masyarakat dan gerakan sosial lain peduli terhadap realitas masyarakat Indonesia. Karena itu, sebisa mungkin, KAMMI akan senantiasa bekerja sama, ber-mu’amalah, dan saling member kemanfaatan (intifa’) dengan seluruh elemen yang memiliki kepedulian yang sama dengan KAMMI. KAMMI melakukannya dengan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan.

KAMMI dan Partai Politik, KAMMI menyadari potensi politik KAMMI sebagai gerakan mahasiswa. Ekspresi gerakan KAMMI adalah ekspresi moral yang berdimensi politik, dan ekspresi politik yang berdasar pada prinsip moral dan intelektual. Sebagai gerakan politik yang berbasis moral, KAMMI tidaklah berpolitik pragmatis yang berorientasi kekuasaan baik bagi gerakan maupun kadernya, tetapi konsistensi KAMMI terhadap prinsip tersebut tidak akan menyebabkan KAMMI berjauhan dan antipati dengan Partai Politik yang bekerja dalam ranah politik praktis. Dalam bingkai independensinya, KAMMI akan siap bekerja sama dengan mereka yang menurut KAMMI masih mengedepankan intelektualitas, nurani, dan kepeduliannya pada rakyat dalam berpolitik.

KAMMI dan Pemerintahan, KAMMI meyakini prinsip kekuasaan sebagai amanah (tanggungjawab) dan khadimah (pelayanan) teradap masyarakat. Maka kekuasaan yang tidak bertanggung jawab dan tidak melayani adalah kedzaliman, dan itu adalah musuh KAMMI. Oleh karena itu, KAMMI akan senantiasa memberikan kontrol dan evaluasi atas mereka yang padanya Allah limpahkan amanah memerintah bangsa ini. KAMMI akan mendukung (tha’at) setiap upaya perbaikan dan pembangunan yang dilakukan bagi masyarakat selama tidak bertentangan dengan nurani pada umumnya masyarakat, prinsip syari’ah Islam, dan logika intelektual. Tetapi KAMMI akan siap melawan pemerintahan yang dijalankan secara dzalim, tidak peka dengan realitas masyarakat, melanggar prinsip-prinsip Ilahiyyah, dan tidak rasional. Keseluruhannya, akan KAMMI lakukan semaksimal mungkin tetapi senantiasa dengan menghindari cara-cara yang tidak bermoral, tidak berwawasan etis, dan membawa madharat lebih lanjut.

KAMMI dan Media Massa, KAMMI memahami peran strategis media massa sebagai salah satu pilar demokrasi. Media massa sekaligus menjadi instrumen penting dalam demokratisasi dalam arti pemberdayaan politik masyarakat dan pengawalan terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang adil, efektif, dan efisien. Media Massa yang cerdas turut mampu mewujudkan masyarakat yang peduli (attentive mass) terhadap fenomena sosial yang berkembang. Namun, penyimpangan fungsi media massa dapat mengakibatkan mereka bermertamorfosa menjadi mesin-mesin kapitalis yang memperdagangkan berita-berita liputan yang menyimpang dari kode etik jurnalistik. Mereka dapat pula membodohi masyarakat dan menghancurkan bangunan moral dan sosial Indonesia. Terhadap media massa yang konstruktif, KAMMI akan memerankan diri sebagai partner dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik. Sedangkan terhadap media yang destruktif, KAMMI akan menjalankan komunikasi yang efektif guna merubah orientasi dan dampak negatif peran mereka.

Peradaban yang Islami mencakup seluruh bidang aktivitas pemikiran dan realitas kemanusiaan. Di dalamnya, terdapat kaidah-kaidah, manhaj-manhaj, dan potensi-potensi yang senantiasa menjamin dinamika dan kemajuan kegiatan manusia. Negara yang Islami diperuntukan bagi orang yang mau menerima syariat Islam sebagai tatanan, meski ia bukan seorang Muslim.

Masyarakat Islami yang dalam pengertian kita mengusung peradaban tersendiri bukan semata-mata momentum bersejarah yang dibicarakan dalam peringatan-peringatan atas masa silam, namun juga menjadi keniscayaan masa kini dan harapan masa depan. Masyarakat Islami adalah target yang dielu-elukan oleh seluruh manusia, sekarang ini dan di kemudian hari. Dengan masyarakat ini, mereka ingin terangkat dari jurang kejahiliyahan, di mana bangsa-bangsa yang maju dan yang terbelakang dalam hal teknologi dan ekonomi terjebak di dalamnya (Quthb, 2011). Perwujudan dari firman Allah: “Kalian (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh (berbuat) kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Q.S Ali-Imran [3] : 110)


Epilog
Muslim Negarawan sebagai kebangkitan Indonesia terpatri dalam visi dan misi, prinsip gerakan, kredo gerakan, dan paradigma gerakan KAMMI. Muslim Negarawan sebagai kebangkitan Indonesia perlu penguatan peran pengabdian organisasi (pengkaryaan kader). KAMMI menghimpun segenap mahasiswa dari beragam profesi di seluruh Indonesia. Inilah potensi terbesar yang harus diarahkan oleh KAMMI sehingga kader KAMMI menjadi bagian perubah sistem di setiap bidang baik itu sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, hukum, ekonomi, politik, birokrasi dan sebagainya. Dakwah sebagai solusi dapat dilakukan dengan mihwar tanzhimi, mihwar sya’bi, mihwar mu’assasi, dan mihwar daulah. Dalam gerakan KAMMI sendiri terpatri dalam unsur-unsur perjuangan KAMMI dan posisi KAMMI dengan berbagai elemen-elemen. Dakwah sebagai solusi mengusung peradaban tersendiri bukan semata-mata momentum bersejarah yang dibicarakan dalam peringatan-peringatan atas masa silam, namun juga menjadi keniscayaan masa kini dan harapan masa depan. Masyarakat Islami adalah target yang dielu-elukan oleh seluruh manusia, sekarang ini dan di kemudian hari. Setelah makalah ini selesai saya buat maka dua hal yang saya pikirkan secara pribadi dan khususnya bisa dijadikan renungan untuk pribadi saya sendiri. Pertama, telah jelas jalan kebenaran tapi terkadang kita masih sedikit tergoda dengan jalan yang lain. Kedua, dalam menyebarkan sebuah kebenaran sudah seharusnya sebelum itu kita mencoba menerapkan kebenaran dalam pribadi kita. “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Q.S. Muhammad [47]: 7). Salam, Muslim Negarawan.


DAFTAR PUSTAKA


Aga, Bryan, 2009. Pemuda dalam Perjuangan. http://www.dudung.net/artikel-islami/pemuda-dalam-perjuangan.html

Damanik, Henita, 2012. Karakter Muslim Negarawan. http://kammi-medan.blogspot.com/2012/01/karakter-muslim-negarawan.html

KAMMI Medan, 2012. Tafsir Muslim Negarawan. http://kammi-medan.blogspot.com/2012/03/tafsir-muslim-negarawan.html

_________________, 2012. Transformasi Gerakan dan Kepemimpinan Nasional. http://kammi-medan.blogspot.com/2012/03/transformasi-gerakan-dan-kepemimpinan.html

Matta, Anis, 2006. Dari Gerakan Ke Negara. Penerbit Fitrah Rabbani. Jakarta

PP KAMMI, 2011. Manhaj Kaderisasi KAMMI

Quthb, Sayyid, 2011. Ma’alim fi ath-Thariq. Cetakan ke 3. Terjemahan. Mahmud Harun. Penerbit Darul Uswah. Yogyakarta

Rijalul Imam, dkk, 2010. Kapita Selekta KAMMI: Membumikan Ideologi Menginspirasi Indonesia. Penerbit Muda Cendekia. Bandung

Takariawan, Cahyadi, 2009. Menyongsong Mihwar Daulah. Penerbit Era Adicita Intermedia. Surakarta


Posting Komentar

0 Komentar