Menerka Intelektual Organik dalam KAMMI


Menerka Intelektual Organik dalam KAMMI
M. Sadli Umasangaji









Diskusi dalam Ruang Temu KAMMI, dibedah mengenai filosofi gerakan KAMMI termaktub Paradigma Gerakan KAMMI. Disebutkan bahwa semacam menghadirkan diskursus bahwa KAMMI tidak dilahirkan sebagai perwajahan yang tunggal dari Ikhwanul Muslimin. Semisalnya salah satu diantaranya adalah konsepsi dari Paradigma Gerakan KAMMI. Secara historis, Paradigma Gerakan KAMMI ini diinisiasi oleh KAMMI Jogja waktu itu oleh Imron Rosyadi, Mu’tamar Maruf dan Yusuf Maulana. Yusuf Maulana sebagai pemantik diskusi saat itu di Ruang Temu KAMMI menyebutkan bahwa tidak diharapkan bahwa Paradigma Gerakan KAMMI menjadi pensakralan tafsiran dan alat pukul bagi yang lain.

Paradigma Gerakan KAMMI sendiri mengalami elaborasi diksi misalkan Dakwah Tauhid elaborasi dari gagasan Amien Rais, Intelektual Profetik elaborasi dari gagasan Kuntowijoyo, Sosial Independen elaborasi dari gagasan Mansour Fakih, dan Politik Ekstra Parlementer elaborasi dari gagasan Antonio Gramsci. Akan tetapi Paradigma Gerakan KAMMI diharapkan mengalami perluasaan makna tidak ditempatkan secara tunggal semisal intelektual profetik ditunggalkan dalam gagasan Kuntowijoyo. Diksi-diksi dalam Paradigma Gerakan KAMMI pun dibuat tidak menggunakan bahasa-bahasa khas dari Ikhwan. Paradigma Gerakan KAMMI diharapkan menjadikan KAMMI menjadi lebih lentur sekaligus menjadikan sebagai batasan. Bila kita baca secara terbuka bahwa Paradigma Gerakan KAMMI secara aspek praksis dengan inspirasi literatur dari Antonio Gramsci membuat Paradigma Gerakan mengharapkan membentuk adanya Intelektual Organik.



Sekedar Historis Paradigma Gerakan KAMMI

Dalam penyusunan Paradigma Gerakan KAMMI tidak terbayang gagasan ikhwan seperti Hasan al-Banna atau Sayyid Qutbh. Akan tetapi yang terbayang adalah gagasan tokoh lokal seperti Amien Rais, Kuntowijoyo, Mansour Fakih, Edward Said, Antonio Gramsci. Inilah elaborasi gagasan hingga terbentuk konsepsi Paradigma Gerakan KAMMI. Secara mendasar elaborasi ini benar-benar dicampur. Secara mendasar arah yang paling kuat dalam menghadirkan Paradigma Gerakan KAMMI adalah penguatan keilmuan dan profesi (akademik) sekaligus organik. Bergerak dalam keilmuan dan kompetensi sekaligus bergerak dalam gerakan sosial. Saat ini misalkan banyak anak muda yang bergerak berdasarkan studi. Sedangkan harapan gagasan Paradigma Gerakan KAMMI, bergerak sebagai basis gerakan. Perluasaan makna gerakan menjadi penting. Sebaliknya yang berbasis studi (kompetensi keilmuan) perlu diberikan sentuhan gerakan. Hal ini sebagai landasan yang memungkinkan mengalahkan heroisme dalam melawan negara (demonstrasi). Adanya klaster-klaster kompetensi, profesi, keminatan yang membumi yang tidak menjaga jarak dengan masyarakat sipil sekaligus sebagai gerakan. Semacam gagasan intelektual organik yang mengambil permasalahan dari akar rumput kemudian diekstraksi dan dipecahkan oleh kaum intelektual.

Penyusunan konsep Paradigma Gerakan KAMMI yang koheren membuat konsepsi ini terasa awet dalam KAMMI. Disusun secara kosmopolit, semacam “melepas” dari konsepsi Ikhwan, post ikhwan atau beyond ikhwan. Semacam kesadaran bahwa gagasan ikhwan sudah menulang hanya saja perlu dicari baju yang pas secara lokal. Dengan artian mengakomodir gagasan dan berbagai ide serta narasi yang kemudian diekstraksi menjadi satu paket konsepsi. Akan tetapi apa sudah koheran atau tidak dan apakah dapat menjadi metodologi dari gerakan KAMMI. Menempatkan Paradigma Gerakan KAMMI sebagai maqashid KAMMI. Maqshad dalam artian sebagai tujuan atau target Sebagai pengawas dalam setiap generasi. Inti sarinya harus didapat, tapi jalan atau wasilahnya setiap jaman boleh ditafsirkan kembali. Paradigma Gerakan KAMMI boleh dijahit kembali lebih sesuai dengan diksi yang sesuai dengan keislaman, keIndonesian, lebih memenuhi unsur keikhwanan yang sesuai juga dibolehkan.

Secara diksi Paradigma Gerakan KAMMI tidak secara langsung diwarnai oleh diksi keikhwanan, tapi secara substansif gagasan Ikhwan sangat kuat dalam Paradigma Gerakan KAMMI. Semacam permainan diksi menjadi penting dalam gerakan. Penempatan diksi atau penafsiran makna dari Paradigma Gerakan KAMMI seperti intelektual profetik tidak boleh dibuat tunggal terhadap gagasan Kuntowijoyo, penempatan konsepsi pada tokoh kini yang relevan dalam gagasan keIndonesiaan kini bisa dipakai. Begitu juga Gerakan Sosial Independen dapat ditafsirkan dengan NGO atau Gerakan Sosial kini di era 4.0. Gerakan Ekstra Parlementer juga tidak harus ditempatkan seperti generasi KAMMI tahun 2000an yang cenderung menempatkan beroposisi dengan negara, oposan abadi sebagai idealisme. Kita menafsirkan oposisi apa kita sekarang, apa negara itu sendiri seperti negara kapital menjadi musuh gerakan kiri ataukah kemunafikan kekuasaan. Sederhananya, kita membenci Indonesia atau Jokowi atau perilaku munafik Jokowi. Jokowi sebagai pribadi, kita tidak membenci. Jokowi sebagai presiden, kita harus hormat. Tapi Jokowi sebagai pengambil kebijakan busuk, tentu kita lawan. Tugas kritik dengan penempatan seperti inilah yang menjadi oposisi KAMMI.

Jangkar dari Paradigma Gerakan KAMMI adalah intelektual yang berpihak, menghadirkan tauhid yang berpihak sekaligus emansipasi. Selain itu, intelektual sendiri saat ini telah mengalami distorsi dan peyorasi. Sebut saja saat ini berapa banyak kaum “intelektual” yang terlibat dengan kekuasaan yang kuat daya tahannya. Rata-rata telah mengalami distorsi dan konsistensi menjadi berkurang. Seberapa kuat daya lenting kader dengan tetap mempertahankan naluri Paradigma Gerakan KAMMI entah sebagai politisi entah dari partai apapun, birokrat atau profesi lainnya. Paradigma Gerakan KAMMI ini sebagai sublimasi dari kesadaran kader KAMMI. Sebagai kesadaran dari transformasi emosional KAMMI yakni Dakwah Tauhid dan Intelektual Profetik. Kita dapat memberikan asumsi bahwa esensi dari Paradigma Gerakan KAMMI untuk menalurikan kehadiran inteletual organik.


Intelektual dalam Gagasan

Asumsi Edward W Said dalam Peran Intelektual menempatkan bahwa hidup naluri intelektual pada hakikatnya adalah mengenai pengetahuan dan kebebasan. Pertanyaan dasar yang diajukannya adalah “Bagaimana orang mengatakan kebenaran? Kebenaran apa? Bagi siapa dan dimana? Maka ia tidak dapat menjadi milik siapa-siapa”. Said memberi batasan yang cukup ideal. Ia mendefinisikan intelektual adalah individu yang dikaruniai bakat merepresentasikan, mengekspresikan serta mengartikulasikan pesan, pandangan sikap dan filosofi. Ketika mengaktualisasikan bakat itu sang individu senantiasa termotivasi untuk menggugah rasa kritis orang lain. Dengan demikian orang akan berani menghadapi ortodoksi, dogma serta gampang lagi dikooptasi pemerintah atau korporasi. Bahwa intelektual adalah seseorang yang bertalenta mengkomunikasikan ide emansipatoris dan mencerahkan. Disini ketajaman nalar serta kemampuan merepresentasi gagasan dan pemikiran kepada publik merupakan ciri utama namun ia selalu aktif bergerak dan berbuat. Dalam merepresentasikan sesuatu, tulis Said, intelektual sekaligus juga merepresentasikan dirinya. Maksudnya, gagasan dan buah pikiran lain yang disajikan kepada khalayak mencerminkan keyakinan serta nilai-nilai anutannya sendiri.

Menurut Chomsky, masih dalam buku Peran Intelektual (Edward W Said), intelektual merupakan formasi khusus dalam masyarakat industri modern. Dalam tradisi Marxis-Leninis, mereka menjadi ‘pengawal partai’ yang merekonstruksi masyarakat atas nama kepentingan kaum proletar, sedangkan dalam negara kapitalis, kaum intelegensia ini mengembangkan teori bahwa kekuasaan harus dialirkan ke tangan mereka yang berbakat atau terlatih khusus dalam mengorganisir dan mengontrol proses sosial dan ekonomi. Mereka ini disebut Chomsky sebagai ‘intelegensia ilmiah’. Realitas di dalam masyarakat industri modern ini sebenarnya, kata Chomsky, sudah diperkirakan Bakunin. Bakunin memperkirakan dalam negara sosialis ‘birokrasi merah’ dan ‘kelas baru’ akan menciptakan otoritarianisme paling depostik dan buas, sedangkan dalam kapitalisme negara, intelegensia akan ‘memukul orang dengan tongkat orang itu sendiri’.

Said juga mengemukakan tentang generalisasi ketimbang spesialisasi. Dengan penyikapan seperti ini lingkungan jelajah seorang cendekiawan menjadi tak terbatas. Ia senantiasa siap masuk ke wilayah dimana dehumanisasi serta penekukan akal sehat berlangsung. Tak ada ranah yang pantang ia masuki. Keterlibatan di pelbagai lapangan kemanusiaan sekaligus membuat dirinya sulit untuk tampil sebagai seorang spesialis. Realitas inilah yang membuat Said perlu membedakan seorang profesional dengan seorang amatir. Dengan menjadi generalis, sulitlah bagi seseorang untuk mengklaim diri sebagai profesional. Inilah argumen Said menyebutkan dirinya hanya seorang amatiran (generalis). Baginya, spesialisasi hanyalah formalistik yang tak selalu berbicara tentang kapabilitas. Sementara itu seorang amatiran tak punya rasa malu dan melakukan sesuatu karena mencinta dan ingin mengetahui. Bukan karena mempunyai. Disisi lain melengkapi ini, Said mengemukakan, kepaduan ucapan dengan tindakannya serta keselarasan berkata untuk menanggung resiko terpahit demi kebenaran yang diyakininya, adalah sikap intelektual. Sebagaimana asumsi Said, intelektual itu tidak netral atau bebas nilai sebaliknya mereka harus berpihak. Yakni terhadap kelompok lemah yang tak terwakili. Menurut Said, hidup naluri intelektual pada hakikatnya adalah mengenai pengetahuan dan kebebasan.

Dalam buku Intelegensia Muslim dan Kuasa, Yudi Latif sedikit membedakan istilah intelektual dan intelegensia, walaupun secara mendasar memiliki pemaknaan yang sama. Dalam hal itu, Yudi Latif membahasakan istilah intelektual dengan mengutip terlebih kejadian “Kasus Dreyfus” sebagai mula-mula muncul istilah intelektual dengan kejadian di Prancis pada tahun 1898 sebagai resonansi dari ‘Manifesto Intelektual’. Yudi Latif kemudian menuliskan bahwa pada tahap-tahap awal kemunculannya, intelektual menunjuk pada sebuah kelompok dengan misi yang diproklamirkan sendiri, yaitu membela sebuah nurani bersama atas persoalan-persoalan politik yang mendasar. Namun, dalam perkembangan berikutnya, definisi-definisi dari intelektual menjadi berlimpah dan beragam.

Yudi Latif kemudian menempatkan dengan mengikuti pendapat Eyerman, beragam definisi tersebut bisa dikelompokkan menjadi dua kategori. Yang pertama, definisi yang menginterpretasikan intelektual dalam kerangka karakteristik-karakteristik personal, seperti ‘seorang yang menjadikan berpikir sebagai kerja sekaligus bermain’ atau mereka ‘yang tak pernah puas dengan hal-hal sebagaimana adanya’. Michael Walzer dan Paul Johnson (1988) juga mengikuti dan mengembangkan definisi semacam ini. Yang kedua, definisi yang mengaitkan istilah tersebut dengan suatu struktur dan fungsi sosial tertentu. Definisi seperti ini diajukan, misalnya, oleh Seymour Martin Lipset yang mendefinisikan para intelektual sebagai mereka ‘yang menciptakan, menyebarluaskan, dan menjalankan kebudayaan’. Termasuk soal penempatan dari pendefinisian intelektual dari Gramsci.



Intelektual Organik Gramsci

Edward W Said menggambarkan pertama, representasi intelektual dengan gambaran dari Julien Benda, yaitu semua orang yang kegiatan utamanya bukanlah mengejar tujuan-tujuan praktis, tetapi mencari kegembiraan dalam mengolah seni, ilmu, atau renungan metafisik. Mereka adalah para ilmuwan, filsuf, seniman dan ahli metafisika yang mendapat kepuasaan dalam penerapan ilmu pengetahuan bukan dalam penerapan hasil-hasilnya. Asumsi Benda menggambarkan para cendekiawan zaman dulu adalah moralis yang kegiatannya merupakan perlawanan terhadap realisme massa. Kedua, asumsi Gramsci pada intelektual organik. Gramsci mencenderungkan kepada kaum intelektual “organik”, unsur pemikir dan pengorganisasi dari sebuah kelas sosial fundamental tertentu. Kaum intelektual yang menempatkan posisi melalui profesi mereka, mereka juga mungkin menjadi karakteristik pekerjaan kelas mereka, bukan melalui fungsi mereka dalam mengarahkan gagasan aspirasi kelas organik mereka.

Menurut Gramsci (2013), arti kaum intelektual sebagai sebuah kelas independen yang terpisah dari kategori sosial adalah sebuah mitos. Semua manusia mempunyai potensi untuk menjadi kaum intelektual, sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki dan dalam cara menggunakannya. Tetapi tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial. Kaum intelektual dalam makna fungsional terbagi menjadi dua kelompok. Pada kelompok pertama terdapat kaum intelektual profesional “tradisional”, ilmuwan dan sebagainya, yang mempunyai posisi dalam celah masyarakat yang mempunyai aura antarkelas tertentu, tetapi berasal dari hubungan kelas masa silam dan sekarang serta melingkupi pembentukan berbagai kelas histori. Yang kedua, terdapat kaum intelektual “organik”, unsur pemikir dan pengorganisasi dari sebuah kelas sosial fundamental tertentu. Kaum intelektual organik ini dapat dengan mudah dibedakan melalui profesi mereka, yang mungkin menjadi karakteristik pekerjaan kelas mereka, bukan melalui fungsi mereka dalam mengarahkan gagasan aspiras kelas organik mereka.

Yudi Latif kemudian menuliskan faktor penentu apakah seseorang itu bisa dikategorisasikan sebagai seorang intelektual ataukah seorang pekerja manual terletak pada ‘fungsi sosial’-nya. Pandangan yang berbeda dengan pandangan (intelektual) liberal yang menempatkan kaum intelektual sebagai sesuatu yang berada ‘di atas’ atau ‘di luar’ masyarakat. Intelektual (liberal) memiliki kecenderungan untuk menempatkan intelektual sebagai kaum elitis. Gramsci memahami para intelektual sebagai sebuah bagian integral dari materialitas yang konkret dari proses-proses yang membentuk masyarakat. Gramsci menempatkan berdasarkan fungsi sosial dan afinitas sosialnya. Sebagaimana itu, Gramsci membedakan dua kategori intelektual: yaitu intelektual ‘tradisional’ dan intelektual ‘organik’. Dalam kategori intelektual ‘tradisional’, Gramsci memasukkan bukan hanya para filosof, sastrawan, ilmuwan dan para akademisi yang lain, namun juga para pengacara, dokter, guru, pendeta, dan para pemimpin militer. Yudi Latif menuliskan atas itu, Gramsci menempatkan para intelektual tradisional secara niscaya akan bertindak sebagai pengikut dari kelompok penguasa. Bahkan, saat mereka bersikap kritis terhadap status quo pun, mereka pada dasarnya tetap membiarkan sistem nilai yang dominan menentukan kerangka perdebatan mereka.

Di sisi lain Gramsci menempatkan para ‘intelektual organik’ dengan berdasarkan pada para intelektual yang berfungsi sebagai perumus dan artikulator dari ideologi-ideologi dan kepentingan-kepentingan kelas, terutama dikaitkan dengan ideologi-ideologi dan kepentingan-kepentingan kelas yang sedang tumbuh (kelas buruh). Gramsci berasumsi bahwa semua kelompok sosial yang memainkan peran ekonomi yang signifikan secara historis menciptakan intelektual-intelektualnya sendiri untuk menjustifikasi peran tersebut: “Setiap kelompok sosial terlahir dalam medan fungsinya yang pokok, dan bersamaan dengan itu, secara organis melahirkan satu atau lebih strata kaum intelektualnya sendiri yang akan menciptakan homogenitas dan kesadaran akan fungsi dalam diri kelompok sosial tersebut, bukan hanya di medan ekonomi, namun juga di medan sosial dan politik”.

Di titik ini, Gramsci memang menempatkan intelektual organik dalam kepentingan-kepentingan kelas, terlebih lagi kepada kelas buruh. Akan tetapi pelebaran asumsi dapat kita tempatkan bahwa intelektual organik adalah kelas kaum intelektual yang berpihak kepada kelompok tertindas yang tidak terwakili.



Gagasan Intelektual Organik KAMMI

Yudi Latif menuliskan penting dicatat bahwa tak ada kolektivitas tanpa para intelektual. Kemudian Yudi Latif mengutip pendapat Gramsci, “Tak ada organisasi tanpa intelektual, dengan kata lain, tanpa pengorganisir dan pemimpin, tanpa aspek teoritis dari kesatuan teori-dan-praktik yang dalam konkretnya terwujud dalam strata orang-orang yang ‘berspesialisasi’ dalam elaborasi konseptual dan filosofis”.

Yudi Latif kemudian memperluas makna Intelektual Organik menjadi Kelompok Solidaritas Kultural, “Untuk menyebut individu-individu intelektual sebagai perumus-ulang dan artikulator dari ideologi-ideologi dan identitas-identitas kolektif, digunakan istilah ‘intelektual organik’ yang diadopsi dari Gramsci. Namun berbeda dengan konsepsi Gramsci (yang mendasarkan istilah tersebut dengan landasan kelas sosial), ‘intelektual organik’ akan dipertautkan terutama dengan kelompok-kelompok solidaritas kultural (terkadang disebut aliran)”. Kata ‘organik’ dengan artian bahwa untuk menunjukkan sebagai jenis intelektual semacam ini merupakan bagian integral dari kekuatan-kekuatan sosial, dan ini berarti menentang konsepsi Weber mengenai intelektual yang terpisah dari masyarakat.

Yudi Latif menyebutkan bahwa Gramsci memang berteori dengan asumsi bahwa para intelektual organik dari suatu kelas tertentu (atau kelompok tertentu untuk konteks kajian ini) harus muncul dari kelas (atau kelompok) mereka sendiri. Yudi Latif memberikan asumsi dengan konteks Indonesia bahwa beberapa pemimpin partai komunis misalnya seperti Tan Malaka, Alimin dan Aidit tidak berasal dari kelompok marginal semata tetapi justru berasal dari keluarga-keluarga priyayi (rendahan) dan keluarga borjuis kecil. Saat bersamaan, para intelektual organik dari kelompok islamis mungkin saja berasal dari keluarga non-santri. Yudi Latif kemudian berasumsi bahwa dalam proses pergaulan dan interrelasi sosial, setiap identitas bisa berubah dan bertransformasi. Dengan demikian Intelektual Organik disebutkan sebagai Kelompok Solidaritas Kultural untuk menempatkan sebagai kesadaran organik bukan berarti ditempatkan dalam kepentingan-kepentingan kelas semata.

Pilihan intelektual memang pada dua aras; menjadi intelektual organik dalam arti Gramsci yang menyuarakan kepentingan sebuah kelas atau gerakan ideologis di satu pihak dan di pihak lain menjadi filsuf moralis ala Julien Benda. Tapi semuanya tetap pada satu hulu; mereka terlibat langsung dalam soal-soal kemasyarakatan. Yakni berpihak terhadap kelompok lemah yang tak terwakili.

Dalam pandangan ini, maka diksi-diksi kunci yang berkaitan antara konsepsi KAMMI (Paradigma Gerakan KAMMI) dengan intelektual organik adalah kader KAMMI yang bergerak dalam keilmuan dan kompetensi sekaligus bergerak dalam gerakan sosial. Sedangkan harapan gagasan Paradigma Gerakan KAMMI, bergerak sebagai basis gerakan. Perluasaan makna gerakan menjadi penting. Adanya sentuhan yang berbasis studi (kompetensi keilmuan) dengan pola gerakan. Dengan klaster-klaster kompetensi, profesi, keminatan yang membumi yang tidak menjaga jarak dengan masyarakat sipil sekaligus sebagai basis gerakan. Sebuah kelompok yang mengambil permasalahan dari akar rumput kemudian diekstraksi dan dipecahkan oleh kaum intelektual. Sebagai sebuah gerakan pemberdayaan yang berbasis kepada keminatan, kompetensi, profesi, dan bahkan dasar keilmuan.

Konsepsi KAMMI yang memiliki selaras dengan intelektual organik sendiri adalah intelektual profetik. Gerakan Intelektual Profetik sebagai gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal, sebagai gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal, sebagai gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik, sebagai gerakan pemikiran yang menjangkau realitas rakyat dan terlibat dalam penyelesaian masalah rakyat.

Frasa-frasa yang selaras itu yakni Intelektual Organik, Intelektual Profetik dan Kelompok Solidaritas Kultural. Maka dapat kita kembangkan bahwa nilai Intelektual Organik KAMMI adalah intelektual yang menjangkau realitas rakyat melalui gerakan pemberdayaan berbasis keminatan, kompetensi, profesi, dan bahkan dasar keilmuan sembari memperkuat basis wacana dan pemikiran dengan nilai-nilai profetik dan organik sekaligus. Pemikiran dan pemberdayaan yang berbasis pada nalar religius sekaligus nilai sosialisme.

Seperti catatan tapol intelektual dalam Catatan tentang Tedjabayu Sudjojono, arsitek Mars Noersmono dan calon dokter Kresno Saroso, kita menyaksikan bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan teknis di lapangan—mulai dari membuat sistem irigasi, mengolah tanah pasir untuk sawah, mencabut gigi, atau melakukan operasi pembedahan darurat tanpa peralatan yang memadai. Mereka belajar dari keterbatasan, menciptakan alat-alat kerja praktis, dan memproduksi pengetahuan untuk disebarluaskan di barak-barak penindasan. Untuk menjaga kewarasan dan memuaskan rasa ingin tahunya, Mas Bayu pun belajar tentang sains dan teknologi (militer) dari para ilmuwan sesama tapol. Penjelajahannya ke pelosok-pelosok pulau, lewat darat maupun sungai yang sunyi, memberinya gambaran lebih jelas tentang kontur salah satu wilayah negerinya. Orang-orang buangan ini menjadi “intelektual organik” yang tanpa selalu mereka sadari sudah melanjutkan proyek pembangunan peradaban baru. Mereka memenuhi imajinasi gerakan nasionalis kerakyatan tentang lahirnya “manusia baru”—yang sayangnya lahir dengan paksaan dan cara-cara tak manusiawi.

Intelektual Organik KAMMI merupakan sebuah “Kelompok Solidaritas Kultural” yang tumbuh untuk mengekstrasi masalah-masalah sosial dengan kesadaran religius tanpa menciptakan kesenjangan posisi dalam masyarakat. Yakni intelektual organik yang sekaligus profetik, yang menciptakan dialektika wacana dan gerakan pemberdayaan berbasis keminatan, kompetensi, profesi, dan bahkan dasar keilmuan dengan kesadaran religius dalam mengesktrasi masalah sosial.





Referensi:

Gramsci, Antonio, 2013. Prison Notebooks. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

KAMMI, 2015. Garis-Garis Besar Haluan Organisasi.

Latif, Yudi, 2012. Intelegensia Muslim dan Kuasa. Yayasan Abad Demokrasi.

Ratih, Ayu, 2021. Tedjabayu Sudjojono, Pembelajar Kebudayaan (3 April 1943-25 Februari 2021). Harian Indoprogress.

Said, Edward W, 2014. Peran Intelektual. Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta.





Posting Komentar

0 Komentar