Serpihan Konservatif
Serial Novel Serpihan Identitas
“Tak
ku sangka di negeri ku ini, telah terjadi penistaan agama, itu yang ku tahu
dari anggapan mereka,” renungannya sendiri. Mereka menyebut
penistaan kepada surat Al-Maidah 51. Akhir-akhir ini juga kita pertontonkan
dengan pembubaran ormas yang berafiliasi pada gerakan keislaman transnasional.
Begitulah disebut.
“Catatanku,
ku mulai dari pemahamanku tentang ini. Tentang sebuah gerakan yang mula-mula
muncul di negeri ku ini,” pendamnya sendiri. Beberapa hal ia diskusikan dengan Said
dan Dawam.
“Dia adalah gerakan anasir,” pendam
Usamah. Gerakan ini memiliki pengaruh yang agak kuat di
masyarakat sejak tahun 1990-an, apalagi sejak keterlibatan alumni-alumninya
dari Timur Tengah. Ada perubahan-perubahan metode, materi dan nama atas
identitas gerakan ini, terutama sebelum reformasi berlangsung.
“Mereka
bergerak, di kampus-kampus dan sekolah-sekolah tingkat menengah, sampai ke
mushola-mushola,” Usamah masih memikir soal awal mula gerakan ini.
“Mereka merupakan gerakan keislaman, gerakan dalam
membentuk, mengajarkan atau menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak, siswa
ataupun orang-orang yang kita tuju dalam kepentingan dakwah”. Hakikat mendasar
bagi munculnya perlawanan bangsa Indonesia pada substansinya adalah hakikat
perlawanan umat Islam yang disinari oleh gerakan salaf, dan dari sanalah semua
gerakan modern dan gerakan nasional terpengaruh secara massif.
“Apakah gerakan ini bermula dari
pergerakan Islam awal di negeri ini?”
“Tokoh-tokoh seperti Muhammad Natsir
misalkan?” Usamah berpikir dan bertanya. Dari beberapa literatur yang ia baca,
gerakan ini bermula dari beberapa orang yang memiliki afiliasi, atau mungkin
ketertarikan pada gerakan keislaman di Mesir, yang melakukan kelompok pembinaan
pada para pemuda dengan metode Usrah. Para tokoh yang menyelesaikan kuliah di
Timur Tengah, dan ada beberapa yang karena ketertarikan pada literatur gerakan
Islam di Mesir itu, kemudian mencoba menerapkannya. Dan saling bertemu bersama
seiring waktu berjalan. Kemudian mulai mengembangkan dakwahnya pada kalangan
anak muda di kampus-kampus, terutama kampus-kampus negeri. Lahirnya gerakan
dakwah kampus yang di era reformasi berawal dari munculnya kelompok anak muda
yang memiliki semangat tinggi dalam mempelajari dan mengkaji serta mengamalkan
Islam, sebagai tanggapan atas tekanan politik yang dilakukan rezim represif
orde baru terhadap umat Islam, serta juga adanya ruang publik yang relatif
lapang yaitu masjid dan mushalla kampus, tempat idealisme kaum muda Islam itu
mengalami persemaian ideal secara tepat. Sementara itu, masjid kampus ialah
basis yang dijadikan benteng pertahanan sekaligus basis gerakan dan faktor di
atas membuat anak-anak muda bersemangat dalam perjuangan dakwah Islam.
Di tahun 1968, Natsir beserta
teman-temannya membina generasi muda kampus (khususnya dosen) sebanyak 40 orang
yang berasal dari berbagai kampus di Indonesia. Sekembali dari pembinaan
tersebut mereka mengembangkan pemikiran keislaman seperti apa yang mereka
terima dalam acara tersebut. Pembinaan ini diadakan berkelanjutan tidak hanya
sekali.
Menindaklanjuti kegiatan pengkaderan
tersebut, maka DDII pada tahun 1974 melaksanakan suatu program yang disebut
dengan Bina Masjid Kampus. Program ini mengusahakan pembangunan masjid
disekitar kampus untuk dipakai berbagai aktifitas. Fasilitas masjid ini
diperlukan agar pembinaan Islami tetap terjaga. Pembangunan masjid kampus ini
dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Masjid-masjid kampus seperti Masjid
Salman di ITB, Masjid Arif Rahman Hakim di UI, dan masjid kampus lainnya
menjadi pusat kegiatan mahasiswa muslim. Muncul forum-forum diskusi yang
membahas tentang Islam tidak lagi hanya dalam ranah ibadah, namun dibahas juga
Islam dalam berbagai sisi kehidupan, sosial, ekonomi, dan politik.
Natsir meminta kader-kader muda
tersebut untuk menterjemahkan buku-buku IM seperti buku-buku Hasan Al Banna,
Yusuf Qardhawi, Sayyid Qutb. Dan diterbitkan melalui Media Dakwah, lembaga
penerbitan DDII. Penerbitan buku-buku IM ini membantu penyebarluasan pemikiran-pemikiran
IM terutama di masjid-masjid kampus.
Melalui gerakan inilah ide-ide dan
pemikiran Ikhwanul Muslimin dikaji dan diimplementasikan, perkembangan
pemikiran Ikhwanul Muslimin di kalangan aktifis dakwah kampus menjadi semakin
semarak dan bergairan setelah kembalinya para intelektual muda yang menimba
ilmu di Timur Tengah (khususnya Mesir), yang notabene banyak bersentuhan
langsung dengan ide-ide Ikhwanul Muslimin. Para intelektual muda ini kemudian
menjadi fasilitator transformasi pemikiran dan ideologi Ikhwanul Muslimin ke
kalangan aktifis dakwah kampus. Mereka banyak menterjemahkan buku-buku yang
ditulis oleh tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Selain itu, mereka banyak diundang
untuk memberikan materi kajian keislaman di kampus-kampus. Hal ini terjadi di
era akhir 1980an-sekarang yang berjalan cukup intens.
Paska runtuhnya pemerintahan Orde
Baru, beberapa gerakan keislaman berideologi semisal Ikhwanul Muslimin, Hizbut
Tahrir, muncul kepermukaan, yang oleh beberapa kalangan disebut sebagai Gerakan
Keislaman Baru (New Islamic Movement).
“Dan
gerakan tarbiyah bertransformasi dalam gerakan politik.”
Usamah mengucak matanya, menyandarkan badannya pada kursi yang didudukinya,
mematikan laptopnya, kemudian menutupnya.
#
Pergantian kepemimpian di dalam
Partai Dakwah ini, membuat secara tak terduga terjadi kekisruhan dalam internal
gerakan yang telah bertransformasi pada gerakan politik ini. Orang-orang
menyebutnya Faksi Sejahtera Versus Faksi Keadilan. Religius Movement Oriented
dan Political Party Oriented. Atau disebut dengan kelompok “Idealis” dan
“Pragmatis”. Kemudian, “Konservatif” dan “Progresif”.
Konservatif diidentikkan dengan
“Cenderung memandang hampir semua hal sebagai sesuatu yang tetap dan tidak
boleh diubah. Cenderung dikotomis dan berhadap-hadapan, menggunakan “bahasa
akidah”, seperti Islam vs kafir, al haq vs al bathil, atau dengan
kata lain, cenderung menggunakan bahasa-bahasa
aqidah (keyakinan agama)”. Progresif diidentikan dengan
“Cenderung memandang banyak hal sebagai sesuatu yang berubah secara dinamis,
disesuaikan dengan perkembangan kondisi. Cenderung melihat hubungan dengan elemen-elemen
masyarakat yang lain dalam konteks muamalah, mencoba mencari titik temu dan
kemungkinan kerjasama”.
Sedangkan Idealis diidentikkan dengan
yang alami, di
mana distribusi kekuasaan diserahkan
kepada sistem dan
kolektifitas yang berlaku. Pragmatis diidentikkan dengan yang
terencana dan tersistem, atau dengan kata lain melalui rekayasa kolektif. Dan
ada semi alami di mana dilakukan
“modifikasi personal” melalui serangkaian langkah-langkah strategis
dan taktis, misalnya
dengan membangun dan memanfaatkan
relasi-relasi personal dengan
berbagai pihak.
Idealis memandang uang bukan sumber
daya yang penting dalam menentukan keberhasilan perjuangan. Pragmatis memandang
uang adalah sumber daya yang penting. Pribadi-pribadi mengakumulasikan sumber
daya ini untuk kemaslahatan diri mereka masing-masing. Dan Semi-Idealis, uang
adalah sumber daya yang penting, sehingga para kader perlu dibangun
kesadarannya dan difasilitasi
untuk mengembangkan bisnis sehingga bisa berkontribusi besar untuk partai.
Kelompok religious movement oriented
mempersepsikan arenanya sebagai arena dakwah dan tarbiyah, sehingga aktor-aktor
di kelompok ini menggunakan habitus dakwah
dan tarbiyah dalam memproduksi
dan mengapresiasi praksis,
yang dengan itu kemudian
mereka kembali menstrukturkan arena
di mana mereka berada. Hal
yang sama berlaku
untuk kelompok political
party oriented, yang
mendefinisikan arenanya sebagai
arena politik kekuasaan.
Dengan bahasa yang sederhana, friksi di antara kedua
kelompok ini terjadi karena para aktor di masing-masing kelompok mengoperasikan
praksis dan strategi yang bersumber dari dua habitus kolektif yang berbeda:
habitus dakwah dan tarbiyah, dan habitus
politik kekuasaan.
“Bagaimana pandangan antum terkait
pemecatan Sang Deklarator?”, tanya Usamah, dan disitu ada Said, Dawam, Yusuf,
dan Mirgah.
“Itu karena sikap otoriter pimpinan
partai bung,”
kata Mirgah
“Otoriter bagaimana? Sang Deklarator
itu telah melampaui jamaah, kekolektifan. Ketika ada individu bersikap melebihi
jamaah, itu berbahaya,” sergah Said.
“Ah, kita ini hanya kader biasa,
remah-remah, tak perlu-lah tanggapi berlebihan, itu permasalahan tingkat atas,” kata Yusuf sambil
tertawa.
“Aku hanya bertanya akh, tak
berlebihan, wajarlah bila kita ikut berargumen,” jawab Usamah.
“Sang Deklarator itu dianggap terlalu
kontroversi terutama dalam ucapan-ucapannya,” kata Said
“Hahaha, bagiku itu
sebenarnya adalah friksi karena faksi dalam internal,” kata Dawam
ceplas-ceplos.
Beberapa waktu media sosial pun
ramai, dari kader struktur partai sampai kader akar rumput. Sebagian pengagum
Sang Deklarator teguh membela. Yang taat pada jamaah pun tak segan membela
keputusan partai.
Sebagian berkata, “Sang Deklarator
itu tokoh pemuda.”
Sampai pada tingkat perpecahan
musyawarah di kalangan para Alumni Organisasi Kepemudaan ini. Satu atas
bentukan Sang Deklarator dan satu lagi kumpul beberapa alumni. Kelihatannya
sebagian besar alumni yang berafiliasi pada pendidikan, sebagian adalah beberapa
dosen. Tapi mereka dituduh, “pengikut partai”. Dan para pengagum Sang
Deklarator berkata, “Ini waktunya para kader berdiaspora bukan hanya satu
partai.”
Kejadian ini hingga turun ke
daerah-daerah, termasuk di daerah Usamah dan kawan-kawan ini. Sekalipun
organisasi kepemudaan ini secara sadar adalah independen. Tapi pengaruh Sang
Deklarator dan friksi internal ini mempengaruhi. Perang opini pembelaan terjadi
di media sosial. “Inilah era digital, fase generasi Z,” pikir Usamah.
Kejadian dua muktamar juga begitu
ramai di media sosial. Kami sebagai organisasi kepemudaan ini memilih tidak
mendukung keduanya. Dan meminta keduanya menjalin ukhuwah kembali.Dalam rilis
kami, “1. Menolak dualisme Kongres Forum Alumnii yang akan memecah belah
organisasi kepemudaan Muslim ini di Maluku Utara, 2. Menolak orang-orang yang
tidak pernah terkader di organisasi kepemudaan Muslim ini mengatasnamakan Forum
Alumni, 3. Tidak adanya hubungan antara organisasi kepemudaan Muslim ini dan
Forum Alumni, 4. Meminta seluruh kader agar tidak terpecah belah dan tetap
memperkuat ukhuwah, 5. Forum Alumni harus menjadi tempat silaturahmi dan
merangkul semua senior organisasi kepemudaan Muslim ini bukan atas dasar
kepentingan kelompok atau individu, 6. Mari merajut silahturahmi yang
meperteguh kebaikan dan selalu berbenah diri.” Memang semua rilis
berdasarkan realitas daerah karena memang friksi ini bukan sekedar organisasi
kepemudaan Muslim ini dan posisi Sang Deklarator, tapi friksi internal jamaah.
Hingga yang diluarpun ikut menempatkan sebagai alumni organisasi kepemudaan
Muslim ini, padahal bukan. “Terutama disini,” kata Said pada Usamah.
Mereka masih berdiskusi di sekretariat mereka.
Masing-masing muktamar ini ada
perwakilan dari daerah ini untuk muktamar itu. Tapi bukan hanya poros Sang
Deklarator dengan poros Alumni yang dominan para dosen, tapi ada satu poros
lagi, ya mungkin kita dapat sebut dengan sabatikal ikhwan. Seperti kata salah
seorang senior, “Maaf, kawan sejak
menempuh sabatikal dari Ikhwan, pengilmuan dan pemberadaban jauh lebih
prioritas tinimbang mengerusi aktivitas yang sekedar bicara “atas nama” tapi
tak elok firasati suara liyan di tubuh jamaah. Jadi, saya tidak akan ke
muktamar. Sesadar-sadarnya enggan, tebersit di hati kecil pun tidak.”
Usamah dan Dawam sebenarnya lebih setuju pada gagasan
Sang Senior Sabatikal Ikhwan ini. Ditambah pada ketersetujuan pada beberapa
gagasan senior ini.
“Tapi akhir-akhir ini aku melihat
Sang Senior, Sabatikal Ikhwan lebih berpihak pada Sang Deklarator?” tanya Dawam
“Terutama pada beberapa postingan
opininya dimuat melalui akun forum alumni poros Sang Deklarator,” kata Dawam
melanjutkan pertanyaannya.
“Atas nama mufakat firasat, begitu
ungkapannya,”
lanjut Dawam
“Tapi saya kira friksi ini bagus,
membuat kader-kader bebas berdiaspora pada berbagai lini, termasuk pada
berbagai partai,” tandas
Mirgah
“Bukan sekedar partai akh, tapi
berbagai ladang dakwah, itu jauh lebih penting,” kata Yusuf
“Itu artinya kita mencoba melampaui
politik,” kata Usamah
“Saya lebih setuju kalau nanti faksi
sejahtera bikin partai sendiri dengan tokoh utama, Sang Deklarator dan Sang
Orator, kiranya itu lebih baik, dan pastinya lebih mantap,” kata Usamah
“Partai baru lebih baik setidaknya
bukan sekedar berseteru, tapi bikin ladang dakwah baru, rekrut lagi, membina
lagi, bikin organisasi kepemudaan perwajahan lagi, rasa-rasanya ini menarik,” lanjut Usamah. “Hal ini
pernah ku sampaikan pada salah senior pembela Sang Deklarator lewat Messenger,” kata Usamah
“Saya kira itu pekerjaan berat. Dan
kata beberapa pengagum Sang Deklarator disini, entah ia dapat info darimana.
Katanya, mereka lebih memilih merebut kembali karena mereka adalah bagian dari
deklarasi partai itu katanya,”
kata Dawam dengan gayanya biasanya.
“Gagasan Sang Deklarator dengan
kawan-kawannya itu seperti Erdogan di Turki dan Ghannouchi di Tunisia,
begitu kata mereka,” kata Dawam lagi
“Kalau partai baru ‘kan bisa membawa
gagasan itu,” kata Said. “Aku lebih
memilih taat pada jamaah, kekeruhaan berjamaah jauh lebih baik daripada
kejernihan individu,” tandas Said kembali.
“Ghannouchi membawa gagasan
Islam Demokrasi, bahkan sudah melepaskan ikatan politik dari sekedar kelompok
agama. Erdogan memulai dengan sekulerisasi dan kemudian pelan-pelan islamisasi,
dan memakai semua gagasan intelektual bukan hanya yang disebut sebagai islami,” kata Dawam.
“Kira-kira begitulah gagasan Sang
Deklarator,” kata Mirgah, menyetujui
kata Dawam.
“Pertanyaan berikut adalah apakah
organisasi kepemudaan Muslim ini akan terpecah pada dua poros ini saat muktamar
hingga musyarawah komisariat? Kita lihat nanti,” kata Dawam
“Saya kira kita patut menjaga ukhuwah
kita, minimal sesama kita al-akh,” kata Said santun
menghadap pada mereka semua sambil tersenyum lembut.
“Dan patut kita renungkan, kata Sang
Senior Sabatikal Ikhwan, Bagaimana mendefinisikan gerakan tarbiyah hari ini?
Sebatas entitas politik? Sebatas kelompok pengkaji keislaman ‘puritan’? Sebatas
orang-orang fanatik yang kadang menjengkelkan lantaran sikapnya di media
sosial? Atau sekumpulan orang intelek yang tekun belajar menata hati?” tanya
Usamah
“Toh sebagian dari mereka dari poros
manapun maupun sikap jamaah, ketika isunya menindas umat islam, semua selalu
membela, dari perlawanan pada penistaan agama hingga perlawanan pada perppu
pelarangan ormas,”
kata Dawam.
“Saya harap perseteruan ini hanya
settingan belaka,” kata Dawam lagi, sambil
tertawa pada mereka
“Tapi saya kira itu hanya
angan-angan, realitasnya memang friksi terjadi,” sergah Usamah sambil
tertawa
“Siapa tahu memang pengaburan
identitas untuk melawan dan membingungkan keadaan. Kita tidak tahu,” kata Dawam tersenyum.
Pengaburan identitas, penuh tanda tanya, harapannya adalah permainan untuk
kebenaran bukan sekedar perseteruan.
“Tidak! perbedaan pandangan itu nyata, seperti konservatif versus progresif,” tandas Usamah dengan raut muka yang agak serius.
.webp)
Posting Komentar
0 Komentar