Serpihan Bermula
Serial Novel Serpihan Identitas
Tibalah saatnya untuk praktek setelah sekian lama
menggeluti beragam ilmu untuk berdakwah. Ia menawarkan kepada teman-teman agar
keluar untuk menyampaikan pesan-pesan agama di kedai-kedai kopi. Teman-temannya
merasa heran, dan berkata, “Para pemilik kedai kopi tentu tidak akan
mengizinkan hal itu. Mereka pasti akan menolaknya, karena dapat mengganggu
pekerjaan mereka. Disamping itu, kebanyakan dari para pengunjung kedai kopi
adalah orang-orang yang hanya memikirkan apa yang sedang mereka nikmati. Bagaimana
kita mesti berbicara tentang agama dan akhlak di hadapan orang-orang yang hanya
memikirkan kesenangan duniawi seperti yang sedang mereka nikmati itu?”
Tapi, tidak! Ia menyakini bahwa kebanyakan orang yang
berada di kedai kopi siap mendengarkan nasihat dari pihak lain, termasuk dari
kalangan aktivis masjid, sebab kegiatan ini merupakan sesuatu yang unik,
langka, dan baru bagi mereka. Bagi ia, kita tidak perlu menyampaikan sesuatu
yang dapat melukai perasaan mereka. Kita harus menyampaikannya dengan metode
yang tepat, dengan gaya yang menarik, dan dalam waktu yang singkat.
Ternyata para pendengar sangat takjub. Mereka semua
terdiam mendengarkan pesan-pesan agam dengan seksama. Awalnya para pemilik
kedai seperti kurang berkenan, namun setelah itu mereka justru minta agar
ceramah ditambah lagi. Inilah tentang fokus. Ia mengatakan kesucian niat inilah
yang memberikan pengaruh positif dalam jiwa para objek dakwah.
Beberapa waktu setelahnya, ada anak-anak muda yang tiap
pekan nongkrong di salah satu hari, di salah satu rumah atau tempat, untuk
saling berbagi, saling menasehati, saling mencintai, saling mengingatkan,
saling mengevaluasi. Mengingatkan tentang pentingnya menjaga wudhu, menjaga
sholat berjamaah, menambah hafalan, dan lainnya.
Anak-anak muda ini, memandang seperti kata Syaikh Yusuf
Qardhawi, “Islam adalah dunia dan agama, dakwah dan Negara, aqidah dan syariat,
ibadah dan kepemimpinan, mushaf dan pedang.”
Asas bahwa Islam adalah dakwah dan Negara, ibadah dan
kepemimpinan. Mereka akhirnya peduli dengan Islam dan politik. Maka seperti
gerigi, ada gerigi besar, ada gerigi sedang, ada gerigi kecil, dan ada gerigi
yang lebih kecil lagi. Gerigi besar itu tak akan bergerak kalau gerigi paling
kecil itu macet. Atau seperti butterfly
effect, bahwa kepekan kupu-kupu mempengaruhi terpaan tornado.
Anak-anak muda ini, memang tak memberikan suara dalam
politik secara signifikan. Tapi esensi tentang gerigi itu memberikan mereka
tentang fokus. Fokus tentang apa yang dapat mereka lakukan. Maka lakukanlah.
Memilih fokus
itu adalah esensi. Satu hal yang perlu disikapi dengan
cepat sesudah jihad siyasi ini adalah kesinambungan amal dakwah dan tarbawi.
Karena kelambanan dalam bersikap akan membuat jedanya perjalanan amal dakwah
ini. Jeda seperti yang kita pahami dapat menjadi jurang bahaya bagi para kader.
Bagi mereka, sirah tentang sesudah
perang Badar, yang hingar-bingar karena euforia kemenangan yang
berujung pada kondisi nyaris konflik menjadi catatan penting bagi mereka. Bahkan jeda juga dapat
membuat kaku sendi-sendi syaraf yang telah lentur karena selalu dipergunakan
untuk mobilitas amal yang beruntun. Dan ini dapat berakibat pada ketahanan
tubuh dan kelenturannya beramal. Oleh karena itu euforia ini tidak boleh
berlama-lama. Apalagi hingga keasyikan. Semua itu dapat memperdaya kader-kader
dakwah lainnya.
Fokus itu
perlu bersungguh-sungguh dan disiplin. Bersungguh-sungguh itu artinya
tidak main-main dalam menunaikan suatu tugas. Menunaikannya dengan mengerahkan
segenap potensi dan kemampuan yang mereka miliki. Sungguh-sungguh sudah menjadi
watak orang-orang beriman. Karena ia adalah pelita hati. Ia akan menunjuki
jalan yang tepat mencapai natijah yang besar. Dengan kesungguhan, mereka akan selalu sibuk dengan
hal-hal besar. Sebaliknya malas dan main-main adalah jamur jiwa. Ia akan
menimbulkan berbagai penyakit. Ia akan direpotkan oleh masalah-masalah sepele
atau ia akan memandang masalah kecil sebagai masalah besar atau kebalikannya
hal-hal besar dianggap masalah yang ringan.
Orang yang bersungguh-sungguh tentu
akan mengerahkan seluruh potensinya secara optimal. Karena langkah inilah yang
akan memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang sedang ia hadapi. Bagi mereka mengerahkan seluruh potensinya sampai pada
kondisi titik penghabisan.
Disiplin artinya selalu tertib akan
tata aturan yang mengikat dirinya berbuat sesuatu. Sehingga ia menapaki tugas
dan kewajibannya secara teratur dan sistemik. Tidak ‘ngawur’ apatah lagi
‘ngaco’. Sebenarnya disiplin sudah menjadi identitas ajaran ini. Yang
sepatutnya melekat dalam diri mereka. Disiplin dalam aturan, disiplin dalam dalam perilaku,
disiplin dalam amal, disiplin dalam tarbiyah, disiplin dalam struktural.
Mereka
yang disiplin dengan segala kaitannya dapat membentuk pribadi yang memiliki
loyalitas kuat. Hal ini sebagai sikap yang amat prinsipil. Lantaran dari
situlah martabat
keimanan terbentuk menjadi bangunan yang kuat dalam sanubari seorang mukmin.
Bila demikian halnya mereka
mampu mengemban amanah yang diserahkan pada dirinya. Kemudian melaksanakannya
dengan segera.
Kefokusan itu, memang seperti gerigi kecil kepada gerigi
yang lebih besar. Hal-hal esensi namun sederhana, memang disuburkan, istigfhar,
berdoa, memperbanyak amalan, rutinitas tarbawi dikencangkan. Seperti kata
Sayyid Qutbh, “Peperangan militer dalam pergerakan Islam bukanlah peperangan
senjata, kuda, prajurit, perbekalan, persiapan, dan strategi militer belaka.
Peperangan parsial ini tidak terpisah dari peperangan besar di alam jiwa dan
alam tatanan sosial umat Islam. Ia punya hubungan erat dengan kejernihan jiwa
tersebut, ketulusannya, keikhlasannya, serta kebebasannya dari
belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan yang mengenyahkan kejernihannya dan
merintangi perjalanannya.”
Bahwa sedangkan orang-orang yang menang di
peperangan-peperangan akidah di belakang nabi-nabi mereka, tulis Sayyid Qutbh,
adalah mereka yang memulai peperangan dengan permohonan ampun atas dosa,
bertawakal kepada Allah dan berlindung ke perlindungan-Nya yang kokoh. Maka,
membersihkan diri dari dosa, bertawakal kepada Allah, dan kembali ke
perlindungan-Nya adalah termasuk modal kemenangan bukan sesuatu yang terpisah
dari medan.
Begitulah mereka membutuhkan fokus, bekerja pada
potensi-potensinya. Mereka mendekam, kata guru mereka, hari-hari ini gempuran
akan semakin terasa, kita hanya perlu; fokus. Dengan sendirinya, gempuran itu
akan sirna. Sejenak berhenti dari hiruk pikuk itu, mengabaikan bahwa siapa yang
benar dan siapa yang salah, apalagi membayang siapa yang berdosa dan siapa yang
berpahala, siapa yang suci dan siapa yang kelam, abaikan itu. Mereka hanya
perlu; fokus, beristighfar, ikhtiar dan kemudian menanti kemenangan. Tak
semudah itu memang, tapi ini adalah pesta, kata seorang guru, pesta demokrasi,
kalau ini sebuah pesta, lazimnya sebuah pesta, kita hanya perlu terus tersenyum
dan tetaplah bergembira.
.webp)
Posting Komentar
0 Komentar