Memandang KAMMI, Setelah BerKAMMI; Sebuah Kontemplasi Tentang Transformasi


Memandang KAMMI, Setelah BerKAMMI; Sebuah Kontemplasi Tentang Transformasi
M. Sadli Umasangaji
(Founder Celoteh Ide)





            Gagasan ini hanyalah riak-riak dalam sebuah euforia Milad KAMMI yang 21 tahun. Riak-riak ini menjadi kontemplasi karena anak-anak muda yang pertama memandang KAMMI, dimana daurah marhalah 1 menjadi ranah awal masuk, ia akan bertanya; “Mengapa ‘anak muda’ bisa berkeinginan masuk KAMMI?”
Setelah itu, setelah ia mengikuti perjalanan setelah daurah, dan ia mengenal berbagai kegiatan di KAMMI, maka ia bertanya, “Bagaimana kami akan berproses di KAMMI?” Termasuk pertanyaan kepada KAMMI sendiri; “Apakah KAMMI perlu bertransformasi?” . Setelah ia berproses di KAMMI bertahun-tahun, masuk pengurus yang berjenjang, dari komisariat, daerah dan seterusnya dan tiba masa ketika ia bertanya; “Bagaimana ia setelah berproses di KAMMI?”.
Hidup adalah masa karya, tulis Anis Matta. Setiap kita diberi rentang waktu, yang kemudian kita sebut umur, untuk berkarya. Harga hidup kita, di mata kebenaran, ditentukan oleh kualitas karya kita. Maka sesungguhnya waktu yang berhak diklaim sebagai umur kita adalah sebatas waktu yang kita isi dengan karya dan amal. Selain itu, ia bukan milik kita.
Waktu adalah kehidupan. Sebagaimana ungkapan Hasan al-Banna. Waktu adalah kehidupan adalah bentuk sanggah terhadap pandangan materialistis bahwa waktu adalah emas, waktu adalah uang. Pandangan bahwa waktu adalah emas hanya benar bagi orang-orang materialis yang biasa mengukur segala-galanya dengan benda. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, dimana waktu jauh lebih berharga ketimbang emas dan permata-permata lainnya. Sebab, hilangnya emas masih mungkin dicarikan gantinya, tapi luputnya waktu tidak mungkin tergantikan lagi. Pada hakikatnya waktu adalah kehidupan itu sendiri. Bukankah kehidupan manusia hanya rentang waktu yang ia lalui sejak lahir hingga usai?
Kemudian masing-masing kita akan bertanya; berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap kita, untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabadikan? Ada satu kaidah yang ditulis oleh banyak ulama, salah satunya adalah syaikh Muhammad al-Ghazali (Matta, 2014), beliau mengatakan anta maa kaifa tufakkir, anda akan menjadi seperti apa yang anda pikirkan. Dengan kata lain setiap realitas yang terjadi di alam kenyataan, sebelumnya merupakan realitas di alam pemikiran. Sebaliknya realitas yang tidak pernah ada di alam pemikiran maka tidak akan pernah pula menjadi realitas di alam nyata. Oleh karena itu kita ini dituntun, digerakkan dan diwarnai oleh cara berpikir kita.

Tentang Identitas Kolektif; Sebuah Kompleksitas
            Dalam sebuah identitas akan terjadi dialektika. Dialektika muncul karena ada kontradiksi-kontradiksi sehingga menjadi sebuah fenomena sosial. Menurut Marx, manusia menciptakan       sejarah mereka sendiri, tetapi mereka tidak menciptakannya sebagaimana yang mereka senangi; mereka tidak menciptakannya dalam keadaan dimana mereka bisa memilih sendiri, tetapi dalam keadaan yang secara langsung bertemu dari masa lalu. Tradisi dari semua generasi yang telah meninggal, menghimpit seperti sebuah mimpi buruk dalam otak kehidupan.
            Analisis dialektis bukanlah hubungan sebab akibat sederhana dan satu arah antar bagian-bagian dunia sosial. Bagi pemikir dialektis, satu faktor mungkin memang berpengaruh pada faktor lain, namun faktor lain juga akan berpengaruh pada faktor pertama. Dari dialektika inilah yang menghasilkan identitas.
            Ada dua hal kiranya mendasari tentang identitas kolektif, Pertama, identitas simbol, sebuah penampakan simbol sebagai sebuah gambaran identitas. Sesuatu yang diidentikkan dengan atribut-atribut kelompok. Kedua, tentang identitas pemikiran, sebuah artikulasi pemikiran yang kemudian menampakan sebagai perwajahan identitas. Dalam dilema identitas kelompok ini ada penolakan dalam penggunaan simbol sebagai untuk sekedar kenangan akan eksistensi identitas kolektif dan ada pula penolakan atas integrasi pemikiran secara identitas kolektif.
            Dalam konteks ini KAMMI turut serta ‘mungkin’ mengalami komplesitas tentang identitas kolektif. Termasuk dalam dialektika patron yang secara tidak langsung memberikan kompeksitas dalam permasalahan KAMMI. Kompleksitas patron ini pula yang secara tidak langsung akan ‘sedikit’ menggerus pengkaderan KAMMI dalam tarbiyah sebagai entitas kolektif juga. Walaupun secara tidak langsung juga kompleksitas patron ini membuka sebuah dialektika dalam diaspora, jaringan, dan kepentingan.
            Atau KAMMI terjebak sebagai gagasan Yusuf Maulana sebagai gambaran entitas tarbiyah. Dan saya mencoba mengelaborasi sebagai KAMMI. Sebatas sekelompk pengkaji keislaman ‘puritan’? Atau sebatas orang-orang fanatik yang kadang menjengkelkan lantaran sikapnya di media sosial? Atau sekumpulan orang intelek yang tekun belajar menata hati? Atau sebatas sebuah entitas pendukung politik? Atau sebatas anak muda yang kritik pada pemerintah sebagai oposisi? Pada tataran ideal, KAMMI harusnya melampau itu semua. Menjadi sebuah entitas ril dari akidah.
Dalam ‘kesadaran’ atau ‘sebagian’ kader KAMMI yang menganggap sebagai identitas kolektif itulah yang menumbuhkan genealogi Ikhwanul Muslimin dalam tubuh KAMMI. Atau kebutuhan akan identitas kolektif itu terpatri dalam kebutuhan untuk membangun komunitas, harakah dan akidah dalam waktu bersamaan. Sebagai gagasan Sayyid Qutbh, “Pembangunan masyarakat dan harakah yang berakidah, dan membangun akidah yang memiliki masyarakat dan harakah. Akidah menjadi realitas masyarakat yang berharakah dan menghendaki realitas masyarakat berharakah yang sebenarnya menjadi entitas ril dari akidah”.
            Identitas kolektif juga sebenarnya bisa merujuk pada intelektual organiknya Gramsci. Para ‘intelektual organik’ menurutnya menunjuk pada para intelektual yang berfungsi sebagai perumus dan artikulator dari ideologi-ideologi dan kepentingan-kepentingan kelas, terutama dikaitkan dengan ideologi-ideologi dan kepentingan-kepentingan kelas yang sedang tumbuh (kelas buruh). Dia berargumen bahwa semua kelompok sosial yang memainkan peran ekonomi yang signifikan secara historis menciptakan intelektual-intelektualnya sendiri untuk menjustifikasi peran tersebut: ‘Setiap kelompok sosial terlahir dalam medan fungsinya yang pokok, dan bersamaan dengan itu, secara organis melahirkan satu atau lebih strata kaum intelektualnya sendiri yang akan menciptakan homogenitas dan kesadaran akan fungsi dalam diri kelompok sosial tersebut, bukan hanya di medan ekonomi, namun juga di medan sosial dan politik.
            Yudi Latif dalam Intelegensia Muslim dan Kuasa, memperluas gagasan Intelektual Organik, sebagai kelompok-kelompok solidaritas kultural. Untuk menyebut individu-individu intelektual sebagai perumus-ulang dan artikulator dari ideologi-ideologi dan identitas-identitas
Kolektif. Namun berbeda dengan  konsepsi Gramsci (yang mendasarkan istilah tersebut dengan landasan kelas sosial), ‘intelektual organik’ akan dipertautkan terutama dengan kelompok-kelompok solidaritas kultural (terkadang disebut aliran).    Dalam proses pergaulan dan interrelasi sosial, setiap identitas bisa berubah dan bertransformasi. Maka, ‘organik’ dalam artian ini hanya sekadar untuk menunjukkan bahwa jenis intelektual semacam ini merupakan bagian integral dari kekuatan-kekuatan sosial.
            Dari itu semua tentang kompleksitas identitas kolektif KAMMI ini, seperti tulisan Amien Rais tentang pandangan M. Natsir, “Jangan sampai kita saling menyalahkan. Kalau ada teman kita memilih aktif di wadah lain tidak berarti bahwa mereka tidak lagi berkhidmat pada Islam. Tetap saja mereka berkhidmat beda-beda. Yang menarik bagi saya adalah jalan pikiran Pak Natsir; jika rumput kering saja harus dimanfaatkan, apalagi teman-teman yang sekedar berbeda pendapat”. Pada titik ini, identitas kolektif entah ia menjadi homogen sebagai kesadaran fungsi atau menjadi heterogen karena dialektika identitas, yang terpenting melampaui identitas itu sebatas kepada simbol, ia menjadi semacam sifat kemudian mengkristal pada pemikiran. Tapi bila ada yang menganggap bahwa keharusan itu terpatri pada aras kesadaran bahwa identitas harakah itu sebagai kekolektifan kesadaran, maka itu juga lumrah.

Tentang Pemikiran; Sebuah Transformasi
            Menurut Gramsci, “Tak ada organisasi tanpa pemikiran, dengan kata lain, tanpa pengorganisir dan pemimpin, tanpa aspek teoretis dari kesatuan teori-dan-praktik yang dalam kongkretnya terwujud dalam strata orang-orang yang ‘berspesialisasi’ dalam elaborasi konseptual dan filosofis”.
            Muhammad Natsir dalam ceramahnya ketika mahasiswa-mahasiswa tahun itu disibukkan dengan isu deideologisasi, dan pentingnya program, “Ingat, ideologi dan program adalah two sides of the same coin, dua sisi dari satu mata uang yang sama. Karena manusia bukan robot, ia tidak mungkin hidup hanya dengan ideologi tanpa program atau hanya dengan program tanpa ideologi”.
            Tentang ini, Anis Matta pernah menuliskan tentang Kebangkitan Pemikiran. Kemudian tentang ‘Aqliyatul Handasah (Pemikiran Rekayasa). Dari pemikiran rekayasa bertujuan untuk memiliki orientasi rekayasa masa depan yang lebih menyeluruh. Maksudnya adalah orang sanggup mendiagnosa realitas umat secara tajam, menawarkan penyelesaian serta penentuan prioritas ‘amal islami dalam sebuah kerangka pemikiran peradaban. Kemudian muncul Seni Merekayasa Akal-Akal Baru (‘Fannu Shina’atul ‘Uqul). Kebangkitan pemikiran merupakan fase yang berfungsi memberi kontribusi konseptual pada proses aplikasi Islam secara kaffah dalam konteks kehidupan modern. Kita perlu memperluas wawasan konseptual kita tentang makna tarbiyah, sekaligus mencoba sumber-sumber pengayaan dalam menangani seni merekayasa akal-akal baru Muslim yang memadukan dimensi orisinalitas dan kekontemporeran.
            Kemudian kita patut berhenti sejenak dan bertanya seperti tulisan Anis Matta tentang Al-Badailul Islamiyah; “Benarkah Islam mampu memberi yang lebih baik bagi dunia? Mampukah kaum Muslim merealisasikan Islam dalam dunia nyata?”. Pertanyaan itu tentu dengan mudah dapat dijawab ya. Tapi, ternyata pertanyaan itu diletakkan dalam satu bingkai; Mampukah Islam memimpin umat manusia, memberi sesuatu yang lebih baik, tanpa harus menghancurkan capaian-capaian pengetahuan dan teknologi barat?
            Pada tahap keyakinan, tulis Anis Matta, bingkai itupun barangkali dapat dijawab sederhana; bisa. Tapi, secara internal, pertanyaan itu tampaknya tidak bisa terlalu disederhanakan. Sebab, disini, pertanyaan tidak secara an sich ditujukan kepada keyakinan. Tapi, kepada kemampuan mengkritalisasikan keyakinan-keyakinan itu dalam bentuk format-format pemikiran, sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, teknologi, hubungan antar bangsa dan sebagainya. Olehnya itu, dalam gagasan lain, Anis Matta menyebutkan tentang Pemikir Strategis. Dan menegaskan; kalau dakwah ini merupakan proyek peradaban, sesungguhnya dakwahlah yang lebih membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategis. Tentang seni untuk bagaimana memanfaatkan berbagai disiplin ilmu untuk mencapai tujuan tertentu.
            Kemudian ada tentang syarat-syarat pemikiran adalah cara berpikir, mindset atau paradigma tertentu yang perlu dimiliki, diantaranya paradigma engineering, paradigma penaklukan, paradigma eksperimental, dan paradigma inovasi. Pertama, paradigma arsitek adalah paradigma merekayasa atau mendesain segala sesuatu di bumi sesuai dengan fungsi kita sebagai khalifah. Paradigma arsitek sebagai asas dasar pembentukkan konseptual atau bisa jadi adalah gerakan perekayasaan ulang.
Kedua, paradigma penalukkan menekankan kepada manusia bahwa seluruh yang ada di bumi dalam ruang dan waktu telah ditaklukkan oleh Allah SWT untuk dimanfaatkan oleh manusia. Paradigma penalukkan untuk membantu kita memahami tantangan yang kita hadapi pada saat menerjemahkan wahyu ke dalam realita. Ketiga, paradigma eksperimental yakni paradigma untuk senantiasa belajar dari pengalaman empiris di masa-masa sebelumnya. Sebentuk kesadaran seorang Muslim untuk belajar dengan cara memadukan pengetahuan teoritis dengan pengalaman langsung dirinya maupun orang-orang terdahulu. Keempat, paradigma inovasi, yakni gabungan antara norma yang kita yakini dan pengalaman yang kita alami. Dari ini akan memunculkan apa yang disebut oleh Imam al-Ghazali sebagai Pengetahuan Ketiga.
            Tentang pemikiran ini, ada satu kesadaran yang patut ditumbuhkan bagi KAMMI, selain tentang pemikiran, kita meyakini bahwa satu kaidah bahwa pada saat sebuah peradaban sedang naik, maka sesungguhnya peradaban tersebut sedang dikendalikan oleh ruh. Sementara ketika peradaban berjalan mendatar maka yang mengendalikannya adalah rasio (akal) dan ketika peradaban sedang menukik turun, maka berarti ia sedang dikendalikan oleh syahwat. Peradaban dalam grafik naik berarti juga memperlihatkan rasio perbandingan antara sumber daya dan produktivitas. Pada saat kita dikendalikan oleh ruh maka produktivitas kita pun jauh lebih besar dari sumber daya yang kita miliki. Sedangkan grafik mendatar menunjukkan bahwa ketersediaan sumber daya berbanding lurus dengan produktivitas kita atau dengan kata lain berimbang. Sementara grafik menurun, memperlihatkan gambaran bahwa produktivitas kita jauh lebih rendah dari ketersediaan sumber daya yang ada.
            Maka transformasi KAMMI sudah barang tentu berakar pada ruh dan pemikiran. Kemudian membentuk pemikiran rekayasa, pemikir strategis, dan paradigma eksperimental dan pengetahuan ketiga untuk menjawab tantangan konsep Islam alternatif (al-Badailul Islamiyah).

Sepenuhnya Indonesia
            Memang membingungkan bahwa KAMMI selalu berganti konsep dalam hampir setiap periodisasi kepengurusan. Kemudian terjamah dalam bentuk jargon dan sekarang lebih disebut tagline. Dimulai dari Oposisi Kebatilan kemudian Muslim Negarawan kemudian Jayakan Indonesia 2045, dan sekarang Sepenuhnya Indonesia. Ada pula serpihan-serpihan tagline semisal KAMMI Untuk Indonesia, dan Sipil Keummatan. Satu yang pasti, label ini hanya terbatas kepada lebal begitu saja tanpa ada terjemahan konsepsi yang lebih lengkap terkait ini. Muslim Negarawan lebih berbentuk konsepsi, dan ada rumusannya. Begitu juga dengan Jayakan Indonesia 2045 ada platformnya, dan ini sebenarnya langkah strategis KAMMI sebagai kontribusi untuk Indonesia. Ada visi kebangsaan dan tahapan-tahapan jangka pendek dan menengah. Ada internalisasi nilai-nilai pancasila untuk langkah strategis KAMMI. Dan terdiri atas beragam pandangan dengan berbagai bidang pendidikan, sosial, politik, pemerintahan, kesehatan, pertahanan, keamanan, ketahanan pangan, sumber daya alam dan energi. Kemudian semua termaktub dalam GBHO KAMMI, platform itu menjadi platform KAMMI. Sayangnya platform yang baik ini, masih jarang menjadi diskursus di internal kader-kader KAMMI sendiri. KAMMI sendiri sudah mencetuskan berbagai lokus kompetensi harusnya ini semua dapat dielaborasi, dari Sastra, Pangan dan Gizi, Kesehatan, Pendidikan dan lainnya dan tentu terbalut dalam kesadaran paradigma gerakan KAMMI; dakwah tauhid, intelektual profetik, sosial independen, politik ekstra parlementer.
            Kemudian muncul Sepenuhnya Indonesia, yang disebut sebagai bagian dari Ijtihad Melanjutkan Transformasi Gerakan. Memang Sepenuhnya Indonesia perlu diterjemahkan lebih lanjut oleh teman-teman Pengurus Pusat. Konteks sebagai apa. Apa sebagai kelanjutan Platform KAMMI Jayakan Indonesia? Atau terbatas kepada ganti kepengurusan, ganti label.
            Tentang Sepenuhnya Indonesia, sebenarnya terdengar menarik, seakan membawa identitas baru bagi KAMMI, tapi terlihat gagap memang karena tanpa diterjemahkan membuat orang akan berpikir apakah KAMMI belum mengIndonesia? Kalau sudah, apa yang kurang sehingga tag line ini perlu dimunculkan?
            Sebenarnya secara gagasan, KAMMI Untuk Indonesia, pernah dicetuskan oleh beberapa teman-teman KAMMI yang jejak masih ada dalam jejak digital. Bernama Manifesto KAMMI Untuk Indonesia. Sebenarnya cukup baik, dengan gambaran wacana yang terdiri dari pertama, KAMMI dan Semangat KeIndonesiaan, kedua, Sejarah Perjuangan Indonesia, yang coba di elaborasi dari gerakan kepemudaan Islam sebelum kemerdekaan, ketiga, Permasalahan Bangsa Indonesia, keempat, Posisi KAMMI dan Apa yang Akan KAMMI Lakukan.
            Setidaknya dari itu Sepenuhnya Indonesia, saya berpikir ada tiga hal; pertama, tentang Kesadaran (Nasionalisme), tentang Gagasan (dalam pengkaderan), dan tentang kontribusi. Pertama, tentang kesadaran (nasionalisme), saya kira semua kader KAMMI, lahir, tumbuh, dan besar di semua desa, kampung, daerah di Indonesia, dengan secara tidak langsung kesadaran-kesadaran nasionalisme terpatri dalam setiap kader KAMMI. Misalkan dalam konteks tertentu KAMMI cenderung membawa gagasan Ikhwanul Muslimin adalah hal yang lumrah dalam pengkaderan, semisal gerakan Kiri yang membawa gagasan Marx, dan para beragam pemikir Marxis, gagasan Gramsci, Albert Camus atau teman-teman lain yang membawa gagasan Ali Shariati, atau Murtadah Mutahhari, atau Hasan Hanafi, Asghar Ali Engineer dan lain. Kesemua gagasan itu tepat akan dielaborasikan dalam gagasan Keindonesiaan. Dalam mendefinisikan perkataan nasionalisme, Stanley Benn (dalam Madjid, 2013), menyebutkan paling tidak lima hal; (1) semangat ketaatan kepada suatu bangsa (semacam patriotisme), (2) dalam aplikasinya kepada politik, “nasionalisme” menunjuk kepada kecondongan untuk mengutamakan kepentingan bangsa sendiri, khususnya jika kepentingan bangsa sendiri itu berlawanan dengan kepentingan bangsa lain, (3) sikap yang melihat amat pentingnya penonjolan ciri khusus suatu bangsa dan karena itu, (4) doktrin yang memandang perlunya kebudayaan bangsa untuk dipertahankan, (5) nasionalisme adalah suatu teori politik, atau teori antropologi, yang menekankan bahwa umat manusia, secara alami, terbagi-bagi menjadi berbagai bangsa, dan bahwa ada kriteria yang jelas untuk mengenali suatu bangsa beserta para anggota bangsa itu.
            Tentang gagasan (dalam pengkaderan), apa internalisasi Sepenuhnya Indonesia dalam konteks ini, saya berpikir terlepas dari identitas kolektif KAMMI, perlu adanya kebiasaan mengkaji gagasan pesan-pesan Keislaman tokoh Islam di Indonesia atau Intelegensia Muslim di Indonesia. Di dalam Manhaj KAMMI misalkan buku referensi di daurah sudah terisi buku semisal Kuntowijoyo, dan di dalam Mantuba misalkan sudah Api Sejarah Indonesia dan lainnya. Belum lagi kebiasaan kader dalam membaca gagasan tokoh-tokoh Islam Indonesia. Mungkin sedikit menggerus dominasi bacaan tentang Ikhwanul Muslimin dan tokohnya, tapi secara esensi saya kira tidak. Ini akan menjadi kekolektifan gagasan KAMMI sebagai Sepenuhnya Indonesia. Atau sebaliknya kader-kader dan orang-orang yang pernah terbina dalam pengkaderan KAMMI perlu membubuhkan karya tentang tokoh-tokoh Islam Indonesia serta gagasan-gagasannya. Dulu ada yang menulis tentang Agus Salim; The Old Man, ada juga buku Jalan Hidup Para Pejuang, ada juga senior yang menulis tentang Buya Hamka. Buya Hamka sendiri pernah menuliskan tentang Ikhwanul Muslimin. Natsir membincang Ikhwanul Safa dan lainnya dalam Islam dan Akal Merdeka. Mungkin buku sejenisnya ini perlu diproduksi oleh kader-kader KAMMI kembali dan lagi.
            Tentang kontribusi. Tentu kontribusi KAMMI seperti dalam Platform KAMMI butuh waktu lama dalam merealisasikannya. Setidaknya dalam Manifesto KAMMI Untuk Indonesia adalah gambaran output berdasarkan paradigma. Pertama, Sebagai gerakan dakwah tauhid, KAMMI akan mencetak para pendakwah dan pengkaji-pengkaji agama yang mampu mencerahkan dan membebaskan umat dari masalahnya saat ini. Kedua, Sebagai gerakan intelektual profetik, KAMMI akan mencetak para pemikir, sastrawan, novelis, penulis, dan ilmuwan yang ulung, yang memiliki semangat perubahan dan dipandu oleh moralitas agama. Ketiga, Sebagai gerakan sosial independen, KAMMI akan mencetak aktivis sosial, advokat, dan agen-agen pemberdayaan yang mampu memecahkan persoalan riil rakyat serta memberdayakan mereka menjadi masyarakat yang mandiri. Keempat, KAMMI akan mencetak politikus, demonstran, ahli-ahli hukum serta ahli-ahli politik yang mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat tanpa harus terikat pada kepentingan politik apapun.
            Apa yang terbayang dari tentang kontribusi yang outputnya terpatri dalam paradigma KAMMI itu; akumulasi gerakan. Akumulasi gerakan antara kader KAMMI dan orang-orang yang pernah membersamai KAMMI. Akumulasi inilah yang akhirnya membentuk lapisan KAMMI sebagai kontribusi untuk Indonesia. Lapisan inilah yang harusnya menjadi Identitas Kolektif KAMMI. Lapisan ini pula yang harusnya menyongsong dalam membentuk pemikiran rekayasa, pemikir strategis, dan paradigma eksperimental dan pengetahuan ketiga untuk menjawab tantangan konsep Islam alternatif (al-Badailul Islamiyah). Tapi apakah akumulasi gerakan akan sekedar imajinasi? Tentu kita sendiri sebagai orang yang pernah membersamai KAMMI-lah yang patut menjawab.
            Dengan kesadaran akan bahwa kaum Muslim membutuhkan; “Pembangunan masyarakat dan harakah yang berakidah, dan membangun akidah yang memiliki masyarakat dan harakah. Akidah menjadi realitas masyarakat yang berharakah dan menghendaki realitas masyarakat berharakah yang sebenarnya menjadi entitas ril dari akidah”.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. "Selamat siang Bos 😃
    Mohon maaf mengganggu bos ,

    apa kabar nih bos kami dari Agen365
    buruan gabung bersama kami,aman dan terpercaya
    ayuk... daftar, main dan menangkan
    Silahkan di add contact kami ya bos :)

    Line : agen365
    WA : +85587781483
    Wechat : agen365


    terimakasih bos ditunggu loh bos kedatangannya di web kami kembali bos :)"

    BalasHapus