Resiliensi Gerakan KAMMI


Resiliensi Gerakan KAMMI
M. Sadli Umasangaji
(Founder Celoteh Ide)






            


Resiliensi mungkin kata yang terdengar cukup asing di telinga. Resiliensi mungkin lebih sering disematkan kepada psikologi atau mungkin masalah kebencanaan. Akan tetapi resiliensi dijadikan sebagai tema internal dari Milad KAMMI ke 23 dari KAMMI Kota Ternate, tema yang diangkatkan adalah Resiliensi Gerakan Untuk Kontribusi Negeri. Sedangkan tema di KAMMI Pusat adalah “Pelopor Kebangkitan Negeri”. Bila dipikirkan kembali maka kata resiliensi bagi gerakan sebagai lembaga, terkesan baik untuk dijadikan diskursus dan narasi.

Bila kita mencari beberapa definisi tentang resiliensi maka dapat diartikan dalam beberapa hal. Resiliensi digambarkan sebagai bagian positif dari perbedaan individual dalam respon seseorang terhadap stress dan keadaan yang merugikan lainnya. Resiliensi didefinisikan sebagai suatu fenomena atau proses yang secara relatif mencerminkan adaptasi positif meskipun saat mengalami ancaman atau trauma yang signifikan. Resiliensi sebagai stamina emosional yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang menunjukkan keberanian dan kemampuan beradaptasi di tengah kemalangan hidup. Resiliensi juga didefinisikan sebagai faktor penyangga yang melindungi individu dari gangguan psikotik dan menggambarkan individu yang tangguh yang memiliki harga diri, efikasi diri, kemampuan dalam menyelesaikan masalah, serta hubungan interpersonal yang baik.

Resiliensi juga berarti sebuah kemampuan yang berusaha untuk kembali ke bentuk semula. Resiliensi merupakan suatu cara bagaimana seseorang dapat bertahan hidup, bangkit dan menyesuaikan diri dalam berbagai kondisi sekalipun dalam kondisi yang sangat sulit. Resiliensi juga didefinisikan sebagai kemampuan untuk berkembang dengan baik, matang, dan bertambahnya kompetensi dalam menghadapi keadaan dan rintangan yang sulit. Resiliensi juga untuk menggambarkan kemampuan individu atau kelompok serta komunitas untuk mencegah, meminimalkan dan mengatasi dampak dari kesulitan yang merusak.

Pertanyaan mendasarnya adalah apa yang menjadi resiliensi bagi KAMMI. Atau apa yang menjadi masalah mendasar baik secara internal dan eksternal yang membuat KAMMI perlu melakukan resiliensi. Bila melihat definisi-definisi tentang resiliensi maka penyematan dalam gerakan sebagai ulasan bagi Resiliensi Gerakan KAMMI maka beberapa hal terkait itu adalah kesadaran historis, adaptasi gerakan, reversibel gerakan, kolaborasi dan kepeloporan gerakan.



Kesadaran Historis

Secara umum kita membaca bahwa kelahiran KAMMI karena adanya indikator yang mematikan potensi bangsa, urgensi sebuah tuntutan reformasi, adanya kepentingan umat islam untuk segera berbuat, aksi demonstrasi dan mimbar bebas semakin menjamur, mahasiswa islam merupakan elemen sosial, suara umat islam mulai terabaikan, dan depolitisasi kampus memandulkan peran mahasiswa.

Amin Sudarsono dalam Ijtihad Membangun Basis Gerakan menuliskan adanya proses normalisasi yang tak normal, karantina politik di kampus, dan bersemai gelora keislaman di kampus. Deideologisasi yang dilakukan Orde Baru memberikan dampak bagi kebangkitan generasi selanjutnya, untuk lebih menggali Islam sebagai energi perubahan masyarakat. Salah satu embrio pergerakan Islam yang justru tumbuh subur di era Orde Baru ialah Gerakan Tarbiyah. Kecambah pergerakan Islam ini lahir dengan basis masjid-masjid kampus. Terjadi ledakan budaya, karena Orde Baru menutup keran politik bagi massa Islam. Dan ketika keran itu terbuka lebar, kesempatan itu digunakan untuk mendeklarasikan sebuah gerakan mahasiswa baru, yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

KAMMI terlahir sebagai kesadaran dari mahasiswa-mahasiswa Muslim yang berkumpul di Malang, Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka yang menggabungkan masjid dan gerakan. Gerakan perlawanan dari masjid kampus. Meletakkan dasar teologis yang kuat bagi perkembangan masjid sebagai sebuah kekuatan otonom yang menghimpun potensi progresif unsur-unsur perubahan dalam masyarakat Islam. Sebagai pusat pembangunan kesadaran, masjid direvitalisasi dan diperhadapkan secara langsung dengan kenyataan-kenyataan praktis, sebagai pusat aktivitas dan penggerak aktivis ummat.

Dengan bahasa deklarasi atau disebut sebagai Deklarasi Malang. Mereka yang tidak lulus sekolah dengan baik, dan yang kondisi track record dalam pembangunan adalah jelek, diangkat menjadi pemimpin kita, agama melarang kita, agama sesungguhnya menekankan kepada kita, janganlah kita biarkan orang-orang yang akan mempermainkan agama kita ini menjadi pemimpin. Kita harus mau mengambil sikap itu. Dan saya kira gelora kampus kita, gelora masjid kampus kita, akan sanggup bertahan dalam pola perjuangan semacam itu. Baiklah untuk tidak berpanjang kata, saya dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, akan membacakan deklarasi yang kita sebut Deklarasi Malang. Didasari keprihatinan mendalam terhadap krisis nasional yang melanda negeri ini dan didorong tanggung jawab moral terhadap penderitaan rakyat yang masih terus berlangsung, serta itikad baik untuk berperan aktif dalam proses perubahan dan perbaikan, maka kami segenap Mahasiswa Muslim Indonesia yang berkumpul di tempat ini mendeklarasikan lahirnya: Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia atau KAMMI. Selanjutnya, KAMMI menempatkan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari rakyat dan akan senantiasa berbuat untuk kebaikan bangsa dan rakyat Indonesia.

Kesadaran historis ini bisa sebagai kenangan gerakan, sekaligus nostalgia gerakan. Nostalgia gerakan ini mungkin bisa dilakukan sebagai narasi kegembiraan dalam pengulangan kembali hari kelahiran. Akan tetapi kemurnian momentum ini harusnya terus menjadi kesadaran historis yang terus menumbuhkan bahwa kelahiran gerakan ini adalah momentum perlawanan. Kesadaran historis ini juga harus terus menumbuhkan kebangkitan dalam tubuh kader-kader KAMMI. Kesadaran historis ini juga sebagai penumbuhan kesadaran bahwa KAMMI adalah gerakan perlawanan dari masjid kampus, gerakan perlawanan yang dipadukan dengan kesadaran keislaman. Sekaligus menyadarkan bahwa ruang KAMMI adalah gerakan perlawanan yang tumbuh dalam kesadaran dari gerakan tarbiyah. Maka kesadaran historis merupakan idealisme dari kesadaran keislaman, keindonesiaan dan kepemudaan yang dimiliki KAMMI sebagai keniscayaan sekaligus pemantik bagi bara perjuangan selanjutnya dan seterusnya.



Adaptasi Gerakan Sekaligus Reversibel Gerakan

Bila kita lihat arti dari kata resiliensi maka dua kata yang patut dilekatkan juga adalah adaptasi dan reversibel. Adaptasi sebagai suatu cara dalam bertahan hidup, bangkit dan menyesuaikan diri. Reversibel sebagai usaha untuk kembali ke bentuk semula. Bila membincang soal adaptasi maka masalah apa yang membuat kita perlu beradaptasi. Mencerna secara umum (dan mungkin secara subjektif) masalah internal dan eksternal KAMMI menjadi bahasan sebelum menempatkan adaptasi KAMMI. Diskursus internal KAMMI tentu tidak terlepas dari masalah program, pengkaderan, ideologisasi, dan mungkin masalah patronase gerakan. Diskursus eksternal KAMMI adalah masalah kebangsaan, masalah moral bangsa, masalah korupsi, masalah keumatan, masalah kepemimpinan, perkembangan zaman, dan kini dihadapkan dengan masalah pandemi.

Hegel pernah membuat sebuah teori tentang jiwa zaman atau semangat zaman, atau lebih sering disebut zeitgeist. Secara istilah, diartikan sebagai sebuah pemikiran tentang dominan suatu massa yang menggambarkan atau mempengaruhi sebuah kebudayaan atau tatanan kehidupan dalam masa itu. Secara sederhananya, zeitgeist ini, berbicara mengenai suatu hal yang dapat menyebabkan suatu perubahan besar zaman tersebut atau pada kondisi peradaban di sebuah masa itu. Jadi adanya sebuah hal yang membuat perubahan besar. Makanya kita mengenal pada zaman ini adalah revolusi teknologi informasi, yang lebih disebut Revolusi 4.0. Zaman-zaman sebelum itu, ada semisal ditemukan sebuah mesin dengan berbahan bakar batu bara atau mesin uap. Jadilah zaman industri, perubahan dari peradaban agraria ke peradaban industri. Dari sinilah lahirlah kaum sosialis ataupun komunis. Tentang kepemilikan lahan, pekerja buruh, kepemilikan alat-alat produksi.

Penulis mencoba menanyakan kepada beberapa teman, apa yang mendasari kader KAMMI (Kota Ternate) mengangkat tema Resiliensi Gerakan. Tentunya ini sifatnya subjektif untuk internal KAMMI (Maluku Utara). Ada yang menjawab semacam kesadaran untuk mengembalikan KAMMI dari keterpurukan. Semacam perasaan tenggelam hingga identitas dalam berKAMMI menjadi samar. Hingga lebih tepat menghadirkan rasa kebangkitan dalam diri kader. Sementara ada tanggapan lain bahwa faktor yang mendasari itu adalah pertama, ide-ide gerakan yang sudah mulai usang dan tergantikan oleh tren-tren komunitas yang cenderung sederhana dan inovatif, semisal komunitas hijrah atau komunitas berbasis hobi, kedua, hubungan pembelahan patronase membuat kader KAMMI sudah mulai membuat porosnya sendiri namun dengan resiko membuat dasar paradigma gerakan mulai bergeser secara perlahan, hal ini juga berdampak dalam pola dan cara pandang kader menjadi beragam, sisi positifnya KAMMI menjadi dinamis, sisi negatifnya KAMMI kehilangan identitas organisasi, ketiga, jumudnya para kader sebab ide-ide gerakan kalah cepat dengan tren jaman akhirnya mengakibatkan kader menjadi lebih senang mengadopsi prinsip dari luar gerakan dibanding prinsip organisasi sendiri, kebingungan menempatkan posisi bergerak.

Adaptasi gerakan merupakan proses untuk menumbuhkan kepercayaan diri kader dalam berproses di KAMMI. Adaptasi gerakan KAMMI juga bentuk penyadaran bahwa setiap kepengurusan atau periodisasi dalam berKAMMI memiliki tantangan dan tahapannya sendiri. Bahwa setiap kepengurusan tidak harus membandingkan keberhasilan-keberhasilan program dengan antar kepengurusan lain. Bahwa setiap masa kepengurusan memiliki dinamika keKAMMIan-nya sendiri. Hal ini mungkin subjektif untuk internal KAMMI (di Maluku Utara dan Kota Ternate). Adaptasi gerakan KAMMI juga penumbuhan rasa cinta kader atau semacam perasaan memiliki dan rasa bangga dalam berKAMMI. Menumbuhkan rasa ini dengan memperbanyak aktivitas dalam KAMMI, menarasikan gerakan KAMMI, dan terus mendiskursuskan KAMMI.

Atau ancaman untuk adaptasi KAMMI sebagaimana tulisan Ahmad Jilul, bahwa secara subjektif (bagi dia) KAMMI berada dalam titik deviasi yang terlalu jauh dari nilai-nilai dasar dan sebab berdirinya. Secara organisasi sebagai pergerakan, KAMMI absen di banyak ruang dimana ia harus hadir, seperti pembelaan terhadap mereka yang terzalimi, yang mustadh'afin. Tak ada KAMMI ketika penggusuran terhadap rakyat kecil dilakukan, tak ada KAMMI ketika para petani menderita terjerat industri dan aturan pemerintah tentang pertanian. Secara organisasi secara intelektual, KAMMI absen dalam diskursus-diskursus penting yang selayaknya dipahami mahasiswa, KAMMI absen dalam diskursus kajian-kajian keislaman kontemporer, yang pada akhirnya KAMMI gagal menautkan solusi Islam dengan ragam persoalan.

Adaptasi gerakan KAMMI adalah menghadirkan lokomotif gerakan KAMMI. Kesadaran sebagai gerakan mahasiswa tentu keterlibatan sebagai gerakan politik adalah keniscayaan ataupun kemestian. Akan tetapi gagasan Amien Rais tentang Umat Islam dengan Lokomotif Lain. Kiranya bisa ditemukan relevansinya. Lokomotif lain inilah sebagai kesadaran adaptasi gerakan. Poin pertama dalam gagasan itu adalah kemandekan politik Islam telah mendorong umat untuk menggerakan kegiatan dinamis dan kreatif seperti kegiatan sosial, pendidikan, budaya serta dakwah secara intensif. Energi umat yang dulu tersedot dalam kesibukan politik, kemudian dialihkan ke berbagai kegiatan non politik.

Reversibel gerakan KAMMI adalah genealogi gerakan tarbiyah dalam tubuh KAMMI. Reaksi reversibel sebagai reaksi yang di mana produk reaksi dapat bereaksi balik membentuk reaktan. Atau dalam bahasa Fathi Yakan tentang Keyakinan bahwa Hari Esok Milik Islam dan Komitmen Terhadap Harakah Islam. Bahwa mengimani Islam sebagai jalan hidup harus mendorong pada tingkat kepercayaan bahwa masa depan adalah milik Islam. Universalitas manhaj Islam mengimplementasikan corak kemanusiaan dan keterbukaan serta mampu mengemban tugas keterbukaan tersebut. Corak ini mengadopsi prinsip keterbukaan, kesyamilan dan kemanusiaan. Sekaligus fleksibilitas manhaj Islam merupakan corak yang menjadikan Islam mampu mengatasi setiap permasalahan hidup yang terus berkembang dan bermacam-macam. Fathi Yakan juga menuliskan bahwa komitmen seseorang terhadap gerakan Islam harus terlebih dahulu didasari oleh adanya sejumlah sifat dan karakteristik yang menunjukkan komitmennya kepada Islam. Hal ini menjadikan fokus gerakan Islam diantaranya mempersiapkan individu agar menjadi muslim sejati. Ini karena komitmen kepada Islam merupakan dasar, sementara komitmen kepada gerakan Islam adalah salah satu bagian tak terpisahkan dari komitmen kepada agama ini.



Kepeloporan

Ada yang berkelarkan bahwa KAMMI itu seperti “sekolah”. Tentu bukan arti sekolah secara harfiah secara umum. Tapi andai KAMMI adalah “sekolah”, maka ia punya “siswa” dan tentu punya “lulusan”. Maka KAMMI adalah “sekolah” dalam arti sebagai laboratorium pengkaderan sekaligus kapsul pergerakan. KAMMI menjadi sarana dalam memfasilitasi kadernya dalam menentukan titik temunya atau momentum kadernya ketika menjadi “lulusan”. Maka kepeloporan gerakan adalah kelanjutan dari kesadaran adaptasi gerakan dan reversible gerakan.

Melanjutkan gagasan Amien Rais tentang Umat Islam dengan Lokomotif Lain yang dibukukan sekitar tahun 2004. Setelah poin pertama tentang pengalihan kepada gerakan non politik. Kedua, watak Islam yang senantiasa dinamis tidak memungkinkan para pemeluknya bersikap statis. Watak ini membuat Islam demikian luwes dan terus hadir dalam segala cuaca politik. Islam di Indonesia telah berperan sebagai motivator dalam perjuangan nasional. Ketiga, fenomena dakwah di kampus terasa terus meningkat pada hakikatnya didorong oleh kesadaran beragama para mahasiswa yang makin mendalam. (Tentu ini tulisan sebagai gambaran masa ketika orde baru). Keempat, penuhnya masjid dengan anak-anak muda saat itu, di samping berkat kesadaran dari dalam, juga karena ekologi sosial, politik, dan budaya, yang terus berubah seirama dengan proses pembangunan. Dalam proses pembangunan yang membawa perubahan nilai-nilai itu, secara sosio-psikologi timbul semacam krisis identitas di kalangan pelajar-mahasiswa. Identifikasi mereka merasa menemukan dirinya dalam ajaran-ajaran Islam. Kelima, generasi muda yang makin terpelajar menyadari peliknya memecahkan masalah nasional yang menghadang Indonesia di masa depan. Sesuai dengan pengetahuan mereka tentang Islam yang makin komprehensif, dengan keyakinan bahwa Islam dapat memberikan kontribusi besar bagi pemecahan masalah-masalah nasional itu.

Kepeloporan diartikan sebagai perihal pelopor; sifat sebagai pelopor. Pelopor berarti yang berjalan terdahulu; yang berjalan di depan tentang perarakan dan sebagainya; perintis jalan; pembuka jalan; pionir; pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami). Mempelopori berarti berjalan mendahului; memimpin (memberi contoh atau teladan); merintis jalan. Maka dititik ini kepeloporan KAMMI dalam skala realitas adalah dapat membentuk kesadaran baik individu kader atau kolektif dalam menghadirkan gerakan pemberdayaan atau founder gerakan. Gerakan pemberdayaan ini baik bersifat sesuai kompetensi kader, keminatan kader atau berbasis kesadaran gerakan. Tanpa melepaskan ikatannya terhadap kesadaran reversibel gerakan.

Platform “lulusan sekolah” KAMMI ditempatkan sebagaimana Paradigma Gerakan KAMMI. Dalam diskusi Ruang Temu KAMMI disebutkan bahwa Paradigma Gerakan KAMMI sendiri mengalami elaborasi diksi misalkan Dakwah Tauhid elaborasi dari gagasan Amien Rais, Intelektual Profetik elaborasi dari gagasan Kuntowijoyo, Sosial Independen elaborasi dari gagasan Mansour Fakih, dan Politik Ekstra Parlementer elaborasi dari gagasan Antonio Gramsci. Akan tetapi Paradigma Gerakan KAMMI diharapkan mengalami perluasan makna tidak ditempatkan secara tunggal semisal intelektual profetik ditunggalkan dalam gagasan Kuntowijoyo. Diksi-diksi dalam Paradigma Gerakan KAMMI pun dibuat tidak menggunakan bahasa-bahasa khas dari Ikhwan. Paradigma Gerakan KAMMI diharapkan menjadikan KAMMI menjadi lebih lentur sekaligus menjadikan sebagai batasan. Bila kita baca secara terbuka bahwa Paradigma Gerakan KAMMI secara aspek praksis dengan inspirasi literatur dari Antonio Gramsci membuat Paradigma Gerakan mengharapkan membentuk adanya Intelektual Organik.

Disebutkan secara mendasar arah yang paling kuat dalam menghadirkan Paradigma Gerakan KAMMI adalah penguatan keilmuan dan profesi (akademik) sekaligus organik. Bergerak dalam keilmuan dan kompetensi sekaligus bergerak dalam gerakan sosial. Saat ini misalkan banyak anak muda yang bergerak berdasarkan studi. Sedangkan harapan gagasan Paradigma Gerakan KAMMI, bergerak sebagai basis gerakan. Perluasan makna gerakan menjadi penting. Sebaliknya yang berbasis studi (kompetensi keilmuan) perlu diberikan sentuhan gerakan. Hal ini sebagai landasan yang memungkinkan mengalahkan heroisme dalam melawan negara (demonstrasi). Adanya klaster-klaster kompetensi, profesi, keminatan yang membumi yang tidak menjaga jarak dengan masyarakat sipil sekaligus sebagai gerakan. Semacam gagasan intelektual organik yang mengambil permasalahan dari akar rumput kemudian diekstraksi dan dipecahkan oleh kaum intelektual.

Jangkar dari Paradigma Gerakan KAMMI adalah intelektual yang berpihak, menghadirkan tauhid yang berpihak sekaligus emansipasi. Selain itu, intelektual sendiri saat ini telah mengalami distorsi dan peyorasi. Sebut saja saat ini berapa banyak kaum “intelektual” yang terlibat dengan kekuasaan yang kuat daya tahannya. Rata-rata telah mengalami distorsi dan konsistensi menjadi berkurang. Seberapa kuat daya lenting kader dengan tetap mempertahankan naluri Paradigma Gerakan KAMMI entah sebagai politisi entah dari partai apapun, birokrat atau profesi lainnya. Paradigma Gerakan KAMMI ini sebagai sublimasi dari kesadaran kader KAMMI. Sebagai kesadaran dari transformasi emosional KAMMI yakni Dakwah Tauhid dan Intelektual Profetik.

Kepeloporan juga bisa ditempatkan sebagai kesadaran intelektual organik sebagai tujuan perluasan dari paradigma gerakan KAMMI yang dipadukan dalam gerakan pemberdayaan. Kepeloporan merupakan keharusan resiliensi gerakan KAMMI yang beriringan dengan kesadaran historis gerakan, kesadaran ideologisasi, kesadaran program gerakan, adaptasi gerakan terhadap lokomotif gerakan serta kesadaran reversibel gerakan terkait komitmen gerakan.

Posting Komentar

0 Komentar