Langit Senja dan Laut Biru

Serial Penjelajah Cerita
M. Sadli Umasangaji


Langit Senja dan Laut Biru





Leluhur Pria Kayu terbayang atas kejadian sebelumnya. Ketika Langit Senja sedang berbaring di rumput di pinggir sungai, ada seorang penduduk desa yang merasa kesulitan, kesulitan dalam menebang pohon untuk membuat jalan menuju kebun. Langit Senja dengan sikap yang selalu riang membantu penduduk desa itu dalam menebang pohon.

            Pekerjaan telah selesai dilakukan. “Kakak apa maksudnya ini?” tanya Langit Senja ketika melihat penduduk desa yang membantu tadi ditangkap dan tangannya diikat oleh Laut Biru dan beberapa Murid Pria Kayu. “Dia telah menebang pohon yang dianggap miliknya sendiri, padahal itu bukan miliknya. Dia telah berbuat kejahatan,” kata Laut Biru sambil menatap balik ke arah Langit Senja.

            “Kau juga bersalah Langit Senja,” kata Laut Biru.

            “Aku juga bersalah?” lirih Langit Senja.

            “Kau mudah ditipu dengan sikap kebaikan naifmu pada orang.”

            Langit Senja masih terdiam. Dan Laut Biru lanjut berkata, “Kau sudah tertipu oleh orang ini untuk membantunya melakukan penebangan pohon.”

            “Penebangan pohon di desa ini adalah perkara terlarang dan mendaku itu milik sendiri padahal semua pohon yang ada adalah milik bersama di desa,” tegas Laut Biru.

            “Aku menebang sebagai bahan yang akan dijual untuk dijadikan biaya pengobatan bagi ibuku,” kata penduduk desa ini yang terisak-isak. “Maafkan aku, Langit Senja, karena telah melibatkanmu dalam urusan ini,” penduduk desa ini meminta maaf pada Langit Senja.

            “Mengapa kau tak berkata yang sebenarnya? Kalau ibumu sakit aku akan mencari jalan lain untuk membantumu,” kata Langit Senja pada penduduk desa ini.

            “Hukuman tetaplah hukuman,” tegas Laut Biru

            “Laut Biru tapi bukankah ini sudah keterlaluan?” kata Langit Senja meminta persetejuan pada Leluhur Pria Kayu untuk membantunya atas sikap Laut Biru.

            “Semua orang pernah melakukan kesalahan. Penilaian terhadap seseorang harus dilakukan dengan pertimbangan secara hati-hati,” Leluhur Pria Kayu bantu menengahi.

            “Aku mengerti ayah. Tapi kejahatan yang telah dilakukan harus dibalas dengan hukuman yang setimpal,” kata Laut Biru. “Hal itu untuk mencegah sikap kejahatan lagi di masa depan,” lanjut Laut Biru. Langit Senja dan ayah mereka, Leluhur Pria Kayu hanya bisa terdiam. Tak bisa membantah lagi Laut Biru. Laut Biru semakin menghadirkan sikap angguh walaupun kelihatan tegas, tapi ketidakpedulian dasar pada penduduk desa karena kehebatannya.

            “Tapi orang ini tidak memiliki niat kejahatan kakak?” kata Langit Senja lagi.

            Laut Biru masih dengan keangguhan, “Hukuman tetaplah hukuman.”

            Tapi penduduk desa ini akhirnya berhasil dilepaskan karena keberanian Langit Senja dalam melawan Laut Biru. Hanya saja setelah kejadian-kejadian ini, Laut Biru makin angguh karena kehebatannya.

            Di suatu waktu, Leluhur Pria Kayu bercakap-cakap dengan Langit Senja, “Kau sangat bertolak belakang dengan Laut Biru.”

“Laut Biru memang hebat. Dia bisa melakukan apa saja sendirian, dia juga memiliki kehebatan dalam banyak hal,” kata Langit Senja yang masih tetap mengagumi Laut Biru.

            “Justru itulah masalahnya. Karena kehebatannya, dia jadi buta dengan pandangan-pandangan di sekitarnya,” kata Leluhur Pria Kayu. Laut Biru dipandang telah menyimpang dari filosofi desa. Karena perasaan semu terhadap kehebatannya.

 

#

 

            Dalam perjalanan menuju desa yang dimisikan Leluhur Pria Kayu, Langit Senja sudah membenamkan dalam diri bahwa ia tidak akan balik ke desa dengan begitu Laut Biru akan ditetapkan sang ayah untuk menjadi Pemimpin Desa. Langit Senja bertemu dengan teman lama yang ia bantu dulu dalam penebangan pohon. Teman itu akan membantunya dalam perjalanan ke desa itu.

            Langit Senja maupun Laut Biru berhasil sampai ke desa masing-masing. Kedua desa memiliki masalah yang sama yakni kekeringan dan terpaksa mengambil air dari aliran air yang beracun. Hal ini menyebabkan orang-orang di dua desa tersebut sebagiannya terkena penyakit. Laut Biru menyelesaikan permasalahan desa dengan kehebatannya. Tanpa kompromi dan tanpa bicara dengan orang-orang desa, dia membangun sumur baru dengan kekuatannya sendiri. Dengan tatapan angkuh Laut Biru, “Kurasa kalian tak akan capai kesepakatan.”

            “Biar aku yang menyelesaikan semua urusan sumur sendiri,” kata Laut Biru. Penduduk desa hanya kagum dengan cara penyelesaiannya tapi di relung hati mereka, perasaan terpaksa dan tertindas mendera mereka atas sikap Laut Biru yang penuh intimidasi.

            Langit Senja pun datang ke desa, mula-mula ia menemui petuah desa. Melihat kondisi sekitar, banyak orang yang menderita kekeringan dan beberapa penyakit menyertai karena aliran air yang beracun. Ia bersama temannya berusaha membantu. Langit Senja membuat berbagai ramuan untuk membantu penduduk desa.

“Aku diminta ayahku untuk membantu perbaiki aliran sungai yang tercemar itu,” kata Langit Senja pada Tetua Desa itu.

“Aliran sungai itu tercemar karena kerusakan alam dari ulah-ulah manusia yang jahat,” kata Tetua Desa. “Sebelum aliran sungai itu ada, kami hidup dengan dilanda gersang dan tandus. Kami dilanda kekeringan yang panjang.”

“Kami terus mencari aliran sungai yang bisa kami jangkau. Kami menemukannya walau ternyata aliran sungai itu tercemar. Aliran air itu membuat beberapa penduduk desa juga sakit,” kata Tetua Desa itu lagi.

Kemudian Langit Senja mencoba membuat sumur karena kekuatannya yang tidak terlalu hebat, ia memerlukan waktu lama dan perlu susah payah. Penduduk desa melihat awalnya mereka tak percaya itu bisa. Karena mereka telah berkali-kali mencoba membuat sumur tapi hasilnya sama, air susah ditemukan hanya bebatuan yang mereka temui. “Kita mungkin perlu menggali lebih dalam lagi,” kata Langit Senja pada beberapa penduduk desa.

“Sumur akan mengganti aliran air yang beracun itu sebagai sumber air.” Penduduk desa pun akhirnya membantu Langit Senja. Langit Senja berbaur dengan penduduk desa.

Laut Biru telah kembali ke desa. Tapi sang Ayah, Leluhur Pria Kayu tidak juga mengambil ketetapan. Ia merasa perlu menunggu hingga Langit Senja tiba kembali baru ia menetapkan keputusannya. Ia ingin melihat cara mereka dalam mengambil keputusan. Ia mengenang kedua anaknya, “Kemampuan Laut Biru sangat luar biasa. Tapi ia terlalu cepat dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan suatu masalah. Ia penuh intimidasi dan tergesa-gesa tanpa mendengar pendapat orang lain.”

            “Langit Senja sangat baik terhadap orang lain, tapi ia selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Aku harap perjalanan ini akan membantu membuat mereka bertumbuh menjadi lebih dewasa dan saling membantu satu sama lain,” kenang dan harap Leluhur Pria Kayu lagi.

 

Laut Biru kembali dan sang Ayah berkata, “Jadi bagaimana hasilnya?”

 

“Aku sudah menyelesaikan masalah desa sesuai yang ayah perintahkan,” kata Laut Biru.

Sang Ayah menatap dan berkata, “Apakah ada masalah?”

“Tak ada, dan desa kembali damai,” kata Laut Biru.

“Kalau begitu kita akan tunggu hingga Langit Senja kembali. Dan aku akan menetapkan pilihan,” tutup Pria Kayu.

 

Waktu terus berjalan. Musim berganti musim. Langit Senja tak kunjung tiba. Hingga suatu waktu, terlihat jauh disana ada beberapa orang menuju desa ini. “Langit Senja datang. Ia datang dengan beberapa orang,” kata salah seorang penduduk desa.

“Apakah ayah belum tetapkan Laut Biru sebagai Pimpinan Desa?” tanya Langit Senja dengan wajah kaget kepada beberapa penduduk desa.

Kemudian ternyata Leluhur Pria Kayu mengumpulkan mereka berdua dan beberapa penduduk desa. Semua dengan raut muka serius. Menanti keputusan dari Pria Kayu. “Sekarang telah aku putuskan yang akan menjadi pemimpin desa,” Leluhur Pria Kayu berhenti sejenak dan menatap mereka berdua. “Langit Senja. Kau yang akan menjadi pemimpin desa,” tegas Leluhur Pria Kayu. Langit Senja dan Laut Biru dengan tatapan kaget. Begitu juga penduduk desa.

“Kenapa ayah? Aku tak memiliki kehebatan yang kuat ayah dibandingkan Laut Biru,” kata Langit Senja menggugat keputusan Leluhur Pria Kayu.

“Tolong berikan alasannya ayah. Aku tak puas dengan keputusanmu,” kata Langit Senja kembali.

“Keputusanku sudah bulat. Berdasarkan informan yang ku kirim ke masing-masing desa. Desa yang ditangani Laut Biru sekarang diambang kehancuran. Setelah Laut Biru pergi para penduduk desa saling memperebutkan hak atas sumur yang dibangun itu. Akhirnya menghancurkan mereka sendiri,” Leluhur Pria Kayu memberi penjelasan.

Leluhur Pria Kayu masih terus berbicara, “Kebahagiaan yang didapat dengan cara intimidasi sendiri akan mudah rapuh.” Leluhur Pria Kayu kemudian menatap Laut Biru, “Berbeda dengan cara Langit Senja dia bekerja sama dengan penduduk desa dan bersama-sama menghadirkan jalan kebahagiaan bersama. Kebahagiaan yang dibangun bersama akan tumbuh saling menguatkan.”

Laut Biru marah tak bisa menerima segala keputusan. Dia lari meninggal semuanya. Tinggalkan desa.

Nursi yang mendengar kisah Leluhur Pria Kayu pun termenung, laut yang biru kadang indah dan mengagumkan tapi amarahnya atas keindahannya menghasilkan amukan yang hampa. Lambat-lambat langit senja yang berwarna jingga itu terlihat sangat mempesona.

 

#

 

            Khas, rupa dan keadaan akan terus hadir. Orang-orang akan disebut sebagai orang-orang Langit Senja dan Orang-orang Laut Biru. Nursi telah kembali di tengah-tengah Kerajaan, Penjelajah Cerita berlanjut disini. Disini, Nursi kembali melihat Orang-Orang Langit Senja dan Orang-Orang Laut Biru di masa kini bisa saling berdebat. Di lain kisah Orang-Orang Laut Biru adalah pecahan dari Orang-Orang Langit Senja.

            Di kisah lampau juga, ada juga Orang-Orang Laut Biru yang Merah Perjuangan seperti pria muda yang pernah memimpin partai ketika usianya masih 30-an tahun. Ia memimpin partai berhaluan kiri di Kerajaan. Ia bahkan hanya memerlukan waktu setahun untuk melambungkan partai berhaluan kiri ini. Partainya menjadi sejajar dengan partai-partai haluan kiri dari Negeri Tabir Bambu ataupun Negeri Bendera Merah Polos.

            Orang-Orang Langit Senja seperti pria tua yang jenius dan ramah. Dia kadang disebut puritan. Tapi kadang orang-orang yang disebut lurus bukan berarti tak miliki pesona. Ia memiliki keteladanan yang sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan. Ia adalah petinggi ‘kerajaan’ di masa-masa itu. Tapi pernah ia hanya memakai kemeja bertambalan. Ia bersih, tajam, dan konsisten dengan sikap yang diambil. Ia memilih bersahaja.

            Masa-masa itu Pria Tua Langit Senja dan Orang-Orang Laut Biru bisa berdebat panjang soal urusan-urusan awal dari kemajuan kerajaan. Mereka bahkan seakan-akan bisa hampir berkelahi. Tapi ketika selesai urusan-urusan perdebatan itu, mereka bisa saling membawa secangkir kopi untuk berbincang lepas tanpa ada rasa benci yang menyertai. Bahkan sekali waktu ketika Pria Tua Langit Senja itu hendak pulang menunggu kendaraan becak datang, Pria Muda Laut Biru lewat menggunakan sepedanya dan berkata, “Bung Langit Senja, sini saya gonceng pulang.”

           






Posting Komentar

0 Komentar