Langit Senja dan Laut Biru
Leluhur Pria Kayu terbayang atas kejadian sebelumnya. Ketika Langit Senja sedang berbaring di rumput di pinggir sungai, ada seorang penduduk desa yang merasa kesulitan, kesulitan dalam menebang pohon untuk membuat jalan menuju kebun. Langit Senja dengan sikap yang selalu riang membantu penduduk desa itu dalam menebang pohon.
Pekerjaan telah selesai dilakukan.
“Kakak apa maksudnya ini?” tanya Langit Senja ketika melihat penduduk desa yang
membantu tadi ditangkap dan tangannya diikat oleh Laut Biru dan beberapa Murid
Pria Kayu. “Dia telah menebang pohon yang dianggap miliknya sendiri, padahal
itu bukan miliknya. Dia telah berbuat kejahatan,” kata Laut Biru sambil menatap
balik ke arah Langit Senja.
“Kau juga bersalah Langit Senja,”
kata Laut Biru.
“Aku juga bersalah?” lirih Langit
Senja.
“Kau mudah ditipu dengan sikap
kebaikan naifmu pada orang.”
Langit Senja masih terdiam. Dan Laut
Biru lanjut berkata, “Kau sudah tertipu oleh orang ini untuk membantunya
melakukan penebangan pohon.”
“Penebangan pohon di desa ini adalah
perkara terlarang dan mendaku itu milik sendiri padahal semua pohon yang ada
adalah milik bersama di desa,” tegas Laut Biru.
“Aku menebang sebagai bahan yang
akan dijual untuk dijadikan biaya pengobatan bagi ibuku,” kata penduduk desa
ini yang terisak-isak. “Maafkan aku, Langit Senja, karena telah melibatkanmu
dalam urusan ini,” penduduk desa ini meminta maaf pada Langit Senja.
“Mengapa kau tak berkata yang
sebenarnya? Kalau ibumu sakit aku akan mencari jalan lain untuk membantumu,”
kata Langit Senja pada penduduk desa ini.
“Hukuman tetaplah hukuman,” tegas
Laut Biru
“Laut Biru tapi bukankah ini sudah
keterlaluan?” kata Langit Senja meminta persetejuan pada Leluhur Pria Kayu
untuk membantunya atas sikap Laut Biru.
“Semua orang pernah melakukan
kesalahan. Penilaian terhadap seseorang harus dilakukan dengan pertimbangan
secara hati-hati,” Leluhur Pria Kayu bantu menengahi.
“Aku mengerti ayah. Tapi kejahatan
yang telah dilakukan harus dibalas dengan hukuman yang setimpal,” kata Laut
Biru. “Hal itu untuk mencegah sikap kejahatan lagi di masa depan,” lanjut Laut
Biru. Langit Senja dan ayah mereka, Leluhur Pria Kayu hanya bisa terdiam. Tak
bisa membantah lagi Laut Biru. Laut Biru semakin menghadirkan sikap angguh
walaupun kelihatan tegas, tapi ketidakpedulian dasar pada penduduk desa karena
kehebatannya.
“Tapi orang ini tidak memiliki niat
kejahatan kakak?” kata Langit Senja lagi.
Laut Biru masih dengan keangguhan,
“Hukuman tetaplah hukuman.”
Tapi penduduk desa ini akhirnya
berhasil dilepaskan karena keberanian Langit Senja dalam melawan Laut Biru.
Hanya saja setelah kejadian-kejadian ini, Laut Biru makin angguh karena
kehebatannya.
Di suatu waktu, Leluhur Pria Kayu
bercakap-cakap dengan Langit Senja, “Kau sangat bertolak belakang dengan Laut
Biru.”
“Laut
Biru memang hebat. Dia bisa melakukan apa saja sendirian, dia juga memiliki
kehebatan dalam banyak hal,” kata Langit Senja yang masih tetap mengagumi Laut
Biru.
“Justru itulah masalahnya. Karena
kehebatannya, dia jadi buta dengan pandangan-pandangan di sekitarnya,” kata
Leluhur Pria Kayu. Laut Biru dipandang telah menyimpang dari filosofi desa.
Karena perasaan semu terhadap kehebatannya.
#
Dalam perjalanan menuju desa yang
dimisikan Leluhur Pria Kayu, Langit Senja sudah membenamkan dalam diri bahwa ia
tidak akan balik ke desa dengan begitu Laut Biru akan ditetapkan sang ayah
untuk menjadi Pemimpin Desa. Langit Senja bertemu dengan teman lama yang ia
bantu dulu dalam penebangan pohon. Teman itu akan membantunya dalam perjalanan
ke desa itu.
Langit Senja maupun Laut Biru
berhasil sampai ke desa masing-masing. Kedua desa memiliki masalah yang sama
yakni kekeringan dan terpaksa mengambil air dari aliran air yang beracun. Hal
ini menyebabkan orang-orang di dua desa tersebut sebagiannya terkena penyakit.
Laut Biru menyelesaikan permasalahan desa dengan kehebatannya. Tanpa kompromi
dan tanpa bicara dengan orang-orang desa, dia membangun sumur baru dengan
kekuatannya sendiri. Dengan tatapan angkuh Laut Biru, “Kurasa kalian tak akan
capai kesepakatan.”
“Biar aku yang menyelesaikan semua
urusan sumur sendiri,” kata Laut Biru. Penduduk desa hanya kagum dengan cara
penyelesaiannya tapi di relung hati mereka, perasaan terpaksa dan tertindas
mendera mereka atas sikap Laut Biru yang penuh intimidasi.
Langit Senja pun datang ke desa,
mula-mula ia menemui petuah desa. Melihat kondisi sekitar, banyak orang yang
menderita kekeringan dan beberapa penyakit menyertai karena aliran air yang
beracun. Ia bersama temannya berusaha membantu. Langit Senja membuat berbagai
ramuan untuk membantu penduduk desa.
“Aku
diminta ayahku untuk membantu perbaiki aliran sungai yang tercemar itu,” kata
Langit Senja pada Tetua Desa itu.
“Aliran
sungai itu tercemar karena kerusakan alam dari ulah-ulah manusia yang jahat,”
kata Tetua Desa. “Sebelum aliran sungai itu ada, kami hidup dengan dilanda
gersang dan tandus. Kami dilanda kekeringan yang panjang.”
“Kami
terus mencari aliran sungai yang bisa kami jangkau. Kami menemukannya walau
ternyata aliran sungai itu tercemar. Aliran air itu membuat beberapa penduduk
desa juga sakit,” kata Tetua Desa itu lagi.
Kemudian
Langit Senja mencoba membuat sumur karena kekuatannya yang tidak terlalu hebat,
ia memerlukan waktu lama dan perlu susah payah. Penduduk desa melihat awalnya
mereka tak percaya itu bisa. Karena mereka telah berkali-kali mencoba membuat
sumur tapi hasilnya sama, air susah ditemukan hanya bebatuan yang mereka temui.
“Kita mungkin perlu menggali lebih dalam lagi,” kata Langit Senja pada beberapa
penduduk desa.
“Sumur
akan mengganti aliran air yang beracun itu sebagai sumber air.” Penduduk desa
pun akhirnya membantu Langit Senja. Langit Senja berbaur dengan penduduk desa.
Laut
Biru telah kembali ke desa. Tapi sang Ayah, Leluhur Pria Kayu tidak juga
mengambil ketetapan. Ia merasa perlu menunggu hingga Langit Senja tiba kembali
baru ia menetapkan keputusannya. Ia ingin melihat cara mereka dalam mengambil
keputusan. Ia mengenang kedua anaknya, “Kemampuan Laut Biru sangat luar biasa.
Tapi ia terlalu cepat dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan suatu
masalah. Ia penuh intimidasi dan tergesa-gesa tanpa mendengar pendapat orang
lain.”
“Langit Senja sangat baik terhadap
orang lain, tapi ia selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Aku harap
perjalanan ini akan membantu membuat mereka bertumbuh menjadi lebih dewasa dan
saling membantu satu sama lain,” kenang dan harap Leluhur Pria Kayu lagi.
Laut Biru kembali
dan sang Ayah berkata, “Jadi bagaimana hasilnya?”
“Aku sudah
menyelesaikan masalah desa sesuai yang ayah perintahkan,” kata Laut Biru.
Sang Ayah menatap
dan berkata, “Apakah ada masalah?”
“Tak ada, dan desa
kembali damai,” kata Laut Biru.
“Kalau begitu kita
akan tunggu hingga Langit Senja kembali. Dan aku akan menetapkan pilihan,”
tutup Pria Kayu.
Waktu
terus berjalan. Musim berganti musim. Langit Senja tak kunjung tiba. Hingga
suatu waktu, terlihat jauh disana ada beberapa orang menuju desa ini. “Langit
Senja datang. Ia datang dengan beberapa orang,” kata salah seorang penduduk
desa.
“Apakah
ayah belum tetapkan Laut Biru sebagai Pimpinan Desa?” tanya Langit Senja dengan
wajah kaget kepada beberapa penduduk desa.
Kemudian
ternyata Leluhur Pria Kayu mengumpulkan mereka berdua dan beberapa penduduk
desa. Semua dengan raut muka serius. Menanti keputusan dari Pria Kayu.
“Sekarang telah aku putuskan yang akan menjadi pemimpin desa,” Leluhur Pria
Kayu berhenti sejenak dan menatap mereka berdua. “Langit Senja. Kau yang akan
menjadi pemimpin desa,” tegas Leluhur Pria Kayu. Langit Senja dan Laut Biru
dengan tatapan kaget. Begitu juga penduduk desa.
“Kenapa
ayah? Aku tak memiliki kehebatan yang kuat ayah dibandingkan Laut Biru,” kata
Langit Senja menggugat keputusan Leluhur Pria Kayu.
“Tolong
berikan alasannya ayah. Aku tak puas dengan keputusanmu,” kata Langit Senja
kembali.
“Keputusanku
sudah bulat. Berdasarkan informan yang ku kirim ke masing-masing desa. Desa
yang ditangani Laut Biru sekarang diambang kehancuran. Setelah Laut Biru pergi
para penduduk desa saling memperebutkan hak atas sumur yang dibangun itu.
Akhirnya menghancurkan mereka sendiri,” Leluhur Pria Kayu memberi penjelasan.
Leluhur
Pria Kayu masih terus berbicara, “Kebahagiaan yang didapat dengan cara
intimidasi sendiri akan mudah rapuh.” Leluhur Pria Kayu kemudian menatap Laut
Biru, “Berbeda dengan cara Langit Senja dia bekerja sama dengan penduduk desa
dan bersama-sama menghadirkan jalan kebahagiaan bersama. Kebahagiaan yang
dibangun bersama akan tumbuh saling menguatkan.”
Laut
Biru marah tak bisa menerima segala keputusan. Dia lari meninggal semuanya.
Tinggalkan desa.
Nursi
yang mendengar kisah Leluhur Pria Kayu pun termenung, laut yang biru kadang
indah dan mengagumkan tapi amarahnya atas keindahannya menghasilkan amukan yang
hampa. Lambat-lambat langit senja yang berwarna jingga itu terlihat sangat
mempesona.
#
Khas, rupa dan keadaan akan terus
hadir. Orang-orang akan disebut sebagai orang-orang Langit Senja dan
Orang-orang Laut Biru. Nursi telah kembali di tengah-tengah Kerajaan,
Penjelajah Cerita berlanjut disini. Disini, Nursi kembali melihat Orang-Orang
Langit Senja dan Orang-Orang Laut Biru di masa kini bisa saling berdebat. Di
lain kisah Orang-Orang Laut Biru adalah pecahan dari Orang-Orang Langit Senja.
Di kisah lampau juga, ada juga Orang-Orang
Laut Biru yang Merah Perjuangan seperti pria muda yang pernah memimpin partai
ketika usianya masih 30-an tahun. Ia memimpin partai berhaluan kiri di Kerajaan.
Ia bahkan hanya memerlukan waktu setahun untuk melambungkan partai berhaluan
kiri ini. Partainya menjadi sejajar dengan partai-partai haluan kiri dari Negeri
Tabir Bambu ataupun Negeri Bendera Merah Polos.
Orang-Orang Langit Senja seperti
pria tua yang jenius dan ramah. Dia kadang disebut puritan. Tapi kadang
orang-orang yang disebut lurus bukan berarti tak miliki pesona. Ia memiliki
keteladanan yang sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan. Ia adalah petinggi
‘kerajaan’ di masa-masa itu. Tapi pernah ia hanya memakai kemeja bertambalan.
Ia bersih, tajam, dan konsisten dengan sikap yang diambil. Ia memilih
bersahaja.
Masa-masa itu Pria Tua Langit Senja dan Orang-Orang Laut Biru bisa berdebat panjang soal urusan-urusan awal dari kemajuan kerajaan. Mereka bahkan seakan-akan bisa hampir berkelahi. Tapi ketika selesai urusan-urusan perdebatan itu, mereka bisa saling membawa secangkir kopi untuk berbincang lepas tanpa ada rasa benci yang menyertai. Bahkan sekali waktu ketika Pria Tua Langit Senja itu hendak pulang menunggu kendaraan becak datang, Pria Muda Laut Biru lewat menggunakan sepedanya dan berkata, “Bung Langit Senja, sini saya gonceng pulang.”

Posting Komentar
0 Komentar