Langit Senja dan Laut Biru
Penjelajahan
cerita masih terus berlanjut. Nursi memang menembus ruang-ruang kisah,
ruang-ruang cerita, melampaui ruang dan waktu. Di Desa ini semua bermula. Pria
kayu itu berkata lirih, “Dunia memang akan selalu berselisih”. Desa ini
terbentuk ketika pria kayu itu hendak berbuat baik, dia memiliki niat baik.
Membantu orang-orang dalam membangun jembatan antara desa. Mengentaskan
beberapa jiwa yang terlantar dengan harta yang kosong. Menumbuhkan jiwa-jiwa
yang hampa karena pengalaman-pengalaman hidup mereka yang terlanjur menjadi
pencuri, perampok, dan penindas.
Kebaikan-kebaikan pria kayu itu
berbuah atas orang-orang yang ia bantu mau menjadi muridnya. Mereka kemudian
tumbuh bersama dan membangun sebuah desa. Setelah hidup beberapa tahun. Inilah
kisah yang kemudian diceritakan pria kayu pada Penjelajah Cerita, Nursi.
Penjelajahan cerita memang akan terus berlangsung.
Setelah kehidupan berjalan beberapa
tahun, pria kayu kemudian memiliki keturunan. Dua anak lelaki yang diberi nama,
Laut Biru dan Langit Senja. Laut Biru dan Langit Senja bertumbuh bersama.
Langit Senja sebagai adik memiliki kekaguman pada Laut Biru sebagai kakaknya.
Pada malam hari, Laut Biru selalu melahap buku dengan gembira. Sementara Langit
Senja kadang gusar dalam menikmati buku. Langit Senja seperti anak kecil
biasanya, lebih suka bermain dengan teman-teman, lebih suka ceria bersama
teman-teman, tidak terlalu suka berlatih, tidak terlalu riang dengan belajar.
Laut Biru adalah anak kecil yang terlampau dewasa, suka membantu menyelesaikan
perkara-perkara orang, membantu orang menyelesaikan masalah, bahkan ia lebih
memilih berlatih dan belajar ketimbang bermain. Menyendiri dalam berlatih dan
belajar kadang pilihan yang ia pilih. Laut Biru adalah panutan yang diharapkan
murid-murid Pria Kayu. “Laut Biru, tumbuh sebagai keturunan Pria Kayu yang kuat
dan bertanggung jawab,” kata Murid-Murid Pria Kayu.
“Dia sangat
disiplin dan memiliki mental yang kuat untuk membimbing yang lain,” kata salah
seorang Murid Pria Kayu tentang Laut Biru.
Bahkan Laut Biru adalah pencipta
dasar beberapa pemahaman. Pemahaman-pemahaman ini menjadi pengetahuan awal dan
perilaku dalam penyelesaian kehidupan-kehidupan sehari-hari di desa. Laut Biru
memang memiliki bakat alami.
Kehidupan
terus berlanjut. Langit Senja menyadari dirinya tanpa bakat alami tapi ia
tumbuh dengan kesadaran perdamaian dan ketenangan. Ketika berusia dewasa, Laut
Biru semakin menunjukkan kemampuannya, baik kecerdasan maupun kekuatan fisik.
Tapi satu hal yang terlintas di antara murid-murid Pria Kayu, mereka mulai merasakan
sikap Laut Biru yang angkuh. Langit Senja berbeda, kemampuan dan kecerdasannya
ditimpa secara perlahan, tapi sikap kesederhanaan dan merangkul semua orang
mulai tumbuh secara natural. Di lain sisi kekaguman Langit Senja pada Laut Biru
tetap seperti dulu.
“Terkadang aku
merasa Laut Biru menatap kita dengan penuh kebencian,” kata Murid-Murid Pria
Kayu sembari bekerja dan didengar Langit Senja. “Langit Senja lebih mudah
diajak bicara tapi sayang kemampuannya terlalu rendah dari Laut Biru,” kata
mereka melanjutkan.
Hingga dewasa, Langit Senja terus
mengagumi Laut Biru, kekaguman ini membuat Langit Senja terus menempah dirinya
untuk bisa menyamai Laut Biru. Langit Senja memiliki tekad dan cinta sebagai
prinsip-prinsip kemajuan. Laut Biru memiliki kekuatan dan kehebatan sebagai
penerus kepemimpinan desa. Langit Senja bahkan meyakini bahwa Laut Biru sebagai
kakaknya adalah orang yang tepat untuk memimpin desa ini selanjutnya.
Hingga suatu ketika saat Pria Kayu
memutuskan untuk siapa yang ditentukannya menjadi pemimpin desa selanjutnya.
“Laut Biru atau Langit Senja yang akan dipilih Tuan Pria Kayu?” kata
penduduk-penduduk desa. “Pasti Laut Biru yang akan dipilih, karena dia memiliki
kehebatan,” kata salah satu penduduk desa.
Pria Kayu menentukan untuk melihat
bagaimana kedua anaknya menyelesaikan beberapa permasalahan di desa lain.
“Kalian akan pergi ke dua desa masing-masing dan menyelesaikan permasalahan
desa di sana.”
“Setelah itu aku akan melihat
hasilnya dan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin desa ini,” kata Pria
Kayu di hadapan Laut Biru dan Langit Senja.
“Ayah, mengapa hal ini yang Ayah
tetapkan? Aku yakin Kakak Laut Biru lebih layak dariku,” Langit Senja mencoba
meminta penjelasan pada Pria Kayu.
Langit Senja masih menjelaskan, “Aku
tak punya kemampuan sehebat Laut Biru ayah. Aku lebih bersedia untuk membantu
Laut Biru sebagai pemimpin desa.”
“Ini sudah menjadi keputusanku.
Silahkan kalian berdua lakukan. Dan nanti akan aku tetapkan,” kata Pria Kayu.
Setelah itu, Pria Kayu merenung
sendiri, “Ini bukanlah ujian. Laut Biru adalah seseorang yang jenius. Tapi
karena kehebatannya dia tidak memiliki keyakinan akan cinta sebagai prinsip
perdamaian desa. Sedangkan Langit Senja memang memiliki kemampuan yang
terbatas. Tapi ia memiliki sifat kasih sayang dan cinta sebagai prinsip dasar.
Desa memerlukan kepastian kehebatan dan cinta. Dalam perjalanan ini, aku ingin
keduanya terus bertumbuh melatih kelemahan-kelemahan masing-masing.”
#
Pria Kayu terbayang atas kejadian
sebelumnya. Ketika Langit Senja sedang berbaring di rumput di pinggir sungai,
ada seorang penduduk desa yang merasa kesulitan, kesulitan dalam menebang pohon
untuk membuat jalan menuju kebun. Langit Senja dengan sikap yang selalu riang
membantu penduduk desa itu dalam menebang pohon.
Pekerjaan telah selesai dilakukan.
“Kakak apa maksudnya ini?” tanya Langit Senja ketika melihat penduduk desa yang
bantu tadi ditangkap dan tangannya diikat oleh Laut Biru dan beberapa Murid
Pria Kayu. “Dia telah melakukan menebang pohon yang dianggap miliknya sendiri,
padahal itu bukan miliknya. Dia telah berbuat kejahatan,” kata Laut Biru sambil
menatap balik kea rah Langit Senja.
“Kau juga bersalah Langit Senja,”
kata Laut Biru
“Aku juga bersalah?” lirih Langit
Senja
“Kau mudah ditipu dengan sikap
kebaikan naifmu pada orang”
Langit Senja masih terdiam. Dan Laut
Biru lanjut berkata, “Kau sudah tertipu oleh orang ini untuk membantunya
melakukan penebangan pohon.”
“Penebangan pohon di desa ini adalah
perkara terlarang dan mendaku itu milik sendiri padahal semua pohon yang ada
adalah milik bersama di desa”, tegas Laut Biru.
“Aku menebang sebagai bahan yang
akan dijual untuk dijadikan biaya pengobatan bagi ibuku,” kata penduduk desa
ini yang terisak-isak. “Maafkan aku, Langit Senja telah melibatkanmu dalam
urusan ini,” penduduk desa ini meminta maaf pada Langit Senja.
“Mengapa kau tak berkata yang
sebenarnya? Kalau ibumu sakit aku akan mencari jalan lain untuk membantumu,”
kata Langit Senja pada penduduk desa ini.
“Hukuman tetaplah hukuman,” tegas
Laut Biru
“Laut Biru tapi bukankah ini sudah
keterlaluan?” kata Langit Senja meminta persetejuan pada Pria Kayu untuk
membantunya atas sikap Laut Biru.
“Semua orang pernah melakukan
kesalahan. Penilaian terhadap seseorang harus dilakukan dengan pertimbangan
secara hati-hati,” Pria Kayu bantu menengahi.
“Aku mengerti ayah. Tapi kejahatan
yang telah dilakukan harus dibalas dengan hukuman yang setimpal,” kata Laut
Biru. “Hal itu untuk mencegah sikap kejahatan lagi di masa depan”, lanjut Laut
Biru. Langit Senja dan ayah mereka, Pria Kayu hanya bisa terdiam. Tak bisa
membantah lagi Laut Biru. Laut Biru semakin menimbulkan sikap angguh walaupun
kelihatan tegas, ketidakpedulian dasar pada penduduk desa karena kehebatannya.
“Tapi orang ini tidak memiliki niat
kejahatan kakak?” kata Langit Senja lagi.
Laut Biru masih dengan keangguhan,
“Hukuman tetaplah hukuman”.
Tapi penduduk desa ini akhirnya
berhasil dilepaskan karena keberanian Langit Senja dalam melawan Laut Biru.
Hanya saja setelah kejadian-kejadian ini, Laut Biru makin angguh karena
kehebatannya.
Di suatu waktu, Pria Kayu
bercakap-cakap dengan Langit Senja, “Kau sangat bertolak belakang dengan Laut
Biru.”
“Kakak
memang hebat. Dia bisa melakukan apa saja sendirian, dia juga memiliki
kehebatan dalam banyak hal”, kata Langit Senja yang masih tetap mengagumi Laut
Biru.
“Justru itulah masalahnya. Karena
kehebatannya, dia jadi buta dengan pandangan-pandangan di sekitarnya,” kata
Pria Kayu. Laut Biru dipandang telah menyimpang dari filosofi desa.
#
Dalam perjalanan menuju desa yang
dimisikan sang Pria Kayu, Langit Senja sudah membenamkan dalam diri bahwa ia
tidak akan balik ke desa dengan begitu sang Kakak Laut Biru akan ditetapkan
sang Ayah untuk menjadi pemimpin desa. Langit Senja bertemu dengan teman lama
yang ia bantu dulu dalam penebangan pohon. Teman itu akan membantunya dalam
perjalanan ke desa itu.
Langit Senja maupun Laut Biru
berhasil sampai ke desa masing-masing. Kedua desa memiliki masalah yang sama
yakni kekeringan dan terpaksa mengambil air dari aliran air yang beracun. Hal
ini menyebabkan orang-orang di dua desa tersebut sebagiannya terkena penyakit.
Laut Biru menyelesaikan permasalahan desa dengan kehebatannya. Tanpa kompromi
dan tanpa bicara dengan orang-orang desa, dia membangun sumur baru dengan
kekuatannya sendiri. Dengan tatapan angkuh Laut Biru, “Kurasa kalian tak akan
capai kesepakatan”.
“Biar aku yang menyelesaikan semua
urusan sumur sendiri”, lirih Laut Biru. Penduduk desa hanya kagum dengan cara
penyelesaiannya tapi di relung hati mereka, perasaan terpaksa dan tertindas
mendera mereka atas sikap Laut Biru yang penuh intimidasi.
Langit Senja datang ke desa,
mula-mula ia menemui petuah desa. Melihat kondisi sekitar, banyak orang yang
menderita kekeringan dan beberapa penyakit menyertai karena aliran air yang
beracun. Ia bersama temannya berusaha membantu. Langit Senja membuat berbagai
ramuan untuk membantu penduduk desa.
“Aku diminta
ayahku untuk membantu perbaiki aliran sungai yang tercemar itu,” kata Langit
Senja pada Tetua Desa itu.
“Aliran sungai itu
tercemar karena kerusakan alam dari ulah-ulah manusia yang jahat,” kata Tetua
Desa. “Sebelum aliran sungai itu ada, kami hidup dengan dilanda gersang dan
tandus. Kami dilanda kekeringan yang panjang.”
“Kami terus
mencari aliran sungai yang bisa kami jangkau. Kami menemukannya walau ternyata
aliran sungai itu tercemar. Aliran air itu membuat beberapa penduduk desa juga
sakit,” kata Tetua Desa itu lagi.
Kemudian
ia mencoba membuat sumur karena kekuatannya yang tidak terlalu hebat, ia
memerlukan waktu lama dan perlu susah payah. Penduduk desa melihat awalnya
mereka tak percaya itu bisa. Karena mereka telah berkali-kali mencoba membuat
sumur tapi hasilnya sama, air susah ditemukan hanya bebatuan yang mereka temui.
“Kita mungkin perlu menggali lebih dalam lagi”, kata Langit Senja pada beberapa
penduduk desa. “Sumur akan mengganti aliran air yang beracun itu sebagai sumber
air.” Penduduk desa pun akhirnya membantu Langit Senja. Langit Senja berbaur
dengan penduduk desa.
Laut
Biru telah kembali ke desa. Tapi sang Ayah, Pria Kayu tidak juga mengambil
ketetapan. Ia merasa perlu menunggu hingga Langit Senja tiba kembali baru ia
menetapkan keputusannya. Ia ingin melihat cara mereka dalam mengambil
keputusan. Ia mengenang kedua anaknya, “Kemampuan Laut Biru sangat luar biasa.
Tapi ia terlalu cepat dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan suatu
masalah. Ia penuh intimidasi dan tergesa-gesa tanpa mendengar pendapat orang
lain.”
“Langit Senja sangat baik terhadap
orang lain, tapi ia selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Aku harap
perjalanan ini akan membantu membuat mereka bertumbuh menjadi lebih dewasa dan
saling membantu satu sama lain”, kenang dan harap Pria Kayu lagi.
Laut Biru kembali
dan sang Ayah berkata, “Jadi bagaimana hasilnya?”
“Aku sudah
menyelesaikan masalah desa sesuai yang ayah perintahkan,” kata Laut Biru
Sang Ayah menatap
dan berkata, “Apakah ada masalah?”
“Tak ada, dan desa
kembali damai,” kata Laut Biru
“Kalau begitu kita
akan tunggu hingga Langit Senja kembali. Dan aku akan menetapkan pilihan,”
tutup Pria Kayu.
Waktu terus
perjalanan. Musim berganti musim. Langit Senja tak kunjung tiba.
Hingga suatu
waktu, terlihat jauh disana ada beberapa orang menuju desa ini. “Langit Senja
datang. Ia datang dengan beberapa orang,” kata salah seorang penduduk desa.
“Apakah ayah belum
tetapkan Kakak Laut Biru sebagai pimpinan desa?” tanya Langit Senja dengan
wajah kaget kepada beberapa penduduk desa.
Kemudian
ternyata Pria Kayu mengumpulkan mereka berdua dan beberapa penduduk desa. Semua
dengan raut muka serius. Menanti keputusan dari Pria Kayu. “Sekarang telah aku
putuskan yang akan menjadi pemimpin desa,” Pria Kayu berhenti sejenak dan
menatap mereka berdua. “Langit Senja. Kau yang akan menjadi pemimpin desa,”
tegas Pria Kayu. Langit Senja dan Laut Biru dengan tatapan kaget. Begitu juga
penduduk desa.
“Kenapa ayah? Aku
tak memiliki kehebatan yang kuat ayah dibandingkan kakak,” kata Langit Senja
menggugat keputusan Pria Kayu.
“Tolong berikan
alasannya ayah. Aku tak puas dengan keputusanmu,” kata Langit Senja kembali
“Keputusanku sudah
bulat. Berdasarkan informan yang ku kirim ke masing-masing desa. Desa yang
ditangani Laut Biru sekarang diambang kehancuran. Setelah Laut Biru pergi para
penduduk desa saling memperebutkan hak atas sumur yang dibangun itu. Akhirnya
menghancurkan mereka sendiri,” Pria Kayu memberi penjelasan.
Pria Kayu masih
terus berbicara, “Kebahagiaan yang didapat dengan cara intimidasi sendiri akan
mudah rapuh.” Pria Kayu kemudian menatap Laut Biru, “Berbeda dengan cara Langit
Senja dia bekerja sama dengan penduduk desa dan bersama-sama menghadirkan jalan
kebahagiaan bersama. Kebahagiaan yang dibangun bersama akan tumbuh saling
menguatkan.”
Laut Biru marah
tak bisa menerima segala keputusan. Dia lari meninggal semuanya. Tinggalkan
desa.
Nursi yang
mendengar kisah Pria Kayu pun termenung, laut yang biru kadang indah dan
mengagumkan tapi amarahnya atas keindahannya menghasilkan amukan yang hampa.
Lambat-lambat langit senja yang berwarna jingga itu terlihat sangat mempesona.
#
Khas, rupa dan keadaan akan terus
hadir. Orang-orang akan disebut sebagai orang-orang Langit Senja dan
Orang-orang Laut Biru. Nursi telah kembali di tengah-tengah Kerajaan, Penjelajahan
Cerita berlanjut disini. Disini, Nursi kembali melihat Orang-orang Langit Senja
dan Orang-Orang Laut Biru di masa kini bisa saling berdebat.
Orang-orang Laut Biru seperti pria
muda yang pernah memimpin partai ketika usianya masih 30-an tahun. Ia memimpin
partai berhaluan kiri di kerajaan. Ia bahkan hanya memerlukan waktu setahun
untuk melambungkan partai berhaluan kiri ini. Partainya menjadi sejajar dengan
partai-partai haluan kiri dari Tabir Bambu ataupun Negeri Bendera Merah Polos.
Orang-orang Langit Senja seperti
pria tua yang jenius dan ramah. Dia kadang disebut puritan. Tapi kadang
orang-orang yang disebut lurus bukan berarti tak miliki pesona. Ia memiliki
keteladanan yang sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan. Ia adalah petinggi
‘kerajaan’ di masa-masa itu. Tapi pernah ia hanya memakai kemeja bertambalan.
Ia bersih, tajam, dan konsisten dengan sikap yang diambil. Ia memilih
bersahaja.
Masa-masa itu orang-orang Langit
Senja dan orang-orang Laut Biru bisa berdebat panjang soal urusan-urusan awal
dari kemajuan kerajaan. Mereka bahkan seakan-akan bisa hampir berkelahi. Tapi
ketika selesai urusan-urusan perdebatan itu, mereka bisa saling membawa
secangkir kopi untuk berbincang lepas tanpa ada rasa benci yang menyertai.
Bahkan sekali waktu ketika orang-orang Langit Senja itu hendak pulang menunggu
kendaraan becak datang, orang-orang Laut Biru lewat menggunakan sepedanya dan
berkata, “Bung Langit Senja, sini saya bonceng pulang.”


Posting Komentar
0 Komentar