Bedah Karya Novel Orang-Orang Sederhana
Bedah
Karya Novel Orang-Orang Sederhana
FLP
Maluku Utara melalui Ketuanya M. Sadli Umasangaji yang memiliki karya Novel
Orang-Orang Sederhana mendapatkan dukungan dana dari Dana Indonesia Kementerian
Kebudayaan Anggaran Tahun 2025. FLP Maluku Utara tentu turut serta membantu
Sadli sebagai Ketua FLP Maluku Utara Periode 2026-2028 dalam melakukan kegiatan
desiminasi atau diskusi bedah karya. Desiminasi Karya Novel Orang-Orang
Sederhana dilakukan melalui diskusi dengan tema utama Sastra dalam Wajah Kultur
Masyarakat Maluku Utara. Desiminasi ini diisi oleh Rafli Marwan (Dosen
Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Khairun), Dr. Herman Oesman (Dosen
Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara) dan M. Sadli Umasangaji
sendiri sebagai penulis.
Rafli
Marwan yang merupakan Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Khairun
ini membahas topik tentang Karakteristik Sastra dalam Kultur Masyarakat Maluku
Utara. Rafli mengulas tentang sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan
adalah sastra lama, sastra rakyat, sastra daerah dan sastra tulis sebagai
sastra modern.
“Puisi
dalam sastra lisan antara lain Dalil Tifa, Dalil Moro, Dola Bololo dan Pandara.
Sedangkan prosa dalam sastra lisan adalah cerita rakyat,” tandas Rafli.
“Kisah
Boki Dehegila yang merupakan Antologi Cerita Rakyat Maluku Utara (2011) dimana
berisi 29 cerita rakyat dengan berbagai peristiwa, penokohannya bersifat
heroik, mengungkap asal usul kejadian objek tertentu, serta dominan memuat
pesan ekologi secara filosofis,” kata Rafli dalam mengulas Sastra dalam Cerita
Rakyat.
M.
Sadli Umasangaji yang merupakan penulis dari Novel Orang-Orang Sederhana ini
memulai dengan mengatakan “Bahwa saat ini banyak tren tentang sastra dengan isu
kedaerahan. Sastra dengan isu kedaerahan adalah karya sastra yang mengangkat
realitas sosial, sejarah, budaya, atau mitos dari suatu wilayah tertentu.
Maluku Utara merupakan daerah yang kaya akan sejarah dan budaya, sejarah
rempah, sejarah perang, sejarah kesultanan, dan berbagai konteks kepulauan
serta fenomena pertambangan.”
“Novel
Orang-Orang Sederhana lahir bermula dari seorang kawan yang menceritakan
tentang kehidupan yang agak susah ketika kuliah dan kehidupannya sendiri,
kemudian selama bertugas di Halmahera bagian Timur, sekitar 2014, saya melihat
berbagai fenomena tambang dan berbagai kondisi dan pekerjanya. Serta keinginan
saya untuk menceritakan tentang fenomena Maluku Utara di tengah-tengah
kegirangan membaca ide-ide sosialisme dan negara kesejahteraan. Selain itu,
karena kesukaan saya pada kesukaan pada sastra, novel, dunia aktivisme, dan
jalan sunyi, mentalitet korea serta jalan melenting,” Sadli dalam mengulas
novelnya.
Orang-Orang
Sederhana menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, pemikiran, dan
kemanusiaan—serta menjadi pengingat bahwa dalam kesederhanaan, selalu ada
kekuatan yang diam-diam bekerja mengubah dunia. Novel ini ditulis dengan niat
merekam realitas, menyuarakan kegelisahan, serta merawat harapan. Semoga setiap
cerita di dalamnya dapat menggugah kesadaran, menghadirkan refleksi, dan
menumbuhkan empati bagi para pembaca.
Dr.
Herman Oesman sebagai Dosen Universitas Muhammadiyah, mengulas tentang Fenomena
Sastra Maluku Utara dalam Perspektif Sosiologi Sastra. Dr. Herman memulai
dengan mengutip Robert Escarpit, Penulis Prancis, Sosiolog Sastra bahwa sastra
tidak dapat dipahami hanya melalui analisis teks semata. Sastra harus dilihat
sebagai “fakta sosial” yang hidup di tengah masyarakat.
Beliau
menguraikan dalam materinya, “Secara historis, masyarakat Maluku Utara memiliki
tradisi sastra lisan yang sangat kuat. Tradisi seperti legenda, dalil tifa,
dalil moro, syair adat, hikayat, mantra, dan cerita rakyat diwariskan secara
turun-temurun sebagai bagian dari sistem pengetahuan lokal.”
Sastra
di Maluku Utara hadir bukan sekadar sebagai ekspresi estetika, melainkan
sebagai medium untuk merekam ingatan kolektif masyarakat. Perkembangan sastra
di Maluku Utara memperlihatkan hubungan erat antara teks sastra dan realitas
sosial masyarakat. Sastra (lisan) di Maluku Utara dapat dipahami sebagai
“dokumen sosial” yang merepresentasikan struktur masyarakat. Sastra Maluku
Utara acap lahir dari pengalaman masyarakat yang hidup dalam situasi
keterpinggiran geografis dan ketimpangan pembangunan.
Karya
M. Sadli Umasangaji, Orang-Orang Sederhana, merupakan salah satu karya sastra
lokal yang lahir dari ketimpangan pembangunan yang ada di Maluku Utara.
Pengarang atau penulis di Maluku Utara tidak berdiri di ruang kosong, melainkan
dipengaruhi struktur sosial di sekitarnya. Pengalaman kolonial ikut membentuk
narasi tentang perlawanan, penderitaan, dan identitas masyarakat. Sastra Maluku
Utara kerap menghadirkan tema sejarah, memori, dan resistensi terhadap
kekuasaan.
“Sastra
bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi,
teknologi, dan kekuasaan budaya,” tutup Herman Oesman dalam materinya.
Kegiatan ini juga dilakukan pembagian novel Orang-Orang Sederhana.


Posting Komentar
0 Komentar