Puisi - Pulau Bahagia dan Miskin
Pulau Bahagia dan Miskin
M. Sadli Umasangaji
Mengapa
ia jadi pulau bahagia?
Di
tiap-tiap desanya banyak pohon kelapa
Berpuluh-puluh
pohon pala
Beramai-ramai
batang pohon cengkeh
Mereka
percaya
Dulu
orang-orang Eropa
Datang
ke sini merampas rempah-rempah
Para
pahlawan dari kesultanan mengusir penjajah itu
Pulau
ini sekarang pulau paling bahagia
Pulau
ini sekarang pulau pertumbuhan ekonomi tertinggi
Nilai
tertinggi dari pendulang tambang
Nilai
tertinggi dari pengkeruk nikel
Nilai
tertinggi dari industri pengolahan
Mereka
berkelakar mereka bahagia dalam kemiskinan
Pujian
Tuan Kita terlontarkan
Tuan
Kita bahkan juga pamer pada dunia
Dan
Om Desa melawan
Berkata
biar pajak daerah kami tak dibayar
Berkata
biar produk daerah kami tak dibeli
Berkata
biar lapisan pekerjaan masyarakatnya rendah
Berkata
biar rakyat kami hanya tenaga kerja buruh
Dan
di Pulau Sunyi ini kita berkata
Pulau
Sunyi kita telah jadi Pulau Paling Bahagia
Pulau
Paling Bahagia dan Pulau dengan nilai Tinggi
Pulau
Paling Bahagia tapi juga Pulau Nestapa
Mereka
menyebut kami bahagia
Bahagia
karena kondisi emosional
Tak
mudah kehilangan pekerjaan
Bahagia
karena kultur kami
Cenderung
egalitarian dan terbuka
Bahagia
karena geografis alam kami
Kami
dekat dengan gunung sekaligus laut
Bahagia
karena kami sering beribadah
Bahagia
karena kedekatan keluarga dan suku
Kembali
seperti sedia kala
Pendapatan
kami tertinggi kelima paling bawah
Harga
kopra naik turun
Potensi
perikanan masih belum maksimal
Dan
aku masih senang memandang laut
Dan
kantongku masih seperti itu setiap bulan
Seperti
kata menangispun tetap sederhana
Jadi
tersenyumlah di Pulau Sunyi
Puisi ini juga muat di Kumpulan Puisi Catatan Api
Kelas Menulis Langgam Institut
https://www.langgampustaka.com/produk/buku/puisi/catatan-api-id790.html


Posting Komentar
0 Komentar